Katarak, masih balita harus pakai kacamata tebal
Sabtu, 20 Oktober 2012 - 22:14 WIB
Katarak, masih balita harus pakai kacamata tebal
A
A
A
Sindonews.com - Karisha, bayi 11 bulan, tampak sudah terbiasa memakai kacamata berlensa cembung tebal dengan ukuran plus 6. Anak pasangan Erdi (40) dan Ira (35), warga Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar) itu seperti orang dewasa yang menjadikan kacamata sebagai kebutuhan untuk membatu penglihatannya.
Kharisa adalah anak kedua dari pasangan Erdi dan Ira yang sama-sama menderita penyakit mata low vision. Sehingga, penyakit penglihatan yang diderita Kharisa terjadi akibat faktor keturunan mengngat orang tuanya sama-sama low vision.
Erdi menuturkan, sebelumnya dokter spesialis matanya sudah menuturkan bahwa kemungkinan anaknya akan mengalami low vision juga. “Tetapi anak pertama kami, kakaknya Kharisa, sehat dengan mata normal. Dia sudah kelas 7 SMP,” ungkap Erdi menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (20/10/2012).
Kharisa sudah menjalani operasi katarak sejak 6 bulan lalu. Saat ini sedang menjalani proses penyembuhan. Jadi sejak usia 6 bulan, bocah manis ini sudah memakai kacamata berlensa tebal. Yang namanya anak kecil, apalagi bayi, awalnya selalu menolak jika dipakaikan kacamata. Namun lama-kelamaan, Kharisa mulai mengenal fungsi kacamatanya.
Meski baru berusia 6 bulan waktu itu, dia sudah bisa merasakan bedanya penglihatan dengan atau tanpa memakai kacamata. Selanjutnya, Kharisa punya kebiasaan memperbaiki posisi kacamata yang dipakainya. Dia akan membetulkan letak kacamata di kedua matanya jika kacamata itu merosot atau dirasanya kurang pas. Jika merasa pegal, dia menyimpan dulu kacamatanya, lalu memakainya kembali.
Ketika dimandikan ibunya, Kharisa mengerti melepas kacamata. Namun saat nonton televisi, Kharisa ngerti sendiri memakai kacamata. Begitu juga ketika dia akan tidur suka melepas kacamatanya sendiri, dan akan mencari kacamatanya jika terbangun. “Awalnya susah, sekarang sudah ketagihan,” kata Erdi.
Karena usia 6 bulan sudah memakai kacamata, Kharisa menjadi salah satu bayi yang menjadi tamu kehormatan dalam acara hali mata sedunia (World Sight Day) di RS Mata Cicendo yang dihadiri Wakil Menteri Ali Ghufron beberapa waktu lalu.
Waktu itu, Kharisa tidak sendiri. Masih ada dua balita dan satu anak yang sudah memakai kacamata berlensa tebal, yakni si kembar usia 16 bulan Keisha-Kaila dan kakaknya yang sudah berusia empat tahun, Raina. Sehingga, empat anak-anak yang memakai kacamata tebal ini.
Direktur Utama RS Mata Cicendo, dr Hikmat Wangsaatmadja mengatakan, katarak saat ini mudah diatasi, termasuk katarak pada anak. Caranya, dengan operasi pengangkatan katarak. Namun, khusus untuk anak, penanganannya berbeda. Anak di bawah usia tiga tahun pasca operasi harus memakai kacamata. Tetapi setelah usia 3 tahun nantinya matanya akan normal kembali.
"Mata anak mendekati usia dewasa saat umur 3 tahun. Jadi operasi di bawah usia 3 tahun perlu program khusus. Tapi di atas 3 tahun bisa langsung dioperasi," terangnya.
Kharisa adalah anak kedua dari pasangan Erdi dan Ira yang sama-sama menderita penyakit mata low vision. Sehingga, penyakit penglihatan yang diderita Kharisa terjadi akibat faktor keturunan mengngat orang tuanya sama-sama low vision.
Erdi menuturkan, sebelumnya dokter spesialis matanya sudah menuturkan bahwa kemungkinan anaknya akan mengalami low vision juga. “Tetapi anak pertama kami, kakaknya Kharisa, sehat dengan mata normal. Dia sudah kelas 7 SMP,” ungkap Erdi menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (20/10/2012).
Kharisa sudah menjalani operasi katarak sejak 6 bulan lalu. Saat ini sedang menjalani proses penyembuhan. Jadi sejak usia 6 bulan, bocah manis ini sudah memakai kacamata berlensa tebal. Yang namanya anak kecil, apalagi bayi, awalnya selalu menolak jika dipakaikan kacamata. Namun lama-kelamaan, Kharisa mulai mengenal fungsi kacamatanya.
Meski baru berusia 6 bulan waktu itu, dia sudah bisa merasakan bedanya penglihatan dengan atau tanpa memakai kacamata. Selanjutnya, Kharisa punya kebiasaan memperbaiki posisi kacamata yang dipakainya. Dia akan membetulkan letak kacamata di kedua matanya jika kacamata itu merosot atau dirasanya kurang pas. Jika merasa pegal, dia menyimpan dulu kacamatanya, lalu memakainya kembali.
Ketika dimandikan ibunya, Kharisa mengerti melepas kacamata. Namun saat nonton televisi, Kharisa ngerti sendiri memakai kacamata. Begitu juga ketika dia akan tidur suka melepas kacamatanya sendiri, dan akan mencari kacamatanya jika terbangun. “Awalnya susah, sekarang sudah ketagihan,” kata Erdi.
Karena usia 6 bulan sudah memakai kacamata, Kharisa menjadi salah satu bayi yang menjadi tamu kehormatan dalam acara hali mata sedunia (World Sight Day) di RS Mata Cicendo yang dihadiri Wakil Menteri Ali Ghufron beberapa waktu lalu.
Waktu itu, Kharisa tidak sendiri. Masih ada dua balita dan satu anak yang sudah memakai kacamata berlensa tebal, yakni si kembar usia 16 bulan Keisha-Kaila dan kakaknya yang sudah berusia empat tahun, Raina. Sehingga, empat anak-anak yang memakai kacamata tebal ini.
Direktur Utama RS Mata Cicendo, dr Hikmat Wangsaatmadja mengatakan, katarak saat ini mudah diatasi, termasuk katarak pada anak. Caranya, dengan operasi pengangkatan katarak. Namun, khusus untuk anak, penanganannya berbeda. Anak di bawah usia tiga tahun pasca operasi harus memakai kacamata. Tetapi setelah usia 3 tahun nantinya matanya akan normal kembali.
"Mata anak mendekati usia dewasa saat umur 3 tahun. Jadi operasi di bawah usia 3 tahun perlu program khusus. Tapi di atas 3 tahun bisa langsung dioperasi," terangnya.
(azh)