Mahasiswa Aceh kritik media lokal
Minggu, 14 Oktober 2012 - 01:25 WIB
Mahasiswa Aceh kritik media lokal
A
A
A
Sindonews.com - Mahasiswa Universitas Syiahkuala (Unsyiah) Banda Aceh berharap media di Aceh menegakkan kode etik jurnalistik. Selain itu meminta media tidak hanya berorientasi bisnis tapi juga kepentingan sosial.
Hal tersebut diungkapkan para mahasiswa komunikasi, sosiologi dan politik Unsyiah dalam pertemuan bertajuk Syariatkan Media di Taman Putro Phang Banda Aceh, sore tadi, Sabtu 13 Oktober 2012 sore.
Diskusi ini dilatarbelakangi kekecewaan terhadap salah satu media lokal yang dinilai telah menghakimi PE (16), gadis asal Kota Langsa yang kemudian ditemukan meninggal tergantung di rumahnya.
Media lokal tersebut dinilai menghakimi PE dengan menyebutnya pelacur setelah ditangkap Wilayatul Hisbah (WH/polisi syariat Aceh) di lapangan Merdeka.
"Kematian PE menjadi bahan pembicaraan hangat di kantin kampus, kemudian kami ikuti diskusi salah satu LSM sepulang dari situ kami bangun gerakan Syariatkan Media," jelas Muda Bentara, salah seorang pembicara.
Para mahasiswa berharap media di Aceh tidak mencari keuntungan lewat pemberitaan sex, darah dan mistik. Melainkan memberikan pendidikan untuk masyarakat.
"Selama ini kode etik jurnalistik dikangkangi," tegas Reza Fahlevi, salah seorang peserta diskusi.
Jabal Ali Husin Sab, salah seorang mahasiswa dalam pertemuan itu menyatakan media kriminal dengan bahasa vulgar dapat merusak mental masyarakat selain degradasi moral.
"Media berbahasa vulgar bagaimana caranya tidak dicampak di meja makan sehingga dibaca anak-anak berdampak terjadi degradasi moral," jelasnya.
Belasan mahasiswa itu juga menyatakan kecewa dengan salah satu koran lokal yang sepekan terakhir dinilai terus membangun citra media Islami.
"Media ini menjadikan Islam sebagai kedok padahal mereka menghancurkan nilai-nilai Islam," ujar Reza Fahlevi, salah seorang peserta.
Hal tersebut diungkapkan para mahasiswa komunikasi, sosiologi dan politik Unsyiah dalam pertemuan bertajuk Syariatkan Media di Taman Putro Phang Banda Aceh, sore tadi, Sabtu 13 Oktober 2012 sore.
Diskusi ini dilatarbelakangi kekecewaan terhadap salah satu media lokal yang dinilai telah menghakimi PE (16), gadis asal Kota Langsa yang kemudian ditemukan meninggal tergantung di rumahnya.
Media lokal tersebut dinilai menghakimi PE dengan menyebutnya pelacur setelah ditangkap Wilayatul Hisbah (WH/polisi syariat Aceh) di lapangan Merdeka.
"Kematian PE menjadi bahan pembicaraan hangat di kantin kampus, kemudian kami ikuti diskusi salah satu LSM sepulang dari situ kami bangun gerakan Syariatkan Media," jelas Muda Bentara, salah seorang pembicara.
Para mahasiswa berharap media di Aceh tidak mencari keuntungan lewat pemberitaan sex, darah dan mistik. Melainkan memberikan pendidikan untuk masyarakat.
"Selama ini kode etik jurnalistik dikangkangi," tegas Reza Fahlevi, salah seorang peserta diskusi.
Jabal Ali Husin Sab, salah seorang mahasiswa dalam pertemuan itu menyatakan media kriminal dengan bahasa vulgar dapat merusak mental masyarakat selain degradasi moral.
"Media berbahasa vulgar bagaimana caranya tidak dicampak di meja makan sehingga dibaca anak-anak berdampak terjadi degradasi moral," jelasnya.
Belasan mahasiswa itu juga menyatakan kecewa dengan salah satu koran lokal yang sepekan terakhir dinilai terus membangun citra media Islami.
"Media ini menjadikan Islam sebagai kedok padahal mereka menghancurkan nilai-nilai Islam," ujar Reza Fahlevi, salah seorang peserta.
(ysw)