Rebutan warisan, kakak dibunuh adik
Senin, 29 Oktober 2012 - 17:50 WIB
Rebutan warisan, kakak dibunuh adik
A
A
A
Sindonews.com - Gara-gara berselisih soal warisan, seorang kakak tega membunuh adiknya. Saudara sekandung ini memperebutkan lahan seluas 80 are yang berisi kebun bambu.
Warga Dusun Ballatinggia, Desa Bontominasa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba ini terlibat perkelahian pada Minggu 28 Oktober 2012.
Berdasarkan informasi yang himpun dari keluarga korban menyebutkan, usai melaksanakan salat Dzuhur di Masjid Nurul Islam, Mansur melewati sungai Ballatinggia.
Ketika di sungai tersebut Mansur bertemu Bukka sang kakak dan menyampaikan wasiat orangtua mereka bahwa sebaiknya tanah dibagi ahli waris.
"Dia (Mansur) hanya mengingatkan pesan orangtua bahwa tanah yang dikuasai Bukka segera dibagi,” ungkap salah seorang keluarga mereka, Asdar Sakka, kepada SINDO di rumahnya, Senin (29/10/2012).
Hanya saja, penyampaian Mansur tidak ditanggapi dengan baik oleh Bukka. Bahkan, Bukka mengajaknya untuk adu jotos. Saat itu Mansur berupaya menenangkan amarah kakaknya dengan merangkulnya hingga keduanya terjatuh.
“Ketika terjatuh itu, Bukka menarik pisau yang terselip dipinggangnya lalu menikam Mansur hingga ususnya keluar,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolsek Bulukumba AKP Syamsuddin menceritakan saat ditikam, Mansur mengambil batu di sungai dan memukul bagian kepala Bukka bertubi-tubi.
“Mansur sempat meminta tolong kepada tetangganya agar Bukka segera dilarikan ke rumah sakit,” ucap Syamsuddin.
Dia menambahkan, polisi tetap akan memeriksa Mansur yang saat ini sedang menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Wahidin di Makassar.
“Kami tetap akan memproses secara hukum, dan menyelidiki penyebab peristiwa ini terjadi,” katanya.
Syamsuddin juga mengimbau kedua keluarga agar berdamai dan tidak terprovokasi. Sebab pasca peristiwa tewasnya Bukka, kedua keluarga nyaris bentrok. Beruntung aparat kepolisian dan TNI dibantu warga berhasil meredamnya.
Warga Dusun Ballatinggia, Desa Bontominasa, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba ini terlibat perkelahian pada Minggu 28 Oktober 2012.
Berdasarkan informasi yang himpun dari keluarga korban menyebutkan, usai melaksanakan salat Dzuhur di Masjid Nurul Islam, Mansur melewati sungai Ballatinggia.
Ketika di sungai tersebut Mansur bertemu Bukka sang kakak dan menyampaikan wasiat orangtua mereka bahwa sebaiknya tanah dibagi ahli waris.
"Dia (Mansur) hanya mengingatkan pesan orangtua bahwa tanah yang dikuasai Bukka segera dibagi,” ungkap salah seorang keluarga mereka, Asdar Sakka, kepada SINDO di rumahnya, Senin (29/10/2012).
Hanya saja, penyampaian Mansur tidak ditanggapi dengan baik oleh Bukka. Bahkan, Bukka mengajaknya untuk adu jotos. Saat itu Mansur berupaya menenangkan amarah kakaknya dengan merangkulnya hingga keduanya terjatuh.
“Ketika terjatuh itu, Bukka menarik pisau yang terselip dipinggangnya lalu menikam Mansur hingga ususnya keluar,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolsek Bulukumba AKP Syamsuddin menceritakan saat ditikam, Mansur mengambil batu di sungai dan memukul bagian kepala Bukka bertubi-tubi.
“Mansur sempat meminta tolong kepada tetangganya agar Bukka segera dilarikan ke rumah sakit,” ucap Syamsuddin.
Dia menambahkan, polisi tetap akan memeriksa Mansur yang saat ini sedang menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Wahidin di Makassar.
“Kami tetap akan memproses secara hukum, dan menyelidiki penyebab peristiwa ini terjadi,” katanya.
Syamsuddin juga mengimbau kedua keluarga agar berdamai dan tidak terprovokasi. Sebab pasca peristiwa tewasnya Bukka, kedua keluarga nyaris bentrok. Beruntung aparat kepolisian dan TNI dibantu warga berhasil meredamnya.
(ysw)