Korban tewas truk Damkar bertambah
Minggu, 21 Oktober 2012 - 16:03 WIB
Korban tewas truk Damkar bertambah
A
A
A
Sindonews.com - Salah satu korban kritis akibat kecelakaan antara mobil pemadam kebakaran (Damkar) dengan mobil angkutan kota (angkot) dilaporkan telah tewas.
Sebelumnya, korban tewas seketika di tempat adalah Salli Bone (52), pada 20 Oktober 2012 malam, sekira pukul 20.10 WITA. Sementara, korban lainnya, Sanna Binti Hamid (40) itu, tewas setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Menurut adik korban Anto, berdasarkan informasi dari tim medis RSU Wahidin, korban mengalami patah tulang rusuk, hingga menusuk ke bagian paru paru.
Selain patah tulang, ada beberapa organ tubuh korban yang mengalami luka. Padahal, sebelumnya sudah direncanakan melakukan operasi pada Senin 22 Oktober 2012.
“Sejak dirujuk ke Makassar dari RS Bantaeng, Sanna tidak pernah sadarkan diri,” ujar Anto.
Korban sempat kritis pada Sabtu 20 Oktober sekira pukul 21.10 WITA. Saat itu dari mulut korban keluar darah yang cukup banyak.
Anto mengatakan, kematian kakaknya belum diketahui Ibunya (Saliama), yang juga menjadi korban tabrakan.
Dia khawatir kondisi ibunya, akan semakin memburuk jika mengetahui putrinya ikut meninggal akibat kecelakaan tersebut.
"Ibu masih menjalani perawatan di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng. Nanti kita sampaikan setelah kondisi kesehatannya sudah membaik. Suaminya juga masih belum bisa bicara banyak, karena kaget dengan kejadian ini,” tuturnya.
Sekadar diketahui, terjadi kecelakaan pada Kamis 18 Oktober 2012, antara mobil Damkar Pemkab Bantaeng yang akan menuju ke lokasi Kebakaran di Desa Bete Balle.
Namun, sebelum tiba di lokasi, tepatnya di Jalan Poros Kampung Pasorongi, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng. Mobil Damkar tersebut menabrak angkot hingga menyebabkan satu orang tewas seketika, dan 13 orang luka-luka.
Sebelumnya, korban tewas seketika di tempat adalah Salli Bone (52), pada 20 Oktober 2012 malam, sekira pukul 20.10 WITA. Sementara, korban lainnya, Sanna Binti Hamid (40) itu, tewas setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Menurut adik korban Anto, berdasarkan informasi dari tim medis RSU Wahidin, korban mengalami patah tulang rusuk, hingga menusuk ke bagian paru paru.
Selain patah tulang, ada beberapa organ tubuh korban yang mengalami luka. Padahal, sebelumnya sudah direncanakan melakukan operasi pada Senin 22 Oktober 2012.
“Sejak dirujuk ke Makassar dari RS Bantaeng, Sanna tidak pernah sadarkan diri,” ujar Anto.
Korban sempat kritis pada Sabtu 20 Oktober sekira pukul 21.10 WITA. Saat itu dari mulut korban keluar darah yang cukup banyak.
Anto mengatakan, kematian kakaknya belum diketahui Ibunya (Saliama), yang juga menjadi korban tabrakan.
Dia khawatir kondisi ibunya, akan semakin memburuk jika mengetahui putrinya ikut meninggal akibat kecelakaan tersebut.
"Ibu masih menjalani perawatan di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng. Nanti kita sampaikan setelah kondisi kesehatannya sudah membaik. Suaminya juga masih belum bisa bicara banyak, karena kaget dengan kejadian ini,” tuturnya.
Sekadar diketahui, terjadi kecelakaan pada Kamis 18 Oktober 2012, antara mobil Damkar Pemkab Bantaeng yang akan menuju ke lokasi Kebakaran di Desa Bete Balle.
Namun, sebelum tiba di lokasi, tepatnya di Jalan Poros Kampung Pasorongi, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng. Mobil Damkar tersebut menabrak angkot hingga menyebabkan satu orang tewas seketika, dan 13 orang luka-luka.
(maf)