Seks suami menyimpang, HIV/AIDS Kulonprogo meningkat
Sabtu, 01 Desember 2012 - 11:27 WIB
Seks suami menyimpang, HIV/AIDS Kulonprogo meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kulonprogon DIY mencapai 94 kasus. Mayoritas penderita perempuan produktif yang tertular karena perilaku suami yang menyimpang.
"Ini merupakan kasus komulatif yang cenderung bertambah," tutur Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Kulonprogo, Paulo Ngadi Cahyono, disela peringatan Hari Aids Sedunia di Alun-alun Wates, Sabtu (1/12/12).
Menurut Paulo, Kasus HIV/AIDS ini mulai ditemukan di Kulonprogo sejak 2007 silam. Melihat kasus yang menimpa perempuan, lanjut Paulo, maka program pencegahan dan penanganan banyak diarahkan bagi kaum hawa. Salah satunya dengan menggunakan program perlindungan anak dan perempuan, melalui PMTCT (Prevention mother to child tranfusion).
"Hingga kini belum ada kasus yang menimpa anak melalui tranfusi," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Bambang Haryatno mengaku butuh kesadaran dari masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan. Sebab penyakit ini mudah menular, baik itu melalui hubungan seks, tranfusi darah maupun transformasi dari ibu penderita kepada anaknya.
"Sudah ada 15 penderita yang aktif bergabung dengan dinas untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat," tegasnya.
"Ini merupakan kasus komulatif yang cenderung bertambah," tutur Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Kulonprogo, Paulo Ngadi Cahyono, disela peringatan Hari Aids Sedunia di Alun-alun Wates, Sabtu (1/12/12).
Menurut Paulo, Kasus HIV/AIDS ini mulai ditemukan di Kulonprogo sejak 2007 silam. Melihat kasus yang menimpa perempuan, lanjut Paulo, maka program pencegahan dan penanganan banyak diarahkan bagi kaum hawa. Salah satunya dengan menggunakan program perlindungan anak dan perempuan, melalui PMTCT (Prevention mother to child tranfusion).
"Hingga kini belum ada kasus yang menimpa anak melalui tranfusi," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Bambang Haryatno mengaku butuh kesadaran dari masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan. Sebab penyakit ini mudah menular, baik itu melalui hubungan seks, tranfusi darah maupun transformasi dari ibu penderita kepada anaknya.
"Sudah ada 15 penderita yang aktif bergabung dengan dinas untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat," tegasnya.
(rsa)