BAS 2014 tak akan libatkan FASI lagi
Selasa, 02 Oktober 2012 - 15:44 WIB
BAS 2014 tak akan libatkan FASI lagi
A
A
A
Sindonews.com - Bandung Air Show (BAS) akan tetap digelar dalam memperingati hari jadi Kota Bandung pada dua tahun mendatang. Namun pesawat Federasi Aerosport Indonesia (FASI) diputuskan tidak akan diikutsertakan lagi.
Keputusan tersebut dilatari kecelakaan udara yang sering terjadi pada pesawat milik FASI. Dalam dua kali penyelenggaraan BAS pada tahun 2010 dan 2012, pesawat milik FASI selalu jatuh ketiga melakukan manuver di udara.
Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda mengatakan, evaluasi dilakukan oleh Pemkot Bandung, DPRD, Lanud Husein Sastranegara, Dishub, dan Disbudpar Kota Bandung.
"Dari kejadian 2010 dan 2012 itu yang mengalami insiden dari FASI, untuk itu mereka tidak akan dilibatkan pada pertunjukan akrobatik,” jelas Ayi, Selasa (2/10/2012).
Meski demikian, FASI akan tetap dilibatkan dalam pertunjukan terjun payung dan aeromodeling. Sebagai gantinya, atraksi akrobatik akan melibatkan unsur TNI yang sudah terlatih.
Menurut Ayi, BAS harus tetap diadakan sebagai tontonan dan meningkatkan ekonomi kerakyatan.
“Kedepan BAS akan dirancang seperti gelaran pameran UMKM dan Kedirgantaraan. Sedangkan Air Shownya akan tetap digelar namun tidak melibatkan FASI,” katanya.
Selain mengevaluasi keikutsertaan FASI, pihaknya juga mengevaluasi mengenai dampak kemacetan yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Pasalnya, di saat bersamaan juga digelar Braga Festival.
"Kita akan pikirkan untuk menyediakan shuttle bus dengan kerja sama antara disbudpar dan dishub. Agar tidak terlalu macet," tuturnya.
Seperti diketahui pada Sabtu 29 September 2012, sekitar pukul 11.42 WIB pesawat Bravo AS 202 bernomor registrasi LM 2003 milik FASI jatuh di luar Lanud Husein Sastranegara. Dua orang Pilot-co, Marsekal Purn Norman T Lubis dan Letkol Purn Toni Hartono, tewas di lokasi kejadian.
Sebelumnya pada BAS pertama, Jumat 24 September 2010, pesawat Super Decathlon PK-NZP jatuh di area Lanud Husein Satranegara. Pesawat diterbangkan Alexander Supelli.
Kecelakaan ini mengakibatkan Alex mendapatkan luka bakar 60 persen, patah tulang kaki, dan trauma di beberapa bagian tubuhnya seperti dada, dan perut. Alex akhirnya meninggal pada 27 September 2010, setelah mendapat perawatan intensif di RS Hasan Sadikin.
Keputusan tersebut dilatari kecelakaan udara yang sering terjadi pada pesawat milik FASI. Dalam dua kali penyelenggaraan BAS pada tahun 2010 dan 2012, pesawat milik FASI selalu jatuh ketiga melakukan manuver di udara.
Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda mengatakan, evaluasi dilakukan oleh Pemkot Bandung, DPRD, Lanud Husein Sastranegara, Dishub, dan Disbudpar Kota Bandung.
"Dari kejadian 2010 dan 2012 itu yang mengalami insiden dari FASI, untuk itu mereka tidak akan dilibatkan pada pertunjukan akrobatik,” jelas Ayi, Selasa (2/10/2012).
Meski demikian, FASI akan tetap dilibatkan dalam pertunjukan terjun payung dan aeromodeling. Sebagai gantinya, atraksi akrobatik akan melibatkan unsur TNI yang sudah terlatih.
Menurut Ayi, BAS harus tetap diadakan sebagai tontonan dan meningkatkan ekonomi kerakyatan.
“Kedepan BAS akan dirancang seperti gelaran pameran UMKM dan Kedirgantaraan. Sedangkan Air Shownya akan tetap digelar namun tidak melibatkan FASI,” katanya.
Selain mengevaluasi keikutsertaan FASI, pihaknya juga mengevaluasi mengenai dampak kemacetan yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Pasalnya, di saat bersamaan juga digelar Braga Festival.
"Kita akan pikirkan untuk menyediakan shuttle bus dengan kerja sama antara disbudpar dan dishub. Agar tidak terlalu macet," tuturnya.
Seperti diketahui pada Sabtu 29 September 2012, sekitar pukul 11.42 WIB pesawat Bravo AS 202 bernomor registrasi LM 2003 milik FASI jatuh di luar Lanud Husein Sastranegara. Dua orang Pilot-co, Marsekal Purn Norman T Lubis dan Letkol Purn Toni Hartono, tewas di lokasi kejadian.
Sebelumnya pada BAS pertama, Jumat 24 September 2010, pesawat Super Decathlon PK-NZP jatuh di area Lanud Husein Satranegara. Pesawat diterbangkan Alexander Supelli.
Kecelakaan ini mengakibatkan Alex mendapatkan luka bakar 60 persen, patah tulang kaki, dan trauma di beberapa bagian tubuhnya seperti dada, dan perut. Alex akhirnya meninggal pada 27 September 2010, setelah mendapat perawatan intensif di RS Hasan Sadikin.
(lns)