Oknum TNI merampok karena gaya hidup
Selasa, 30 Oktober 2012 - 10:03 WIB
Oknum TNI merampok karena gaya hidup
A
A
A
Sindonews.com - Penyebab oknum TNI melakukan tindak kriminal, lebih pada persoalan gaya hidup masing-masing personel.
Pengamat militer Mihadjir Efendi mengatakan, perilaku tersebut bisa disebabkan karena kesenjangan kesejahteraan sesama aparat penegak hukum. Terlebih lagi, saat ini kewenangan TNI sudah terbatas.
"Kalau dulu, TNI boleh nyambi sebagai pengamanan perusahaan, sekarang sudah enggak boleh," kata Mihadjir, kepada wartawan, menanggapi kasus perampokan minimarket di Gersik yang dilakukan oleh oknum TNI AL, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/10/2012).
Menurut Mihadjir, perbuatan tindak kriminal yang dilakukan oknum tersebut, tidak terkait dengan institusi TNI.
"Bisa jadi oknum tersebut memiliki gaya hidup di luar batas kewajaran. Tentunya, tidak lazim jika dengan pangkat yang rendah harus bergaya hidup mewah," ucapnya.
Dia berharap, agar tindakan kriminalitas tidak terulang, perlu tindakkan pencegahan. Sikap ini tentunya hanya bisa dilakukan di internal masing-masing institusi.
"Meski hal itu tidak akan berhasil 100 persen tapi memang perlu ada tindakan (pencegahan)," ujarnya.
Seperti diketahui, pada Senin 29 Oktober 2012 dini hari, terjadi perampokan minimarket di Jalan Laban, Menganti, Gresik.
Pelaku perampokan berinisial MD. Hal itu terungkap, setelah polisi menemukan KTA di tempat kejadian perkara (TKP). Pria tersebut berpangkat Serda dan masih bertugas di KRI SHS 990.
Nahasnya MD tewas di lokasi kejadian karena tertembak di bagian pelipis mata. Sebab sebelumnya ada perlawanan dari karyawan, ditambah teriakan warga yang membantu karyawan tersebut.
Selain itu, Serda Dwi juga diduga sebagai pelaku perampasan pistol milik anggota Satlantas Polrestabes Surabaya beberapa waktu lalu.
Pengamat militer Mihadjir Efendi mengatakan, perilaku tersebut bisa disebabkan karena kesenjangan kesejahteraan sesama aparat penegak hukum. Terlebih lagi, saat ini kewenangan TNI sudah terbatas.
"Kalau dulu, TNI boleh nyambi sebagai pengamanan perusahaan, sekarang sudah enggak boleh," kata Mihadjir, kepada wartawan, menanggapi kasus perampokan minimarket di Gersik yang dilakukan oleh oknum TNI AL, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (30/10/2012).
Menurut Mihadjir, perbuatan tindak kriminal yang dilakukan oknum tersebut, tidak terkait dengan institusi TNI.
"Bisa jadi oknum tersebut memiliki gaya hidup di luar batas kewajaran. Tentunya, tidak lazim jika dengan pangkat yang rendah harus bergaya hidup mewah," ucapnya.
Dia berharap, agar tindakan kriminalitas tidak terulang, perlu tindakkan pencegahan. Sikap ini tentunya hanya bisa dilakukan di internal masing-masing institusi.
"Meski hal itu tidak akan berhasil 100 persen tapi memang perlu ada tindakan (pencegahan)," ujarnya.
Seperti diketahui, pada Senin 29 Oktober 2012 dini hari, terjadi perampokan minimarket di Jalan Laban, Menganti, Gresik.
Pelaku perampokan berinisial MD. Hal itu terungkap, setelah polisi menemukan KTA di tempat kejadian perkara (TKP). Pria tersebut berpangkat Serda dan masih bertugas di KRI SHS 990.
Nahasnya MD tewas di lokasi kejadian karena tertembak di bagian pelipis mata. Sebab sebelumnya ada perlawanan dari karyawan, ditambah teriakan warga yang membantu karyawan tersebut.
Selain itu, Serda Dwi juga diduga sebagai pelaku perampasan pistol milik anggota Satlantas Polrestabes Surabaya beberapa waktu lalu.
(maf)