Musim hujan, tanggul Sungai Progo belum diperbaiki
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 17:54 WIB
Musim hujan, tanggul Sungai Progo belum diperbaiki
A
A
A
Sindonews.com – Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar aliran Sungai Progo, diminta lebih waspada. Jika turun hujan lebat, sungai akan meluap dan berpotensi banjir karena tanggul yang rusak belum diperbaiki.
“Kalau hulu hujan lebat, aliran sungainya akan penuh kembali. Sungai sudah dangkal. Ini dapat berdampak negatif bagi permukiman di sepanjang sungai,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho menjelaskan, Jumat (5/10/2012).
Menurut Eko, banjir lahar dingin dua tahun terakhir menimbulkan kerusakan parah pada tanggul. Kondisi paling parah terjadi di Desa Banjarsari dan Banaran. Hingga kini, baru tanggul di Banaran yang sudah diperbaiki, sedangkan di Banjarsari kondisinya masih belum diperbaiki.
“Tanggul di Banjarasri sebenarnya pernah diperbaiki dengan tanggul dari karung. Tapi kemudian langsung hanyut begitu diterjang banjir lagi. Warga mulai memanfaatkan material bawaan banjir untuk mengurangi resiko meluas ke permukiman. Tapi kalau hujan lebat, materialnya pasti penuh lagi,” tandasnya.
Dia menyatakan, sebenarnya Sungai Progo perlu dinormalisasi untuk meminimalisir dampak banjir lahar dingin. Tapi pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan karena wilayah itu merupakan tanggung jawab Balai Besar Sungai Serayu Opak. “Kita tidak berwenang melakukan normalisasi,” pungkasnya.
Camat Kalibawang, Nur Wahyudi mengatakan kondisi Sungai Progo yang sudah dipenuhi dengan material pasir dan batu mendesak dinormalisasi. Pasir dan batu yang ada perlu segera dikeruk sehingga kedalaman alur sungainya normal kembali.
“Warga yang bekerja atau bermukim di sekitar sungai kami imbau segera menjauh apabila terjadi hujan lebat,” katanya.
“Kalau hulu hujan lebat, aliran sungainya akan penuh kembali. Sungai sudah dangkal. Ini dapat berdampak negatif bagi permukiman di sepanjang sungai,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho menjelaskan, Jumat (5/10/2012).
Menurut Eko, banjir lahar dingin dua tahun terakhir menimbulkan kerusakan parah pada tanggul. Kondisi paling parah terjadi di Desa Banjarsari dan Banaran. Hingga kini, baru tanggul di Banaran yang sudah diperbaiki, sedangkan di Banjarsari kondisinya masih belum diperbaiki.
“Tanggul di Banjarasri sebenarnya pernah diperbaiki dengan tanggul dari karung. Tapi kemudian langsung hanyut begitu diterjang banjir lagi. Warga mulai memanfaatkan material bawaan banjir untuk mengurangi resiko meluas ke permukiman. Tapi kalau hujan lebat, materialnya pasti penuh lagi,” tandasnya.
Dia menyatakan, sebenarnya Sungai Progo perlu dinormalisasi untuk meminimalisir dampak banjir lahar dingin. Tapi pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan karena wilayah itu merupakan tanggung jawab Balai Besar Sungai Serayu Opak. “Kita tidak berwenang melakukan normalisasi,” pungkasnya.
Camat Kalibawang, Nur Wahyudi mengatakan kondisi Sungai Progo yang sudah dipenuhi dengan material pasir dan batu mendesak dinormalisasi. Pasir dan batu yang ada perlu segera dikeruk sehingga kedalaman alur sungainya normal kembali.
“Warga yang bekerja atau bermukim di sekitar sungai kami imbau segera menjauh apabila terjadi hujan lebat,” katanya.
(azh)