Fasilitas disabilitas masih minim
Kamis, 29 November 2012 - 20:25 WIB
Fasilitas disabilitas masih minim
A
A
A
Sindonews.com - Para disabilitas (orang dengan keterbatasan fisik) di Yogyakarta mengeluhkan masih minimnya fasilitas untuk mendukung kegiatan mereka. Baik yang ada di ruang publik maupun instansi.
Keterbatasan fasilitas ini, bukan saja menjadikan kurang lancarnya akses disabilitas, namun juga interaksi dengan masyarakat umum terganggu.
Ketua Foundation for Self Reliance for Disabled People (Fosdis) atau yayasan untuk penyandang cacat Yogyakarta Maria Muslimatum menjelaskan fasilitas yang masih minim tersebut di antaranya jalan khusus untuk disabilitas yang memakai kursi roda dan guiding block (penunjuk arah jalan) bagi disabilitas tuna netra.
“Padahal fasilitas itu sangat penting bagi disabilitas, terutama untuk kegiatan sehari-hari maupun kepentingan lainnya,” ungkap Maria di sela-sela penjelasan tentang rencana kegiatan hari disabilitas internasional kota Yogyakarta di aula Humas Pemkot Yogyakarta, Kamis (29/11/2012).
Menurut Maria, untuk guiding block di Yogyakarta hanya ada satu tempat, yaitu di Malioboro. Sayangnya tempat tersebut dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) dan parkir.
"Idealnya semua jalan di Yogyakarta harus ada guding block maupun fasilitas pendukung kegiatan disabilitas lainnya," tegasnya.
Sedangkan untuk akses jalan di instansi, meski sudah ada fasilitas, tetapi belum semua mendukung secara optimal untuk kegiatan disabilitas.
“Kami harapkan pemerintah memperhatikan masalah ini, sebab disabilitas juga seperti yang lainnya, butuh hiburan dan interaksi secara luas,” tandasnya.
Selain fasilitas, untuk lapangan kerja, juga masih terjadi pengkotak-kotakan. Terbukti belum banyak disabilitas yang bekerja di perkantoran, namun lebih mengembangkan usaha secara mandiri.
Untuk itu, para disbilitas mengharapkan dengan adanya peraturan daerah (perda) DIY No. 4/2012 tentang perlindungan dan pemenuhan hak-hak disabilitas, segera dapat diimplementasikan. Bukan hanya soal fasilitas namun juga hak-hak di masyarakat lainnya.
Keterbatasan fasilitas ini, bukan saja menjadikan kurang lancarnya akses disabilitas, namun juga interaksi dengan masyarakat umum terganggu.
Ketua Foundation for Self Reliance for Disabled People (Fosdis) atau yayasan untuk penyandang cacat Yogyakarta Maria Muslimatum menjelaskan fasilitas yang masih minim tersebut di antaranya jalan khusus untuk disabilitas yang memakai kursi roda dan guiding block (penunjuk arah jalan) bagi disabilitas tuna netra.
“Padahal fasilitas itu sangat penting bagi disabilitas, terutama untuk kegiatan sehari-hari maupun kepentingan lainnya,” ungkap Maria di sela-sela penjelasan tentang rencana kegiatan hari disabilitas internasional kota Yogyakarta di aula Humas Pemkot Yogyakarta, Kamis (29/11/2012).
Menurut Maria, untuk guiding block di Yogyakarta hanya ada satu tempat, yaitu di Malioboro. Sayangnya tempat tersebut dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) dan parkir.
"Idealnya semua jalan di Yogyakarta harus ada guding block maupun fasilitas pendukung kegiatan disabilitas lainnya," tegasnya.
Sedangkan untuk akses jalan di instansi, meski sudah ada fasilitas, tetapi belum semua mendukung secara optimal untuk kegiatan disabilitas.
“Kami harapkan pemerintah memperhatikan masalah ini, sebab disabilitas juga seperti yang lainnya, butuh hiburan dan interaksi secara luas,” tandasnya.
Selain fasilitas, untuk lapangan kerja, juga masih terjadi pengkotak-kotakan. Terbukti belum banyak disabilitas yang bekerja di perkantoran, namun lebih mengembangkan usaha secara mandiri.
Untuk itu, para disbilitas mengharapkan dengan adanya peraturan daerah (perda) DIY No. 4/2012 tentang perlindungan dan pemenuhan hak-hak disabilitas, segera dapat diimplementasikan. Bukan hanya soal fasilitas namun juga hak-hak di masyarakat lainnya.
(ysw)