LSM Amerika dukung pendidikan inklusif di Kuningan
Kamis, 11 Oktober 2012 - 09:34 WIB
LSM Amerika dukung pendidikan inklusif di Kuningan
A
A
A
Sindonews.com - Tekad Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menjadikan Kuningan sebagai kabupaten inklusif mendapat dukungan dari Yayasan Hellen Keller Internasional (HKI).
lembaga swadaya masyarakat (LSM) asal Amerika yang fokus mengampanyekan persoalan pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK) ini siap memberikan dukungan agar pendidikan inklusif di Kabupaten Kuningan bisa terselenggara dengan baik.
Kasubag Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga pada Bagian Kesra Setda Kuningan Elon Carlan mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan yayasan tersebut dalam rangka menyelaraskan persepsi dan komitmen tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kabupaten Kuningan.
Hal ini sesuai dengan Perbup Nomor 43 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Kuningan.
"Yang terbaru, kami baru melakukan pertemuan dengan perwakilan HKI Indonesia di kantor Setda Kuningan dengan dihadiri langsung oleh bupati dan dinas terkait untuk membicarakan komitmen tersebut. Kegiatan mereka selaras dengan upaya Pemerintah Kuningan dalam upaya memberikan pelayanan pendidikan yang merata," ujar Elon, Rabu 10 Oktober 2012.
Bentuk kerja sama yang bakal terjalin, lanjut Elon, adalah segala hal yang berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan akses bagi para ABK mendapatkan pendidikan formal tidak hanya di sekolah luar biasa (SLB), namun di sekolah umum.
Di antaranya melalui transformasi sistem pendidikan dengan memberikan pelatihan bagi guru sekolah umum agar bisa mengajar untuk siswa berkebutuhan khusus.
"Selain itu mengupayakan kemudahan akses pendidikan dengan memberdayakan sekolah reguler serta meningkatkan pemahaman badan legislatif agar pendidikan inklusif bisa berjalan efisien," katanya.
Diakui elon, sebelumnya Yayasan HKI pernah memberikan pelatihan bagi 25 guru sekolah umum mulai dari tingkat SD hingga SMA tentang metode pengajaran bagi siswa ABK.
Dari hasil pertemuan terakhir, lanjut Elon, ke depannya akan diupayakan beberapa kegiatan untuk mewujudkan pendidikan inklusif seperti workshop yang akan diikuti oleh instansi dan SKPD atau bahkan anggota legislatif.
Mengenai upaya pemerintah Kabupaten Kuningan sendiri untuk merealisasikan pendidikan inklusif yang sesuai harapan, dikatakan Elon, kini telah disahkan dalam APBD perubahan anggaran untuk pendidikan bagi 25 guru sekolah umum yang lain untuk bisa mengajar siswa ABK.
"Dalam Perbup sudah jelas, diharapkan seluruh sekolah di Kabupaten Kuningan bisa menampung siswa berkebutuhan khusus. Setelah 25 guru mendapat pelatihan dari Hellen Keller, kini Pemkab Kuningan sendiri yang akan membiayai 25 guru yang lain untuk dididik agar bisa mengajar siswa ABK. Secara bertahap, kami upayakan setiap sekolah memiliki guru bagi ABK," harap Elon.
lembaga swadaya masyarakat (LSM) asal Amerika yang fokus mengampanyekan persoalan pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK) ini siap memberikan dukungan agar pendidikan inklusif di Kabupaten Kuningan bisa terselenggara dengan baik.
Kasubag Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga pada Bagian Kesra Setda Kuningan Elon Carlan mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan yayasan tersebut dalam rangka menyelaraskan persepsi dan komitmen tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif di Kabupaten Kuningan.
Hal ini sesuai dengan Perbup Nomor 43 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Kuningan.
"Yang terbaru, kami baru melakukan pertemuan dengan perwakilan HKI Indonesia di kantor Setda Kuningan dengan dihadiri langsung oleh bupati dan dinas terkait untuk membicarakan komitmen tersebut. Kegiatan mereka selaras dengan upaya Pemerintah Kuningan dalam upaya memberikan pelayanan pendidikan yang merata," ujar Elon, Rabu 10 Oktober 2012.
Bentuk kerja sama yang bakal terjalin, lanjut Elon, adalah segala hal yang berkaitan dengan upaya memberikan kemudahan akses bagi para ABK mendapatkan pendidikan formal tidak hanya di sekolah luar biasa (SLB), namun di sekolah umum.
Di antaranya melalui transformasi sistem pendidikan dengan memberikan pelatihan bagi guru sekolah umum agar bisa mengajar untuk siswa berkebutuhan khusus.
"Selain itu mengupayakan kemudahan akses pendidikan dengan memberdayakan sekolah reguler serta meningkatkan pemahaman badan legislatif agar pendidikan inklusif bisa berjalan efisien," katanya.
Diakui elon, sebelumnya Yayasan HKI pernah memberikan pelatihan bagi 25 guru sekolah umum mulai dari tingkat SD hingga SMA tentang metode pengajaran bagi siswa ABK.
Dari hasil pertemuan terakhir, lanjut Elon, ke depannya akan diupayakan beberapa kegiatan untuk mewujudkan pendidikan inklusif seperti workshop yang akan diikuti oleh instansi dan SKPD atau bahkan anggota legislatif.
Mengenai upaya pemerintah Kabupaten Kuningan sendiri untuk merealisasikan pendidikan inklusif yang sesuai harapan, dikatakan Elon, kini telah disahkan dalam APBD perubahan anggaran untuk pendidikan bagi 25 guru sekolah umum yang lain untuk bisa mengajar siswa ABK.
"Dalam Perbup sudah jelas, diharapkan seluruh sekolah di Kabupaten Kuningan bisa menampung siswa berkebutuhan khusus. Setelah 25 guru mendapat pelatihan dari Hellen Keller, kini Pemkab Kuningan sendiri yang akan membiayai 25 guru yang lain untuk dididik agar bisa mengajar siswa ABK. Secara bertahap, kami upayakan setiap sekolah memiliki guru bagi ABK," harap Elon.
(mhd)