Rumah aktivis anti korupsi diteror
Rabu, 07 November 2012 - 17:13 WIB
Rumah aktivis anti korupsi diteror
A
A
A
Sindonews.com - Aksi teror terhadap aktivis antikorupsi terjadi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim). Lukman Hakim, pelapor dugaan tindak pidana korupsi senilai Rp13 miliar dilempar batu orang tak dikenal pada Rabu dini hari. Akibat lemparan dua buah batu tersebut, kaca cendela rumah dan kaca mobil hancur berantakan.
Lukman Hakim, Koordinator LSM Format Jatim Korda Kabupaten Probolinggo, menduga, aksi teror tersebut dilakukan oleh orang-orang yang merasa gerah atas laporan yang disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu. Indikasi ini didasarkan atas aktivitasnya yang kerap menyoroti dugaan penyimpangan pada proyek pemerintah.
"Teror ini adalah bagian dari resiko perjuangan. Saya tidak akan surut selangkahpun untuk terus mengungkap dugaan korupsi," ungkap Lukman Hakim menjelaskan kepada wartawan, Rabu (7/11/2012).
Pada beberapa waktu lalu, Lukman bersama sejumlah LSM di Probolinggo, mendatangi kantor KPK di Jakarta. Disertai sejumlah bukti, mereka melaporkan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan Bupati Hasan Aminuddin.
Dua proyek yang diduga kuat tidak sesuai peruntukkannya tersebut adalah, Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) tahun 2006 dan pengadaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun 2009. Akibat proyek fiktif ini, kerugian negara diperkirakan mencapai Rp13 miliar.
Aksi teror pelemparan batu dirumahnya di Desa Banyu Anyar Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, lanjut Lukman, sebenarnya diketahui oleh tetangganya. Saksi yang tengah berada disungai kecil, mengaku kaget mendengar suara pecahan kaca. Namun saksi tidak dapat melihat dengan jelas wajah pelaku.
"Ada tetangga saya yang kebetulan berada disungai. Ia tidak mengenali wajah pelaku dengan jelas karena gelap," kata Lukman.
Saat peristiwa terjadi, ia tengah bertaziah ke rumah keluarganya yang tak jauh dari kediamannya. Setelah mendapat kabar dari istrinya, ia segera pulang dan mendapati rumahnya dalam kondisi berantakan. Meski demikian ia mengaku bersyukur karena anak dan istrinya tidak menderita luka.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Heri Mulyono, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus ini. Untuk kepentingan penyelidikan, polisi menyita barag bukti batu dan pecahan kaca dari rumah korban. Polisi juga belum bisa memastikan apa motif aksi teror tersebut.
Lukman Hakim, Koordinator LSM Format Jatim Korda Kabupaten Probolinggo, menduga, aksi teror tersebut dilakukan oleh orang-orang yang merasa gerah atas laporan yang disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu. Indikasi ini didasarkan atas aktivitasnya yang kerap menyoroti dugaan penyimpangan pada proyek pemerintah.
"Teror ini adalah bagian dari resiko perjuangan. Saya tidak akan surut selangkahpun untuk terus mengungkap dugaan korupsi," ungkap Lukman Hakim menjelaskan kepada wartawan, Rabu (7/11/2012).
Pada beberapa waktu lalu, Lukman bersama sejumlah LSM di Probolinggo, mendatangi kantor KPK di Jakarta. Disertai sejumlah bukti, mereka melaporkan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan Bupati Hasan Aminuddin.
Dua proyek yang diduga kuat tidak sesuai peruntukkannya tersebut adalah, Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) tahun 2006 dan pengadaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun 2009. Akibat proyek fiktif ini, kerugian negara diperkirakan mencapai Rp13 miliar.
Aksi teror pelemparan batu dirumahnya di Desa Banyu Anyar Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, lanjut Lukman, sebenarnya diketahui oleh tetangganya. Saksi yang tengah berada disungai kecil, mengaku kaget mendengar suara pecahan kaca. Namun saksi tidak dapat melihat dengan jelas wajah pelaku.
"Ada tetangga saya yang kebetulan berada disungai. Ia tidak mengenali wajah pelaku dengan jelas karena gelap," kata Lukman.
Saat peristiwa terjadi, ia tengah bertaziah ke rumah keluarganya yang tak jauh dari kediamannya. Setelah mendapat kabar dari istrinya, ia segera pulang dan mendapati rumahnya dalam kondisi berantakan. Meski demikian ia mengaku bersyukur karena anak dan istrinya tidak menderita luka.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Heri Mulyono, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus ini. Untuk kepentingan penyelidikan, polisi menyita barag bukti batu dan pecahan kaca dari rumah korban. Polisi juga belum bisa memastikan apa motif aksi teror tersebut.
(azh)