300 pelajar tukang tawuran di Depok bertemu
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 13:49 WIB
300 pelajar tukang tawuran di Depok bertemu
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kota Depok dan Polres Depok menggelar kegiatan temu pelajar bersama 300 siswa yang diduga kerap terlibat aksi tawuran. Kegiatan positif itu, digelar dalam bentuk outbond di Panti Asuhan Wisma Karya Bakti, Yayasan Otista, Jalan Curuk Bojong Sari, Sawangan Depok.
Apel utama dipimpin langsung Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri Dinas Pendidikan Kota Depok. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari dan diakhiri dengan ikrar anti tawuran.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi pembinaan berjenjang antar cluster agar anak-anak didik bisa saling bersinergi. Nur Mahmudi menambahkan, hal itu untuk membuka ruang–ruang dialog komunikasi antara pelajar yang sering terlibat tawuran.
“Tak ada upaya untuk menakut-nakuti, saling membuka komunikasi, para guru dan pendidik yang mendirikan lembaga pendidikan, sesuatu yang mulia. Dalam perspektif kenegaraan ini sesuatu yang memenuhi UU. Penyempurnaan pendidikan bangsa, apa yang telah dilakukan, memperkokoh kita dalam mencipkan kondisi kualitas anak didik kita, penuh rasa tanggung jawab,” katanya dalam sambutannya, Jumat (12/10/2012).
Dia menambahkan, kenakalan remaja masih bisa ditolerir jika masih dalam taraf wajar. Namun, hal itu menjadi luar biasa untuk diperbaiki karena saat ini sudah memakan banyak korban karena tawuran.
“Pelajar jangan gampang terprovokasi, kita perlu musyawarah bahas problema remaja, kalau masalah klasik nakal di rumah itu biasa. Yang tak enak kalau anak kita jadi korban insiden di luar rumah, tawuran atau narkoba, ini problema kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kemenag juga harus ikut proses pembinaan,” jelasnya.
Ia juga mendorong setiap sekolah memiliki Standar Pelayanan Minimum (SPM) untuk meningkatkan kualitas siswa. “Kita juga punya banyak masalah, sekolah masih kurang. Banyak anak-anak kita masih sekolah di luar Depok karena kurangnya sekolah di Depok," tandasnya.
Apel utama dipimpin langsung Kapolres Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri Dinas Pendidikan Kota Depok. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari dan diakhiri dengan ikrar anti tawuran.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi pembinaan berjenjang antar cluster agar anak-anak didik bisa saling bersinergi. Nur Mahmudi menambahkan, hal itu untuk membuka ruang–ruang dialog komunikasi antara pelajar yang sering terlibat tawuran.
“Tak ada upaya untuk menakut-nakuti, saling membuka komunikasi, para guru dan pendidik yang mendirikan lembaga pendidikan, sesuatu yang mulia. Dalam perspektif kenegaraan ini sesuatu yang memenuhi UU. Penyempurnaan pendidikan bangsa, apa yang telah dilakukan, memperkokoh kita dalam mencipkan kondisi kualitas anak didik kita, penuh rasa tanggung jawab,” katanya dalam sambutannya, Jumat (12/10/2012).
Dia menambahkan, kenakalan remaja masih bisa ditolerir jika masih dalam taraf wajar. Namun, hal itu menjadi luar biasa untuk diperbaiki karena saat ini sudah memakan banyak korban karena tawuran.
“Pelajar jangan gampang terprovokasi, kita perlu musyawarah bahas problema remaja, kalau masalah klasik nakal di rumah itu biasa. Yang tak enak kalau anak kita jadi korban insiden di luar rumah, tawuran atau narkoba, ini problema kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kemenag juga harus ikut proses pembinaan,” jelasnya.
Ia juga mendorong setiap sekolah memiliki Standar Pelayanan Minimum (SPM) untuk meningkatkan kualitas siswa. “Kita juga punya banyak masalah, sekolah masih kurang. Banyak anak-anak kita masih sekolah di luar Depok karena kurangnya sekolah di Depok," tandasnya.
(san)