Polisi lemah, kekerasan Jurnalis meningkat
Minggu, 25 November 2012 - 18:43 WIB
Polisi lemah, kekerasan Jurnalis meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi III DPR Eva Sundari menuding ketidaktegasan institusi adalah penyebab terjadinya kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang menimpa para jurnalis.
Dia melihat kasus terbunuhnya wartawan Metro Manado Aryono Linggotu (26) sebagai wujud lemahnya aparat kepolisian dalam menegakkan aturan hukum.
“Jika polisi terus begini (lemah) dan tidak berubah, akan terus bertambah jurnalis yang menjadi korban. Saat ini berarti sudah ada 11 kasus kekerasan dan pembunuhan yang menimpa jurnalis," ujar Eva di sela pertemuan dengan ratusan petani di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Minggu (25/11/2012).
Eva mengaku tidak hanya prihatin, namun sangat marah. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menuding polisi tidak pernah memiliki komitmen yang serius untuk memberi perlindungan profesi wartawan.
"Dalam sejumlah kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap wartawan, polisi tidak berani memberikan tindakan tegas kepada para pelaku. Ketidakseriusan inilah yang menjadikan angka kekerasan terhadap profesi wartawan terus meningkat. Lihat saja belum lama wartawan dianiaya oknum militer. Sekarang ada wartawan yang dibunuh," jelasnya.
Menurut Eva apa yang terjadi saat ini sebagai preseden buruk. Dengan banyaknya kasus kekerasan dan pembunuhan yang menimpa jurnalis, menunjukkan indeks kebebasan Pers di Negara Indonesia anjlok.
Pemerintah dan aparat penegak hukumnya, kata Eva dapat dikatakan tidak memiliki jaminan perlindungan terhadap profesi jurnalis.
“Kali ini saya menuntut polisi dan negara untuk bisa menungkap kasus ini sebenar-benarnya. Jika teroris saja mampu ditangkap, masa mengungkap kasus seperti ini tidak bisa," pungkasnya.
Sebelumnya, seorang wartwan Metro Manado Aryono ditemukan tewas dengan luka 14 tusukan di tubuhnya. Jasad anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado ini didapati terkapar di pinggir Jalan Daan Mogot 4 Kelurahan Tikala Baru, Kecamatan Tikala, Manado.
Dia melihat kasus terbunuhnya wartawan Metro Manado Aryono Linggotu (26) sebagai wujud lemahnya aparat kepolisian dalam menegakkan aturan hukum.
“Jika polisi terus begini (lemah) dan tidak berubah, akan terus bertambah jurnalis yang menjadi korban. Saat ini berarti sudah ada 11 kasus kekerasan dan pembunuhan yang menimpa jurnalis," ujar Eva di sela pertemuan dengan ratusan petani di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Minggu (25/11/2012).
Eva mengaku tidak hanya prihatin, namun sangat marah. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menuding polisi tidak pernah memiliki komitmen yang serius untuk memberi perlindungan profesi wartawan.
"Dalam sejumlah kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap wartawan, polisi tidak berani memberikan tindakan tegas kepada para pelaku. Ketidakseriusan inilah yang menjadikan angka kekerasan terhadap profesi wartawan terus meningkat. Lihat saja belum lama wartawan dianiaya oknum militer. Sekarang ada wartawan yang dibunuh," jelasnya.
Menurut Eva apa yang terjadi saat ini sebagai preseden buruk. Dengan banyaknya kasus kekerasan dan pembunuhan yang menimpa jurnalis, menunjukkan indeks kebebasan Pers di Negara Indonesia anjlok.
Pemerintah dan aparat penegak hukumnya, kata Eva dapat dikatakan tidak memiliki jaminan perlindungan terhadap profesi jurnalis.
“Kali ini saya menuntut polisi dan negara untuk bisa menungkap kasus ini sebenar-benarnya. Jika teroris saja mampu ditangkap, masa mengungkap kasus seperti ini tidak bisa," pungkasnya.
Sebelumnya, seorang wartwan Metro Manado Aryono ditemukan tewas dengan luka 14 tusukan di tubuhnya. Jasad anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado ini didapati terkapar di pinggir Jalan Daan Mogot 4 Kelurahan Tikala Baru, Kecamatan Tikala, Manado.
(rsa)