Hujan buatan di Malang belum maksimal
Jum'at, 02 November 2012 - 12:55 WIB
Hujan buatan di Malang belum maksimal
A
A
A
Sindonews.com - Upaya Perusahaan Umum Jasa Tirta I untuk menambah elevasi Waduk Sutami hingga mencapai pola operasi waduk yang seharusnya 263.00 meter belum terpenuhi, meski sejak 23 Oktober lalu terus melakukan hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Kabid Pengelolaan Data dan Lingkungan, Perum Jasa Tirta I, Vonny C Setyawati, mengatakan, TMC telah dilakukan sebanyak delapan kali dan belum membuahkan hasil yang diharapkan. Meski demikian, upaya ini setidaknya menambah inflow waduk Sutami minimal di elevasi 260.00 meter.
"Pada 1 November kemarin infloe ke waduk Sutami 39,789 milimeter per detik," kata Vonny, usai memaparkan evaluasi hasil hujan buatan selama sepekan terakhir, Jumat (2/11/2012).
Menurutnya, jumlah inflow tersebut lebih tinggi dari data sehari sebelumnya atau tanggal 31 Oktober yang hanya mencapai 37,127 milimeter per detik. Pelaksanaan TMC ini, kata Vonny, akan dilakukan selama 36 hari, namun aka dievaluasi lagi pada hari ke 20 untuk menentukan apajak masih diperlukan hujan buatan lagi atau tidak.
"Sisanya nanti akan dilakukan pada akhir musim hujan jika sebelum 36 hari sudah mencapai target," ujarnya.
Vonny menjelaskan, TMC dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan air ataupun bencana kekeringan di wilayah Sungai Brantas. Sebab, sampai akhir Dekade III Oktober 2012, elevasi waduk Sutami 259.97 meter tang artinya berada di bawah batas minimal 260.00. Ada deviasi atau penurunan yang sangat signifikan sebesar 3,03 meter jika dibandingkan dengan pola operasi waduk yang seharusnya 263.00 meter.
Berdasarkan data selama sepekan terakhir, sebaran hujan buatan di wilayah Malang tidak semuanya berhasil. Hasil pantauan, stasiun pos pengamatan curah hujan di delapan titik, curah hujan yang paling tinggi terjadi di wilayah Dampit dengan tingkat curah hujan 40 milimeter per detik.
Perum Jasa Tirta I, mengelola tujuh waduk di sepanjang DAS Brantas seperti waduk Sengguruh, Sutami, Lahor, Wlingi, Wonorejo, Seloreja, dan Bening. Waduk Sutami dan Lahor merupakan waduk tahunan dan dioperasionalkan bersama, sedangkan lainnya merupakan waduk harian.
Kabid Pengelolaan Data dan Lingkungan, Perum Jasa Tirta I, Vonny C Setyawati, mengatakan, TMC telah dilakukan sebanyak delapan kali dan belum membuahkan hasil yang diharapkan. Meski demikian, upaya ini setidaknya menambah inflow waduk Sutami minimal di elevasi 260.00 meter.
"Pada 1 November kemarin infloe ke waduk Sutami 39,789 milimeter per detik," kata Vonny, usai memaparkan evaluasi hasil hujan buatan selama sepekan terakhir, Jumat (2/11/2012).
Menurutnya, jumlah inflow tersebut lebih tinggi dari data sehari sebelumnya atau tanggal 31 Oktober yang hanya mencapai 37,127 milimeter per detik. Pelaksanaan TMC ini, kata Vonny, akan dilakukan selama 36 hari, namun aka dievaluasi lagi pada hari ke 20 untuk menentukan apajak masih diperlukan hujan buatan lagi atau tidak.
"Sisanya nanti akan dilakukan pada akhir musim hujan jika sebelum 36 hari sudah mencapai target," ujarnya.
Vonny menjelaskan, TMC dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan air ataupun bencana kekeringan di wilayah Sungai Brantas. Sebab, sampai akhir Dekade III Oktober 2012, elevasi waduk Sutami 259.97 meter tang artinya berada di bawah batas minimal 260.00. Ada deviasi atau penurunan yang sangat signifikan sebesar 3,03 meter jika dibandingkan dengan pola operasi waduk yang seharusnya 263.00 meter.
Berdasarkan data selama sepekan terakhir, sebaran hujan buatan di wilayah Malang tidak semuanya berhasil. Hasil pantauan, stasiun pos pengamatan curah hujan di delapan titik, curah hujan yang paling tinggi terjadi di wilayah Dampit dengan tingkat curah hujan 40 milimeter per detik.
Perum Jasa Tirta I, mengelola tujuh waduk di sepanjang DAS Brantas seperti waduk Sengguruh, Sutami, Lahor, Wlingi, Wonorejo, Seloreja, dan Bening. Waduk Sutami dan Lahor merupakan waduk tahunan dan dioperasionalkan bersama, sedangkan lainnya merupakan waduk harian.
(azh)