Lestarikan budaya, SMPN 16 gunakan bahasa dan kebaya Sunda
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 22:10 WIB
Lestarikan budaya, SMPN 16 gunakan bahasa dan kebaya Sunda
A
A
A
Sindonews.com - Lestarikan budaya Sunda, SMPN 16 terapkan penggunaan bahasa Sunda setiap hari Rabu. Selain bahasa, para guru juga menggunakan pakaian adat khas Sunda.
"Kalau yang laki-laki biasanya pakai iket (kain berbentuk bujur sangkar yang dikenakan kaum pria Sunda untuk menutupi kepala). Nah, buat Ibu gurunya, pakai kebaya Sunda," terang Kepala Sekolah SMPN 16 Bandung Jajang Hernawan, Jumat (12/10/2012).
Menurutnya, penggunaan bahasa Sunda oleh para siswa dan guru ada sebelum Perda Kota Bandung Nomor 9 tahun 2012 disahkan pada Juni 2012 lalu. Bahkan, setelah adanya perda tersebut pihaknya merasa terlindungi secara hukum untuk melestarikan dan menerapkan kebudayaan Sunda di lingkungan sekolah.
"Kami juga mengembangkan ekskul pupuh, jaipongan, angklung, pidato Sunda, dan dongeng Sunda bagi siswa. Hal itu sebagai life skill mereka ke depan,” tuturnya.
Dengan adanya bantuan dari Bank BI Jabar Banten berupa seperangkat alat gamelan, Jajang berharap hal tersebut bisa menjadi motifasi agar bisa terus mengembangkan kebudayaan Sunda.
"Tong nepi lamun geus di paok (gamelan) raribut (jangan sampai kalau sudah dicuri (gamelan) baru pada ribut)," tegasnya.
Ditanya apakah ada kesulitan untuk mengajarkan budaya dan bahasa Sunda, dia menuturkan tidak ada kesulitan. Pasalnya, kebanyakan guru yang berada di SMPN 16 memiliki keahlian dalam beberapa kebudayaan.
"Jadi dari 53 guru itu mereka memiliki kemampuan masing-masing. Namun, yang fokus mengurusi gamelan itu ada empat orang guru," terangnya.
Kedepan, lanjut dia, pihaknya berharap bisa mengembangkan kebudayaan Sunda selain bahasa dan budaya. "Cicil satu-satu dulu. Mudah-mudahan nanti kita juga bisa mengajarkan mengenai aksara Sunda yang sudah mulai terlupakan," pungkasnya.
"Kalau yang laki-laki biasanya pakai iket (kain berbentuk bujur sangkar yang dikenakan kaum pria Sunda untuk menutupi kepala). Nah, buat Ibu gurunya, pakai kebaya Sunda," terang Kepala Sekolah SMPN 16 Bandung Jajang Hernawan, Jumat (12/10/2012).
Menurutnya, penggunaan bahasa Sunda oleh para siswa dan guru ada sebelum Perda Kota Bandung Nomor 9 tahun 2012 disahkan pada Juni 2012 lalu. Bahkan, setelah adanya perda tersebut pihaknya merasa terlindungi secara hukum untuk melestarikan dan menerapkan kebudayaan Sunda di lingkungan sekolah.
"Kami juga mengembangkan ekskul pupuh, jaipongan, angklung, pidato Sunda, dan dongeng Sunda bagi siswa. Hal itu sebagai life skill mereka ke depan,” tuturnya.
Dengan adanya bantuan dari Bank BI Jabar Banten berupa seperangkat alat gamelan, Jajang berharap hal tersebut bisa menjadi motifasi agar bisa terus mengembangkan kebudayaan Sunda.
"Tong nepi lamun geus di paok (gamelan) raribut (jangan sampai kalau sudah dicuri (gamelan) baru pada ribut)," tegasnya.
Ditanya apakah ada kesulitan untuk mengajarkan budaya dan bahasa Sunda, dia menuturkan tidak ada kesulitan. Pasalnya, kebanyakan guru yang berada di SMPN 16 memiliki keahlian dalam beberapa kebudayaan.
"Jadi dari 53 guru itu mereka memiliki kemampuan masing-masing. Namun, yang fokus mengurusi gamelan itu ada empat orang guru," terangnya.
Kedepan, lanjut dia, pihaknya berharap bisa mengembangkan kebudayaan Sunda selain bahasa dan budaya. "Cicil satu-satu dulu. Mudah-mudahan nanti kita juga bisa mengajarkan mengenai aksara Sunda yang sudah mulai terlupakan," pungkasnya.
(mhd)