Kasus cacing hati di hewan kurban naik 1 persen
Jum'at, 02 November 2012 - 10:51 WIB
Kasus cacing hati di hewan kurban naik 1 persen
A
A
A
Sindonews.com – Kasus cacing hati pada hewan kurban di Kulonprogo, tahun ini meningkat satu persen dari tahun lalu. Sedangkan kasus pada kambing justru menurun dan domba malah nihil, atau tidak ada kasus.
Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Kulonprogo, Drajad Purbadi mengatakan, secara keseluruhan, hewan kurban yang dipotong tahun ini mencapai 1.308 ekor. Terdiri dari 2.600 ekor sapi, 3.268 kambing dan 1.367 domba.
Setelah dipantau, kata dia, pihaknya menemukan 532 kasus cacing hati dari total sapi yang dipotong. Angka itu naik satu persen dari tahun lalu yang hanya 448 kasus dari 2.329 sapi. Kasus pada kambing turun, yakni hanya 20 kasus dari 3.268 kambing yang dipotong. Tahun sebelumnya, ditemukan 22 kasus dari 3.254 kambing.
“Kami tidak menemukan kasus pada domba. Karena secara genetik domba memang lebih kebal daripada kambing,” kata Drajad, Jumat (2/11/2012).
Drajat menjelaskan, kasus cacing pada sapi terbesar ditemukan di Kecamatan Galur. Di sini, petugas menemukan 100 kasus dari 271 sapi yang dipotong. Disusul kemudian Wates 95 kasus dari 319 sapi. Berikutnya Panjatan 65 kasus dari 280 sapi, disusul Pengasih 62 kasus dari 279 sapi.
“Kasus paling sedikit ditemukan di wilayah pegunungan. Di Samigaluh kami hanya menemukan dua kasus dari 124 sapi. Untuk di dataran rendah memang dipengaruhi faktor pakan. Di mana ternak diberi pakan basah yang belum diolah atau dijemur,” terang dia.
Menurutnya, langkah itu sebenarnya salah. Sebab, cacing muda umumnya hidup pada tanaman atau jerami yang masih basah. Meski begitu, lanjut dia, kasus ini dapat diobati jika kondisinya belum terlalu parah. Caranya dengan memberikan obat cacing.
“Nah di sini, kesadaran masyarakat member obat cacing pada ternaknya juga masih kurang. Seharusnya, sebulan setelah panen, ternak langsung diberi obat cacing. Sekarang obat cacing sudah tersedia di Poskeswan. Jadi tidak sulit mencarinya,” pungkas dia.
Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Kulonprogo, Drajad Purbadi mengatakan, secara keseluruhan, hewan kurban yang dipotong tahun ini mencapai 1.308 ekor. Terdiri dari 2.600 ekor sapi, 3.268 kambing dan 1.367 domba.
Setelah dipantau, kata dia, pihaknya menemukan 532 kasus cacing hati dari total sapi yang dipotong. Angka itu naik satu persen dari tahun lalu yang hanya 448 kasus dari 2.329 sapi. Kasus pada kambing turun, yakni hanya 20 kasus dari 3.268 kambing yang dipotong. Tahun sebelumnya, ditemukan 22 kasus dari 3.254 kambing.
“Kami tidak menemukan kasus pada domba. Karena secara genetik domba memang lebih kebal daripada kambing,” kata Drajad, Jumat (2/11/2012).
Drajat menjelaskan, kasus cacing pada sapi terbesar ditemukan di Kecamatan Galur. Di sini, petugas menemukan 100 kasus dari 271 sapi yang dipotong. Disusul kemudian Wates 95 kasus dari 319 sapi. Berikutnya Panjatan 65 kasus dari 280 sapi, disusul Pengasih 62 kasus dari 279 sapi.
“Kasus paling sedikit ditemukan di wilayah pegunungan. Di Samigaluh kami hanya menemukan dua kasus dari 124 sapi. Untuk di dataran rendah memang dipengaruhi faktor pakan. Di mana ternak diberi pakan basah yang belum diolah atau dijemur,” terang dia.
Menurutnya, langkah itu sebenarnya salah. Sebab, cacing muda umumnya hidup pada tanaman atau jerami yang masih basah. Meski begitu, lanjut dia, kasus ini dapat diobati jika kondisinya belum terlalu parah. Caranya dengan memberikan obat cacing.
“Nah di sini, kesadaran masyarakat member obat cacing pada ternaknya juga masih kurang. Seharusnya, sebulan setelah panen, ternak langsung diberi obat cacing. Sekarang obat cacing sudah tersedia di Poskeswan. Jadi tidak sulit mencarinya,” pungkas dia.
(azh)