Resapi Sumpah Pemuda lewat ritual adat Sumba
Minggu, 28 Oktober 2012 - 11:55 WIB
Resapi Sumpah Pemuda lewat ritual adat Sumba
A
A
A
Sindonews.com - Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meresapi dan memaknai semangat Sumpah Pemuda. Seperti yang dilakukan pemuda dan warga yang tergabung dalam komunitas Rumba Wai (air dan rumput) di Kampung Paponggu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah, NTT, ini.
Komunitas ini menggelar acara sesuai tradisi leluhur sekaligus menyelami hakekat sumpah pemuda, melalui sumpah dan ritual adat.
Acara yang dikemas di alam terbuka tepatnya di aliran sungai Luku Madiku, itu diikuti ratusanwarga dan pemuda utusan dari empat penjuru mata angin di wilayah pulau Sumba.
Acara dimulai dengan peletakan sajian sirih dan pinang di atas salah satu batuan kali yang telah dialas dengan dua lembar kain tenun.
Selanjutnya para tua adat akan melantunkan doa dan baitan tuturan adat secara bersahut–sahutan yang bersikan hormat pada bumi pertiwi yang memberikan air dan ragam sumber kehidupan. Juga berisikan seruan kerukunan dan persatuan.
Lantunan adat dan dialek yang berbeda antara ketua adat dari masing–masing wilayah kemudian disatukan lewat ikrar yang disebut Pahamang (samakan visi) untuk menghormati Ibu Pertiwi yang harus diwujudkan dengan melestarikan alam dalam semangat gotong royong dan persatuan.
Puncaknya adalah menguatkan ikrar itu dengan menyembelih babi sebagai hewan kurban. Begitu darah babi yang ditikam menetes dan menyatu dengan aliran sungai, maka bumi, langin dan sang khalik akan menjadi saksi bagi semua yang hadir. Bagi yang melanggar sumpah ini diyakini akan mendapatkan tulah dari leluhur bahkan Sang Khalik langit dan bumi.
"Kami akan gelar acara ini secara rtitun setiap tahunnya. Adapun dengan acara ini kita sebagai generasi muda mau menggali semangat dan nilai nilai persaudaraan dan persatuan dari para tua-tua adat Sumba. Dimana nilai–nilai itu harus dilaraskan dengan rasa cinta pada alam dan lingkungan sekitarnya,” jelas Wulang Tana Amahu, selaku pengurus dan penggagas komunitas yang menggelorakan semangat ‘Nda Humba Li La Mohu Akama’ yang bermakna ‘Kami bukan Sumba yang menuju Kehancuran’, di NTT, Minggu (28/10/2012).
Sukacita atas tercapainya kesamaan visi itu, juga dimeriahkan dengan pemukulan gong dan tarian tradisional secara spontan oleh warga dan pemuda di seputaran areal upacara.
Komunitas ini menggelar acara sesuai tradisi leluhur sekaligus menyelami hakekat sumpah pemuda, melalui sumpah dan ritual adat.
Acara yang dikemas di alam terbuka tepatnya di aliran sungai Luku Madiku, itu diikuti ratusanwarga dan pemuda utusan dari empat penjuru mata angin di wilayah pulau Sumba.
Acara dimulai dengan peletakan sajian sirih dan pinang di atas salah satu batuan kali yang telah dialas dengan dua lembar kain tenun.
Selanjutnya para tua adat akan melantunkan doa dan baitan tuturan adat secara bersahut–sahutan yang bersikan hormat pada bumi pertiwi yang memberikan air dan ragam sumber kehidupan. Juga berisikan seruan kerukunan dan persatuan.
Lantunan adat dan dialek yang berbeda antara ketua adat dari masing–masing wilayah kemudian disatukan lewat ikrar yang disebut Pahamang (samakan visi) untuk menghormati Ibu Pertiwi yang harus diwujudkan dengan melestarikan alam dalam semangat gotong royong dan persatuan.
Puncaknya adalah menguatkan ikrar itu dengan menyembelih babi sebagai hewan kurban. Begitu darah babi yang ditikam menetes dan menyatu dengan aliran sungai, maka bumi, langin dan sang khalik akan menjadi saksi bagi semua yang hadir. Bagi yang melanggar sumpah ini diyakini akan mendapatkan tulah dari leluhur bahkan Sang Khalik langit dan bumi.
"Kami akan gelar acara ini secara rtitun setiap tahunnya. Adapun dengan acara ini kita sebagai generasi muda mau menggali semangat dan nilai nilai persaudaraan dan persatuan dari para tua-tua adat Sumba. Dimana nilai–nilai itu harus dilaraskan dengan rasa cinta pada alam dan lingkungan sekitarnya,” jelas Wulang Tana Amahu, selaku pengurus dan penggagas komunitas yang menggelorakan semangat ‘Nda Humba Li La Mohu Akama’ yang bermakna ‘Kami bukan Sumba yang menuju Kehancuran’, di NTT, Minggu (28/10/2012).
Sukacita atas tercapainya kesamaan visi itu, juga dimeriahkan dengan pemukulan gong dan tarian tradisional secara spontan oleh warga dan pemuda di seputaran areal upacara.
(mhd)