Warga Banyuroto tuntut penutupan TPA sampah
Senin, 05 November 2012 - 08:50 WIB
Warga Banyuroto tuntut penutupan TPA sampah
A
A
A
Sindonews.com - Seratusan warga Banyuroto, Kulonprogo, Yogyakarta, yang tergabung dalam Serikat Masyarakat Banyuroto Peduli (Semar Bali) menolak keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Koordinator aksi Kawit Mujiana mengatakan, warga menuntut penutupan TPA dan dipindah ke daerah lain, karena tidak memberi manfaat bagi masyarakat setempat.
"Janji-janji yang disampaikan saat sosialisasi tidak direalisasikan. Bahkan keluh kesah warga terhadap TPA yang sudah dibangun sejak lima tahun tak digubris pengelola," kata Kawit Mujiana, di Kulonprogo, Senin (5/11/2012).
Menurut Kawit, TPA sampah sangat mengganggu kenyamanan, karena lokasi terlalu dekat dengan fasilitas publik. Seperti balai desa, puskesmas pembantu, kelompok bermain, TK, SD serta calon pasar. TPA juga menimbulkan bau tak sedap hingga radius 300-400 meter.
"Jalanan menjadi rusak parah, karena tingginya mobilitas kendaraan truk sampah. TPA juga mencemari air sumur di sekitar lokasi. Pencemaran ternyata juga terjadi sepanjang aliran menuju embung perairan umum," ungkapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, yang membuat warga marah, karena pengelola tidak menepati kesepakatan yang dibuat saat sosialisasi.
"Pengelola tidak mendaur ulang sampah menjadi pupuk organik dan tidak mempekerjakan tenaga lokal," tandasnya.
Koordinator aksi Kawit Mujiana mengatakan, warga menuntut penutupan TPA dan dipindah ke daerah lain, karena tidak memberi manfaat bagi masyarakat setempat.
"Janji-janji yang disampaikan saat sosialisasi tidak direalisasikan. Bahkan keluh kesah warga terhadap TPA yang sudah dibangun sejak lima tahun tak digubris pengelola," kata Kawit Mujiana, di Kulonprogo, Senin (5/11/2012).
Menurut Kawit, TPA sampah sangat mengganggu kenyamanan, karena lokasi terlalu dekat dengan fasilitas publik. Seperti balai desa, puskesmas pembantu, kelompok bermain, TK, SD serta calon pasar. TPA juga menimbulkan bau tak sedap hingga radius 300-400 meter.
"Jalanan menjadi rusak parah, karena tingginya mobilitas kendaraan truk sampah. TPA juga mencemari air sumur di sekitar lokasi. Pencemaran ternyata juga terjadi sepanjang aliran menuju embung perairan umum," ungkapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, yang membuat warga marah, karena pengelola tidak menepati kesepakatan yang dibuat saat sosialisasi.
"Pengelola tidak mendaur ulang sampah menjadi pupuk organik dan tidak mempekerjakan tenaga lokal," tandasnya.
(maf)