Agum Gumelar: Pelaku tawuran harus ditindak tegas
Kamis, 22 November 2012 - 17:15 WIB
Agum Gumelar: Pelaku tawuran harus ditindak tegas
A
A
A
Sindonews.com - Pelaku perkelahian pelajar harus ditindak. Tapi, tindakan yang dilakukan harus sesuai aturan. Jika pelaku tidak dapat diberikan peringatan, maka langkah efektif adalah memberikan sanksi tegas.
"Apapun alasannya mereka harus mendapat hukuman," kata Ketua Dewan Penyantun Universitas Pancasila Agum Gumelar saat mengisi acara Lokakarya dengan tema Prahara Tawuran: Problem dan Solusi di Kampus Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2012).
Dengan sanksi yang diberikan diharapkan dapat memberikan efek jera pada pelakunya. Maraknya perkelahian pelajar saat ini, banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin membuat situasi keamanan dimasyarakat menjadi tak terkendali.
"Semua pihak yaitu siswa, orangtua, guru, pemerintah harus menyadari hal tersebut," tuturnya.
Komunikasi intensif harus dilakukan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian. Selain itu, pemberitaan yang menimbulkan rasa benci terhadap satu sekolah. Pelajar sebaiknya diberikan ruang untuk menyalurkan hobi dan aktivitas. Misalnya untuk seni budaya dan olahraga.
"Pembangunan gedung olahraga ataupun bukan merupakan pemborosan, karena dengan beraktivitas di bidang seni dan olahraga para siswa dapat menyalurkan bakatnya," tegasnya.
Psikolog Universitas Indonesia (UI) Winarini Wilman D Mansoer menilai, ada kesalahan dalam menganani masalah tawuran. "Masalahnya adalah di kelompok siswa bukan di individu siswa. Jadi harus ditangani perilaku kelompok," katanya.
Tindakan tegas yang diambil sekolah harus diikuti oleh sekolah lainnya yang terlibat tawuran sehingga tidak hanya dari satu pihak saja.
Menurutnya, harus ada konsep kebersamaan antar kedua sekolah yang bertikai, jangan libatkan keduanya dalam kompetisi apapun termasuk olahraga. "Saat ini tawuran pelajar sudah menyebar keberbagai daerah seperti Purwakarta, Garut, Pantura, Manado dan lainnya," tutupnya.
"Apapun alasannya mereka harus mendapat hukuman," kata Ketua Dewan Penyantun Universitas Pancasila Agum Gumelar saat mengisi acara Lokakarya dengan tema Prahara Tawuran: Problem dan Solusi di Kampus Universitas Pancasila, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2012).
Dengan sanksi yang diberikan diharapkan dapat memberikan efek jera pada pelakunya. Maraknya perkelahian pelajar saat ini, banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin membuat situasi keamanan dimasyarakat menjadi tak terkendali.
"Semua pihak yaitu siswa, orangtua, guru, pemerintah harus menyadari hal tersebut," tuturnya.
Komunikasi intensif harus dilakukan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian. Selain itu, pemberitaan yang menimbulkan rasa benci terhadap satu sekolah. Pelajar sebaiknya diberikan ruang untuk menyalurkan hobi dan aktivitas. Misalnya untuk seni budaya dan olahraga.
"Pembangunan gedung olahraga ataupun bukan merupakan pemborosan, karena dengan beraktivitas di bidang seni dan olahraga para siswa dapat menyalurkan bakatnya," tegasnya.
Psikolog Universitas Indonesia (UI) Winarini Wilman D Mansoer menilai, ada kesalahan dalam menganani masalah tawuran. "Masalahnya adalah di kelompok siswa bukan di individu siswa. Jadi harus ditangani perilaku kelompok," katanya.
Tindakan tegas yang diambil sekolah harus diikuti oleh sekolah lainnya yang terlibat tawuran sehingga tidak hanya dari satu pihak saja.
Menurutnya, harus ada konsep kebersamaan antar kedua sekolah yang bertikai, jangan libatkan keduanya dalam kompetisi apapun termasuk olahraga. "Saat ini tawuran pelajar sudah menyebar keberbagai daerah seperti Purwakarta, Garut, Pantura, Manado dan lainnya," tutupnya.
(mhd)