Pemkot Depok bantu pulihkan trauma keluarga Sofian
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 00:33 WIB
Pemkot Depok bantu pulihkan trauma keluarga Sofian
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kota Depok akan membantu istri dan anak Sofian yang menjadi terduga teroris, melupakan trauma yang dideritanya saat penangkapan Sofian oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
Saat mendapatkan kunjungan dari Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Somad, Suryati menceritakan jika dirinya masih trauma dengan proses penangkapan yang dilakukan Densus 88 Antiteror. Pasalnya, penangkapan tersebut dilakukan dengan cara menginjak-injak tubuh Sofian yang masih menggunakan sarung usai menunaikan sholat magrib.
"Saya merasa kaget, trauma, dan tidak mengetahui kalau suami saya menjadi terduga teroris peledakan bom di Beji, Depok," katanya di Depok, Jawa Barat, Kamis (11/10/2012).
Dia mengungkapkan, dirinya memang tidak mengetahui seluruh kegiatan yang dilakukan suaminya selama ini. Pasalnya, Sofian memang jarang pulang ke rumah, karena bekerja di Jakarta.
Ketua RT 04 tempat Suryati tinggal menyebutkan, Sofian dan keluarganya sudah hampir tiga tahun tinggal di Depok. Warga juga jarang bertemu dengan Sofian, karena jarang berada di rumah.
"Saya bertemu dengan Sofian hanya pas proses pembuatan KTP saja. Waktu itu pasfoto buat KTP Sofian salah warna, dan saya minta dia menggantinya. Sofian pulang ke Depok setiap dua minggu sekali," ujarnya.
Selain itu, dia juga meminta agar Suryati mau bergabung dalam setiap kegiatan yang yang ada di lingkungannya. "Warga minta dia untuk membuka diri, dan ikut dalam segala kegiatan yang ada di lingkungannya, karena tetangga adalah saudara terdekat," tandasnya.
Saat mendapatkan kunjungan dari Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Somad, Suryati menceritakan jika dirinya masih trauma dengan proses penangkapan yang dilakukan Densus 88 Antiteror. Pasalnya, penangkapan tersebut dilakukan dengan cara menginjak-injak tubuh Sofian yang masih menggunakan sarung usai menunaikan sholat magrib.
"Saya merasa kaget, trauma, dan tidak mengetahui kalau suami saya menjadi terduga teroris peledakan bom di Beji, Depok," katanya di Depok, Jawa Barat, Kamis (11/10/2012).
Dia mengungkapkan, dirinya memang tidak mengetahui seluruh kegiatan yang dilakukan suaminya selama ini. Pasalnya, Sofian memang jarang pulang ke rumah, karena bekerja di Jakarta.
Ketua RT 04 tempat Suryati tinggal menyebutkan, Sofian dan keluarganya sudah hampir tiga tahun tinggal di Depok. Warga juga jarang bertemu dengan Sofian, karena jarang berada di rumah.
"Saya bertemu dengan Sofian hanya pas proses pembuatan KTP saja. Waktu itu pasfoto buat KTP Sofian salah warna, dan saya minta dia menggantinya. Sofian pulang ke Depok setiap dua minggu sekali," ujarnya.
Selain itu, dia juga meminta agar Suryati mau bergabung dalam setiap kegiatan yang yang ada di lingkungannya. "Warga minta dia untuk membuka diri, dan ikut dalam segala kegiatan yang ada di lingkungannya, karena tetangga adalah saudara terdekat," tandasnya.
(lil)