Tren masalah sosial bergeser ke Depok
Rabu, 03 Oktober 2012 - 17:02 WIB
Tren masalah sosial bergeser ke Depok
A
A
A
Sindonews.com - Tren masalah sosial ternyata kini mulai bergeser dari Bekasi menuju Depok.
Hal itu disebabkan adanya kesenjangan sosial yang tinggi dan tingkat kepadatan penduduk yang signifikan. Fenomena tersebut menyebabkan munculnya permasalahan sosial baru di Depok.
“Dalam kurun waktu dua tahun, masalah sosial di Depok sangat tinggi yang disebabkan adanya arus urbanisasi. Dulu yang mengalami kondisi serupa adalah Bekasi. Segala tindak kriminal ada di sana, kini Depok menjadi daerah sasaran juga,” kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya, kini Depok juga menjadi incaran pelaku tindak kriminal perdagangan manusia (trafficking) untuk komersial.
Kepadatan penduduk serta daya tarik Depok sebagai magnet diakuinya sangat kuat mendorong banyaknya masalah sosial. Di balik pembangunan fisik Depok yang mewah, di belakangnya terdapat banyak sekali masalah sosial.
“Ini karena problema sosial tidak tertangangi dengan baik. Selain itu, adanya tingkat gesekan yang tinggi. Biasanya terjadi pada masa remaja karena energi mereka belum terkontrol dengan baik,” lanjutnya.
Kurangnya perhatian dari pemerintah kota, sambung dia, menjadi pemicu lain tingginya masalah sosial di Depok. Tercatat, Depok menduduki peringkat pertama kasus kriminal anak se-Jabodetabek. Termasuk kasus perdagangan manusia untuk komersil.
Setidaknya, perdagangan manusia terutama anak dibawah 18 tahun mencapai 40.000 hingga 70.000 kasus per tahun. Anak remaja itu dijual hingga keluar negeri melalui Batam. “Disana ada pintu keluar masuk untuk keluar negeri,” tutup dia.
Hal itu disebabkan adanya kesenjangan sosial yang tinggi dan tingkat kepadatan penduduk yang signifikan. Fenomena tersebut menyebabkan munculnya permasalahan sosial baru di Depok.
“Dalam kurun waktu dua tahun, masalah sosial di Depok sangat tinggi yang disebabkan adanya arus urbanisasi. Dulu yang mengalami kondisi serupa adalah Bekasi. Segala tindak kriminal ada di sana, kini Depok menjadi daerah sasaran juga,” kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya, kini Depok juga menjadi incaran pelaku tindak kriminal perdagangan manusia (trafficking) untuk komersial.
Kepadatan penduduk serta daya tarik Depok sebagai magnet diakuinya sangat kuat mendorong banyaknya masalah sosial. Di balik pembangunan fisik Depok yang mewah, di belakangnya terdapat banyak sekali masalah sosial.
“Ini karena problema sosial tidak tertangangi dengan baik. Selain itu, adanya tingkat gesekan yang tinggi. Biasanya terjadi pada masa remaja karena energi mereka belum terkontrol dengan baik,” lanjutnya.
Kurangnya perhatian dari pemerintah kota, sambung dia, menjadi pemicu lain tingginya masalah sosial di Depok. Tercatat, Depok menduduki peringkat pertama kasus kriminal anak se-Jabodetabek. Termasuk kasus perdagangan manusia untuk komersil.
Setidaknya, perdagangan manusia terutama anak dibawah 18 tahun mencapai 40.000 hingga 70.000 kasus per tahun. Anak remaja itu dijual hingga keluar negeri melalui Batam. “Disana ada pintu keluar masuk untuk keluar negeri,” tutup dia.
(rsa)