Soal capres, Mahfud MD ogah narsis
Kamis, 25 Oktober 2012 - 22:46 WIB
Soal capres, Mahfud MD ogah narsis
A
A
A
Sindonews.com - Nama Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD akhir-akhir ini sering masuk bursa kandidat calon presiden dari sejumlah hasil lembaga survei yang ada. Namun Mahfud tidak ingin buru-buru menyusun langkah untuk pemenangan capres pada tahun 2014 nanti tersebut.
Namun Mahfud akan mengumumkan pada bulan Mei 2013 soal kepastian akan maju capres atau tidak. Usai menghadiri Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jember, Mahfud mengatakan, dirinya senang dengan hasil survei namun untuk saat ini masih belum ingin memastikan maju capres.
"Sekarang itu senang dulu, soal ingin masih belum. Saya harus tahu diri, untuk maju kan harus punya uang, punya partai, harus kerja keras. Apalagi harus memasang gambar di berbagai kota, saya malas, itu narsis. Coba lihat saja, tidak ada kan. Kalaupun ada yang memasang, itu bukan saya yang masang," ujar Mahfud MD, Kamis (25/10).
Dia menambahkan, soal jatidirinya sering disebut lembaga survei dia juga bersyukur akan hal tersebut. "Artinya ada orang yang menganggap layak. Saya senang dengan kemucnulan di berbagai survei. Padahal saya tidak memasang gambar dimana-mana, tidak pernah berkampanye. Hanya Orang hanya tahu begitu saja, lalu mengusulkan. Saya tidak melakukan langkah-langkah agar saya diperhitungkan, saya senang, tapi senang itu belum tentu ingin," katanya.
Mahfud sendiri menegaskan cukup rasional menghadapi perhelatan pemilu presiden nanti.
"Saya rasional. Saya pengikut dan pembaca survei yang setia. Langkah selanjutnya akan membentuk tim monitor yang akademis, bukan untuk memanas-manasi yang lain, oleh sebab itu seperti saat ini ke Jember ada tim kecil, ada pak Masduki yang memonitor pada setiap perkembangan yang ada. Nantinya tim itu memberikan sebuah perkembangan yang nantinya akan memberikan pandangan kepada saya untuk melakukan langkah selanjutnya. Dan atas pertimbangan itu saya bisa, boleh atau tidak untuk melangkah. Jawaban saya tentang itu, apakah saya kemudian boleh menjadi ingin, apa cukup sekedar senang, itu nanti pada bulan Mei akan saya jawab," ujarnya.
Menurut dia, di Indonesia saat ini banyak orang terserang penyakit kekuasaan. Kalau ada orang mendukung, lalu merasa hebat dan kemudian melakukan langkah dan apapun dilakukan. Namun sesudah tidak terpilih dan harta habis kadang menjadi gila.
"Lupa atas dukungan itu, padahal yang mendukung hanya teman dan keluarganya sendiri," tuturnya.
Namun Mahfud akan mengumumkan pada bulan Mei 2013 soal kepastian akan maju capres atau tidak. Usai menghadiri Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jember, Mahfud mengatakan, dirinya senang dengan hasil survei namun untuk saat ini masih belum ingin memastikan maju capres.
"Sekarang itu senang dulu, soal ingin masih belum. Saya harus tahu diri, untuk maju kan harus punya uang, punya partai, harus kerja keras. Apalagi harus memasang gambar di berbagai kota, saya malas, itu narsis. Coba lihat saja, tidak ada kan. Kalaupun ada yang memasang, itu bukan saya yang masang," ujar Mahfud MD, Kamis (25/10).
Dia menambahkan, soal jatidirinya sering disebut lembaga survei dia juga bersyukur akan hal tersebut. "Artinya ada orang yang menganggap layak. Saya senang dengan kemucnulan di berbagai survei. Padahal saya tidak memasang gambar dimana-mana, tidak pernah berkampanye. Hanya Orang hanya tahu begitu saja, lalu mengusulkan. Saya tidak melakukan langkah-langkah agar saya diperhitungkan, saya senang, tapi senang itu belum tentu ingin," katanya.
Mahfud sendiri menegaskan cukup rasional menghadapi perhelatan pemilu presiden nanti.
"Saya rasional. Saya pengikut dan pembaca survei yang setia. Langkah selanjutnya akan membentuk tim monitor yang akademis, bukan untuk memanas-manasi yang lain, oleh sebab itu seperti saat ini ke Jember ada tim kecil, ada pak Masduki yang memonitor pada setiap perkembangan yang ada. Nantinya tim itu memberikan sebuah perkembangan yang nantinya akan memberikan pandangan kepada saya untuk melakukan langkah selanjutnya. Dan atas pertimbangan itu saya bisa, boleh atau tidak untuk melangkah. Jawaban saya tentang itu, apakah saya kemudian boleh menjadi ingin, apa cukup sekedar senang, itu nanti pada bulan Mei akan saya jawab," ujarnya.
Menurut dia, di Indonesia saat ini banyak orang terserang penyakit kekuasaan. Kalau ada orang mendukung, lalu merasa hebat dan kemudian melakukan langkah dan apapun dilakukan. Namun sesudah tidak terpilih dan harta habis kadang menjadi gila.
"Lupa atas dukungan itu, padahal yang mendukung hanya teman dan keluarganya sendiri," tuturnya.
(azh)