Warga Sulbar diminta waspadai awan cumulonimbus
Senin, 05 November 2012 - 15:18 WIB
Warga Sulbar diminta waspadai awan cumulonimbus
A
A
A
Sindonews.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Barat (Sulbar) di Majene, meminta kepada seluruh masyarakat khususnya para nelayan Sulbar untuk mewaspadai pembentukan awan cumulonimbus di wilayah perairan Sulbar, sebab akan mengancam keselamatan.
Prakirawan cuaca BMKG Sulbar, Arman, mengatakan keberadaan awan cumulonimbus sering kali menimbulkan loncatan api atau listrik, serta diikuti angin kencang dan petir.
“Bahkan, awan cumulonimbus juga berpotensi menimbulkan hujan deras secara tiba-tiba serta munculnya anging puting beliung,” ujar Arman ketika dikonfirmasi, Senin (5/11/2012).
Menurut dia, intensitas hujan beberapa hari terakhir yang melanda seluruh wilayah Sulbar dipengaruhi oleh awan cumulonimbus. Sebab, prakiraan cuaca saat ini belum masuk dalam kategori musim hujan, tetapi masih dalam musim pancaroba.
Hal itu dikatakan setelah melihat intensitas hujan yang baru berkisar antara 50 mm setiap sepuluh hari atau setiap dekade. Sedangkan posisi curah hujan saat ini baru berkisar antara 24,9 mm setiap dekade, dan suhu cuaca rata-rata berkisar antara 24-32 derajat celcius.
Dia menjelaskan, untuk menentukan apakah sudah memasuki musim hujan atau tidak, ada dua indikator yang menjadi tolak ukur BMKG, yakni intensitas hujan setiap dekade di atas 50 mm, dan arah angin.
“Melihat intensitas sekarang ini yang belum mencapai 50 mm setiap dekade serta kondisi angin yang masih berputar-putar, berarti belum memasuki musim hujan,” jelasnya.
Lebih lanjut Amran menjelaskan, awan cumulonimbus selain mengganggu aktivitas nelayan, juga sangat mengganggu aktivitas penerbangan.
Keberadaan awan tersebut saat ini sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah di Sulbar seperti Polman, Majene, Mamuju dan Mamasa.
Prakirawan cuaca BMKG Sulbar, Arman, mengatakan keberadaan awan cumulonimbus sering kali menimbulkan loncatan api atau listrik, serta diikuti angin kencang dan petir.
“Bahkan, awan cumulonimbus juga berpotensi menimbulkan hujan deras secara tiba-tiba serta munculnya anging puting beliung,” ujar Arman ketika dikonfirmasi, Senin (5/11/2012).
Menurut dia, intensitas hujan beberapa hari terakhir yang melanda seluruh wilayah Sulbar dipengaruhi oleh awan cumulonimbus. Sebab, prakiraan cuaca saat ini belum masuk dalam kategori musim hujan, tetapi masih dalam musim pancaroba.
Hal itu dikatakan setelah melihat intensitas hujan yang baru berkisar antara 50 mm setiap sepuluh hari atau setiap dekade. Sedangkan posisi curah hujan saat ini baru berkisar antara 24,9 mm setiap dekade, dan suhu cuaca rata-rata berkisar antara 24-32 derajat celcius.
Dia menjelaskan, untuk menentukan apakah sudah memasuki musim hujan atau tidak, ada dua indikator yang menjadi tolak ukur BMKG, yakni intensitas hujan setiap dekade di atas 50 mm, dan arah angin.
“Melihat intensitas sekarang ini yang belum mencapai 50 mm setiap dekade serta kondisi angin yang masih berputar-putar, berarti belum memasuki musim hujan,” jelasnya.
Lebih lanjut Amran menjelaskan, awan cumulonimbus selain mengganggu aktivitas nelayan, juga sangat mengganggu aktivitas penerbangan.
Keberadaan awan tersebut saat ini sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah di Sulbar seperti Polman, Majene, Mamuju dan Mamasa.
(rsa)