Nelayan Glagah keluhkan pemecah ombak
Minggu, 21 Oktober 2012 - 20:00 WIB
Nelayan Glagah keluhkan pemecah ombak
A
A
A
Sindonews.com – Nelayan Pantai Glagah, Kulonprogo, Jawa Tengah, mengeluhkan pemecah ombak pelabuhan ikan Tanjung Adikarta. Pemecah ombak menjadi momok nelayan karena kerap menghancurkan perahu dan mengancam nyawa mereka.
"Pada 2012 ini sedikitnya ada enam perahu tempel rusak menabrak pemecah ombak yang tak kunjung selesai. Bagi kami, pemecah ombak seperti tempat yang angker," kata Ketua Kelompok Nelayan Ngudi Mulyo Pantai Glagah Supriyanto, di Jawa Tengah, Minggu (21/10/2012).
Dia mengatakan, pembangunan pemecah ombak Tanjung Adikarta seperti tidak menggunakan teknologi canggih. Sebab, bongkahan batu yang ditata rapi banyak yang hanyut ke tengah laut dan ke samping. Akibatnya, sering kali kapal nelayan menabrak batu tersebut.
"Kami sering kali menabrak batu pemecah ombak yang terbawa ombak, sehingga kapal bocor. Sebenarnya kami mendukung pembangunan pelabuhan ini. Tapi kami minta pembangunannya dilaksanakan dengan baik," katanya.
Menurutnya, kerugian yang harus ditanggung nelayan akibat menabrak pemecah ombak tidaklah sedikit. Secara keseluruhan, kerugian nelayan tahun ini sekitar Rp200 juta.
Angka itu dihitung berdasarkan harga per satu kapal tempel yang mencapai Rp30 hingga Rp35 juta, jala Rp4 juta hingga Rp5 juta.
"Setelah kapal menabrak pemecah ombak pasti langsung terbalik. Nelayan langsung meninggalkan kapal begitu saja. Karena hanya ada dua pilihan saat menabrak pemecah ombak yaitu mati atau kapal hilang," tegasnya.
"Pada 2012 ini sedikitnya ada enam perahu tempel rusak menabrak pemecah ombak yang tak kunjung selesai. Bagi kami, pemecah ombak seperti tempat yang angker," kata Ketua Kelompok Nelayan Ngudi Mulyo Pantai Glagah Supriyanto, di Jawa Tengah, Minggu (21/10/2012).
Dia mengatakan, pembangunan pemecah ombak Tanjung Adikarta seperti tidak menggunakan teknologi canggih. Sebab, bongkahan batu yang ditata rapi banyak yang hanyut ke tengah laut dan ke samping. Akibatnya, sering kali kapal nelayan menabrak batu tersebut.
"Kami sering kali menabrak batu pemecah ombak yang terbawa ombak, sehingga kapal bocor. Sebenarnya kami mendukung pembangunan pelabuhan ini. Tapi kami minta pembangunannya dilaksanakan dengan baik," katanya.
Menurutnya, kerugian yang harus ditanggung nelayan akibat menabrak pemecah ombak tidaklah sedikit. Secara keseluruhan, kerugian nelayan tahun ini sekitar Rp200 juta.
Angka itu dihitung berdasarkan harga per satu kapal tempel yang mencapai Rp30 hingga Rp35 juta, jala Rp4 juta hingga Rp5 juta.
"Setelah kapal menabrak pemecah ombak pasti langsung terbalik. Nelayan langsung meninggalkan kapal begitu saja. Karena hanya ada dua pilihan saat menabrak pemecah ombak yaitu mati atau kapal hilang," tegasnya.
(mhd)