Jika gempa 6,5 SR, Bandung rugi Rp4 T
Kamis, 18 Oktober 2012 - 21:58 WIB
Jika gempa 6,5 SR, Bandung rugi Rp4 T
A
A
A
Sindonews.com - Kota Bandung diperkirakan akan menderita kerugian hingga Rp4 triliun jika terjadi gempa akibat bergeraknya sesar Lembang. Kerugian dihitung dari jumlah bangunan yang roboh atau rusak saja.
"Rp4 Triliun itu harga bangunannya saja. Jika gempa 6,5 magnitude," kata Pakar gempa dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) ITB Irwan Meilano, di Bandung, Kamis (18/10/2012).
Irwan menjelaskan, skenario gempa 6,5 maksimum magnitude sendiri merupakan hasil periodesasi dari siklus gempa 400 tahunan. Skenario ini hasil riset para pakar gempa, di antaranya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan ITB.
Angka jumlah kerugian tersebut menurut Irwan, hasil klasifikasi berdasarkan kualitas bangunan di Bandung Raya dengan sebaran di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Madya Bandung, Cimahi, dan sebagian kecil Subang.
Kerusakan terbesar selain karena kualitas bangunan yang tidak tahan gempa, juga karena sebagian besar tanah di Bandung memiliki sedimen halus. Sehingga rentan ketika terjadi gempa bumi.
Sedangkan daerah yang berdampak paling kecil akibat gempa bumi adalah daerah yang jauh dengan sumber gempa.
"Secara teoritis semakin jauh tempat dengan sumber gempa dampaknya makin kecil," terangnya.
Lanjutnya, kerugian tersebut akibat pengaruh Sesar Lembang, yakni patahan gempa bumi aktif yang panjangnya antara 20 hingga 25 kilometer. Puncak sesar ini di daerah Observatorium Boscha, Lembang, KBB.
Saat ini, Sesar Lembang terus dipantau para ahli gempa yang sejak 2006 dipasang seismik dan GPS. Sesar Lembang dipastikan aktif berdasarkan pemantauan yang selalu bergerak 6 milimeter per tahun.
"Rp4 Triliun itu harga bangunannya saja. Jika gempa 6,5 magnitude," kata Pakar gempa dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) ITB Irwan Meilano, di Bandung, Kamis (18/10/2012).
Irwan menjelaskan, skenario gempa 6,5 maksimum magnitude sendiri merupakan hasil periodesasi dari siklus gempa 400 tahunan. Skenario ini hasil riset para pakar gempa, di antaranya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan ITB.
Angka jumlah kerugian tersebut menurut Irwan, hasil klasifikasi berdasarkan kualitas bangunan di Bandung Raya dengan sebaran di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Madya Bandung, Cimahi, dan sebagian kecil Subang.
Kerusakan terbesar selain karena kualitas bangunan yang tidak tahan gempa, juga karena sebagian besar tanah di Bandung memiliki sedimen halus. Sehingga rentan ketika terjadi gempa bumi.
Sedangkan daerah yang berdampak paling kecil akibat gempa bumi adalah daerah yang jauh dengan sumber gempa.
"Secara teoritis semakin jauh tempat dengan sumber gempa dampaknya makin kecil," terangnya.
Lanjutnya, kerugian tersebut akibat pengaruh Sesar Lembang, yakni patahan gempa bumi aktif yang panjangnya antara 20 hingga 25 kilometer. Puncak sesar ini di daerah Observatorium Boscha, Lembang, KBB.
Saat ini, Sesar Lembang terus dipantau para ahli gempa yang sejak 2006 dipasang seismik dan GPS. Sesar Lembang dipastikan aktif berdasarkan pemantauan yang selalu bergerak 6 milimeter per tahun.
(rsa)