Banjir Mamasa, 16 orang tewas
Jum'at, 09 November 2012 - 22:19 WIB
Banjir Mamasa, 16 orang tewas
A
A
A
Sindonews.com - Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, berduka cita. Belasan warganya yang bertempat tinggal di Dusun Kabanniran, Desa Batanguru Timur, Kecamatan Sumarorong, tewas setelah dilanda bencana alam tanah longsor yang mengakibatkan terjadinya banjir bandang.
Dari lokasi kejadian, sebuah perkampungan warga yang terletak dilereng pegunungan Kolong Lao itu, bablas disapu air dan bebatuan yang jatuh dari atas pegunungan.
Tercatat, tujuh rumah penduduk, tiga buah mobil, serta satu unit sepeda motor rusak parah setelah dihantam air dan batuan dalam peristiwa banjir bandang itu. Bahkan, jalan poros penghubung antara Tabone dan Nosu pun terputus.
Nahasnya lagi, korban jiwa yang ditimbulkan akibat peristiwa banjir bandang yang sebelumnya tercatat sebanyak 17 orang, bertambah menjadi 19 orang. Di antara korban tersebut, 13 orang sudah ditemukan dalam keadaan tewas, tiga orang ditemukan dalam keadaan selamat dengan kondisi kritis. Sementara, tiga orang lainnya hingga kini belum ditemukan.
Sementara itu, tiga korban lainnya yakni Wati (10), dan Rambulangi (26), serta seorang anak kecil, saat ini masih dirawat intensif di Puskesmas, Sumarorong.
Demikian dijelaskan, Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulbar, Abdul Jalil, saat ditemui di lokasi bencana, Jumat, (9/11/2012).
Dikatakan Jalil, terhadap korban yang belum ditemukan, tim SAR gabungan dari Badan SAR Nasinal (Basarnas) Makassar, Sulsel dan Mamuju, BPBD Sulbar dan Mamasa, aparat kepolisian dan TNI serta warga akan terus melakukan pencarian korban dan akan diarahkan ke sepanjang muara Sungai Batanguru.
“Pencarian dengan menyisir sepanjang aliran sungai akan dilakukan hingga waktu yang tidak ditentukan,” ujar Abdul Jalil.
Saat ini, tim SAR gabungan sudah menyurat ke Bupati Mamasa untuk mengeluarkan keputusan masa waktu siaga bencana atau pencarian korban yang belum ditemukan.
Tim SAR mengusulkan selama sepekan akan melakukan pencarian korban. Namun, jika korban yang belum ditemukan itu ternyata berhasil ditemukan kurang dari satu minggu, maka pencarian akan dihentikan. Begitupun sebaliknya, jika melebihi satu minggu, tim SAR akan akan memperpanjang masa siaga bencana tersebut.
Sementara itu, terkait dengan kucuran dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat sebesar Rp300 juta tim SAR dalam melakukan pencarian, Abdul Jalil mengaku belum mengetahui. Namun, pihaknya sudah menyampaikan informasi tersebut ke BNPB untuk diketahui.
“Belum ada informasi dari pusat. Nanti besok dicek. Saya belum bisa katakana ada kalau belum ada informasi dari pusat,” jelas Jalil.
Hal yang sama disampaikan oleh Komandan Kodim 1402 wilayah Polewali Mamasa, Yudhi Murfi. Dalam pencarian para korban, pihaknya bersama kepolisian akan mengarahkan anggotanya untuk membantu melakukan pencarian para korban yang belum ditemukan.
Pantauan dilokasi kejadian, satu unit alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk melakukan pembersihan batuan besar yang melintang di jalan sisa longsoran akibat bencana itu.
Sebelumnya diberitakan, peristiwa banjir bandang itu terjadi sekitar pukul 16.30 WITA, di dusun Kabannitan, Desa Batanguru Timur, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa.
Peristiwa itu terjadi setelah hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Sumarorong, dan mengakibatkan air di Sungai Uru meluap. Luapan air tersebut menghantam permukiman warga yang ada di sekitar Sungai Uru, setelah sebuah cekdamp (penampungan air) jebolnya. Bendungan tradisional itu sendiri jebol setelah terjadi longsor.
Sekretaris Kabupaten (Sekab) Polman, Benhard Buntutiboyong, yang ditemui dilokasi bencana mengatakan, atas nama pemerintah kabupaten Mamasa, turut berduka cita atas bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa serta merusak rumah warga.
“Hari ini, Pemkab Mamasa telah berduka cita atas bencana yang telah melanda daerah kami,” kata Benhard.
Dia mengatakan, atas peristiwa tersebut, Pemkab akan berupaya semaksimal mungkin untuk membantu para korban bencana alam. Khususnya dalam pencarian korban yang belum ditemukan, serta bantuan lain seperti bahan makanan untuk para korban.
Dari lokasi kejadian, sebuah perkampungan warga yang terletak dilereng pegunungan Kolong Lao itu, bablas disapu air dan bebatuan yang jatuh dari atas pegunungan.
Tercatat, tujuh rumah penduduk, tiga buah mobil, serta satu unit sepeda motor rusak parah setelah dihantam air dan batuan dalam peristiwa banjir bandang itu. Bahkan, jalan poros penghubung antara Tabone dan Nosu pun terputus.
Nahasnya lagi, korban jiwa yang ditimbulkan akibat peristiwa banjir bandang yang sebelumnya tercatat sebanyak 17 orang, bertambah menjadi 19 orang. Di antara korban tersebut, 13 orang sudah ditemukan dalam keadaan tewas, tiga orang ditemukan dalam keadaan selamat dengan kondisi kritis. Sementara, tiga orang lainnya hingga kini belum ditemukan.
Sementara itu, tiga korban lainnya yakni Wati (10), dan Rambulangi (26), serta seorang anak kecil, saat ini masih dirawat intensif di Puskesmas, Sumarorong.
Demikian dijelaskan, Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulbar, Abdul Jalil, saat ditemui di lokasi bencana, Jumat, (9/11/2012).
Dikatakan Jalil, terhadap korban yang belum ditemukan, tim SAR gabungan dari Badan SAR Nasinal (Basarnas) Makassar, Sulsel dan Mamuju, BPBD Sulbar dan Mamasa, aparat kepolisian dan TNI serta warga akan terus melakukan pencarian korban dan akan diarahkan ke sepanjang muara Sungai Batanguru.
“Pencarian dengan menyisir sepanjang aliran sungai akan dilakukan hingga waktu yang tidak ditentukan,” ujar Abdul Jalil.
Saat ini, tim SAR gabungan sudah menyurat ke Bupati Mamasa untuk mengeluarkan keputusan masa waktu siaga bencana atau pencarian korban yang belum ditemukan.
Tim SAR mengusulkan selama sepekan akan melakukan pencarian korban. Namun, jika korban yang belum ditemukan itu ternyata berhasil ditemukan kurang dari satu minggu, maka pencarian akan dihentikan. Begitupun sebaliknya, jika melebihi satu minggu, tim SAR akan akan memperpanjang masa siaga bencana tersebut.
Sementara itu, terkait dengan kucuran dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat sebesar Rp300 juta tim SAR dalam melakukan pencarian, Abdul Jalil mengaku belum mengetahui. Namun, pihaknya sudah menyampaikan informasi tersebut ke BNPB untuk diketahui.
“Belum ada informasi dari pusat. Nanti besok dicek. Saya belum bisa katakana ada kalau belum ada informasi dari pusat,” jelas Jalil.
Hal yang sama disampaikan oleh Komandan Kodim 1402 wilayah Polewali Mamasa, Yudhi Murfi. Dalam pencarian para korban, pihaknya bersama kepolisian akan mengarahkan anggotanya untuk membantu melakukan pencarian para korban yang belum ditemukan.
Pantauan dilokasi kejadian, satu unit alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk melakukan pembersihan batuan besar yang melintang di jalan sisa longsoran akibat bencana itu.
Sebelumnya diberitakan, peristiwa banjir bandang itu terjadi sekitar pukul 16.30 WITA, di dusun Kabannitan, Desa Batanguru Timur, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa.
Peristiwa itu terjadi setelah hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Sumarorong, dan mengakibatkan air di Sungai Uru meluap. Luapan air tersebut menghantam permukiman warga yang ada di sekitar Sungai Uru, setelah sebuah cekdamp (penampungan air) jebolnya. Bendungan tradisional itu sendiri jebol setelah terjadi longsor.
Sekretaris Kabupaten (Sekab) Polman, Benhard Buntutiboyong, yang ditemui dilokasi bencana mengatakan, atas nama pemerintah kabupaten Mamasa, turut berduka cita atas bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa serta merusak rumah warga.
“Hari ini, Pemkab Mamasa telah berduka cita atas bencana yang telah melanda daerah kami,” kata Benhard.
Dia mengatakan, atas peristiwa tersebut, Pemkab akan berupaya semaksimal mungkin untuk membantu para korban bencana alam. Khususnya dalam pencarian korban yang belum ditemukan, serta bantuan lain seperti bahan makanan untuk para korban.
(azh)