50 persen kualitas guru tidak layak
Senin, 05 November 2012 - 09:40 WIB
50 persen kualitas guru tidak layak
A
A
A
Sindonews.com - 50 persen lebih guru tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Blitar, Jawa Timur, belum sepenuhnya layak menjalankan tugas kependidikan.
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kota Blitar Bambang Pribadi mengatakan, dari 510 guru yang mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG), hanya 29 persen yang berhasil memperoleh nilai standar minimal 70.
"Sedangkan sisanya, lebih besar hanya mendapat nilai rata-rata 51. Bahkan tidak sedikit yang dapat nilai 23 saja," kata Bambang Pribadi kepada wartawan, di Blitar, Senin (5/11/2012).
Bambang menyatakan, dengan hasil tersebut, secara langsung maupun tidak, ketidakberdayaan tenaga pendidik dalam menguasai bidangnya akan mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
"Mengingat guru memiliki andil besar dalam mendidik generasi bangsa, khususnya Kota Blitar, fakta ini diakui memperihatinkan," ucap Bambang.
Lebih lanjut dia mengatakan, padahal negara telah memberi perhatian penuh terhadap tingkat kesejahteraan melalui beragam program yang bermotivasi ekonomis. Seperti terbitnya kebijakan renumerasi dan sertifikasi yang telah mengantarkan gaji tenaga pendidik melambung tinggi.
"Belum lagi jaminan hari tua dengan tunjangan pensiun. Guru, khususnya PNS tidak lagi terjerat dalam belenggu kemiskinan. Hampir tidak ada lagi PNS guru yang berpenghasilan rendah," ungkapnya.
Menurutnya, bisa dikatakan tenaga pendidik memiliki tingkat hidup yang lebih mentereng dibanding profesi lain. Tidak heran di dalam setiap rekrutmen CPNS yang dibuka pemerintah, formasi guru selalu memiliki jumlah peminat yang banyak.
"Idealnya, tingkat kesejahteraan yang baik harus diikuti dengan mutu tenaga pengajar yang baik pula. Sebab tentunya negara tidak ingin sia-sia dalam menyediakan fasilitas yang ada," tandasnya.
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kota Blitar Bambang Pribadi mengatakan, dari 510 guru yang mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG), hanya 29 persen yang berhasil memperoleh nilai standar minimal 70.
"Sedangkan sisanya, lebih besar hanya mendapat nilai rata-rata 51. Bahkan tidak sedikit yang dapat nilai 23 saja," kata Bambang Pribadi kepada wartawan, di Blitar, Senin (5/11/2012).
Bambang menyatakan, dengan hasil tersebut, secara langsung maupun tidak, ketidakberdayaan tenaga pendidik dalam menguasai bidangnya akan mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
"Mengingat guru memiliki andil besar dalam mendidik generasi bangsa, khususnya Kota Blitar, fakta ini diakui memperihatinkan," ucap Bambang.
Lebih lanjut dia mengatakan, padahal negara telah memberi perhatian penuh terhadap tingkat kesejahteraan melalui beragam program yang bermotivasi ekonomis. Seperti terbitnya kebijakan renumerasi dan sertifikasi yang telah mengantarkan gaji tenaga pendidik melambung tinggi.
"Belum lagi jaminan hari tua dengan tunjangan pensiun. Guru, khususnya PNS tidak lagi terjerat dalam belenggu kemiskinan. Hampir tidak ada lagi PNS guru yang berpenghasilan rendah," ungkapnya.
Menurutnya, bisa dikatakan tenaga pendidik memiliki tingkat hidup yang lebih mentereng dibanding profesi lain. Tidak heran di dalam setiap rekrutmen CPNS yang dibuka pemerintah, formasi guru selalu memiliki jumlah peminat yang banyak.
"Idealnya, tingkat kesejahteraan yang baik harus diikuti dengan mutu tenaga pengajar yang baik pula. Sebab tentunya negara tidak ingin sia-sia dalam menyediakan fasilitas yang ada," tandasnya.
(maf)