Pakar Kelautan ITS heran KRI Klewang terbakar
Senin, 01 Oktober 2012 - 19:59 WIB
Pakar Kelautan ITS heran KRI Klewang terbakar
A
A
A
Sindonews.com - Kejadian terbakarnya KRI Klewang di dermaga Pangkalan TNI AL, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), masih menimbulkan pertanyaan berbagai pihak. Pakar kelautan ITS Surabaya pun dibuat heran dengan kebakaran tersebut.
“Kapal terbakar begitu cepat, belum ada kejadian seperti ini sebelumnya karena memang rasanya tidak mungkin badan kapal bisa terbakar begitu cepat,” ungkap Ketua Pusat Studi Kelautan ITS Aries Sulistyono dalam diskusi bersama media untuk memberikan pandangan dan rekomendasi, Senin (1/10/2012).
Ia menjelaskan, secara umum ruang kamar mesin KRI Klewangn yang tertutup merupakan zona yang paling sensitif dan paling sering menjadi penyebab timbulnya kebakaran yang massif dari sebuah kapal.
Penyebabnya, kondisi ruang kamar mesin yang tertutup dengan tersebarnya bahan bakar, minyak pelumas atau cairan hidrolik yang berada di sekitar mesin penggerak utama. Di mana suhunya di atas 200-250 derajat celsius termasuk daya mesin kapal dari KRI Klewang yang mencapai 550 Horse Power (HP).
Berkaitan dengan kondisi kamar mesin ini kegiatan pengelasan di dalam kamar mesin juga kerap menjadi penyebab utama kebakaran. Khususnya jika tidak dijalankan prosedur dan pengawasan proses pengelasan di dalam.
"Untuk kapal-kapal perang, proses pemasangan amunisi atau peralatan persenjataan juga seringkali menjadi faktor penyebab terjadinya kebakaran di atas kapal-kapal perang saat proses penyelesaian akhirnya," jelasnya.
Ia juga mengatakan, ada hal-hal lain yang perlu menjadi perhatian otoritas militer termasuk tentara matra laut. Kapal-kapal militer memiliki standar kelayakan sendiri atau juga mengadopsi aturan teknis kapal-kapal sipil.
Namun dalam banyak kasus, proses pembangunan atau galangan dari kapal-kapal militer Indonesia kurang atau bahkan tidak mengikuti prosedur peraturan.
Seperti, proses dan peraturan distribusi listrik, sistem proteksi kebakaran, proses pengujian mesin dan kapal di galangan pun sebaiknya paling tidak galangan kapal yang menangani kapal-kapal militer termasuk KRI perlu mengadopsi aturan-aturan baku pembangunan atau pengujian kapal seperti standar Biro Klasifikasi Indonesia atau standar klasifikasi asing lainnya.
"Berkenaan dengan kejadian kebakaran ini, ITS siap membantu Kementerian Pertahanan RI atau TNI-AL untuk melakukan proses assessment (penilaian) atau penyiapan sistem dan prosedur baku guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang. Demikian juga pihak ITS siap membantu proses investigasi kebakaran bersama TNI-AL dan atau Kementerian Pertahanan," tandasnya.
“Kapal terbakar begitu cepat, belum ada kejadian seperti ini sebelumnya karena memang rasanya tidak mungkin badan kapal bisa terbakar begitu cepat,” ungkap Ketua Pusat Studi Kelautan ITS Aries Sulistyono dalam diskusi bersama media untuk memberikan pandangan dan rekomendasi, Senin (1/10/2012).
Ia menjelaskan, secara umum ruang kamar mesin KRI Klewangn yang tertutup merupakan zona yang paling sensitif dan paling sering menjadi penyebab timbulnya kebakaran yang massif dari sebuah kapal.
Penyebabnya, kondisi ruang kamar mesin yang tertutup dengan tersebarnya bahan bakar, minyak pelumas atau cairan hidrolik yang berada di sekitar mesin penggerak utama. Di mana suhunya di atas 200-250 derajat celsius termasuk daya mesin kapal dari KRI Klewang yang mencapai 550 Horse Power (HP).
Berkaitan dengan kondisi kamar mesin ini kegiatan pengelasan di dalam kamar mesin juga kerap menjadi penyebab utama kebakaran. Khususnya jika tidak dijalankan prosedur dan pengawasan proses pengelasan di dalam.
"Untuk kapal-kapal perang, proses pemasangan amunisi atau peralatan persenjataan juga seringkali menjadi faktor penyebab terjadinya kebakaran di atas kapal-kapal perang saat proses penyelesaian akhirnya," jelasnya.
Ia juga mengatakan, ada hal-hal lain yang perlu menjadi perhatian otoritas militer termasuk tentara matra laut. Kapal-kapal militer memiliki standar kelayakan sendiri atau juga mengadopsi aturan teknis kapal-kapal sipil.
Namun dalam banyak kasus, proses pembangunan atau galangan dari kapal-kapal militer Indonesia kurang atau bahkan tidak mengikuti prosedur peraturan.
Seperti, proses dan peraturan distribusi listrik, sistem proteksi kebakaran, proses pengujian mesin dan kapal di galangan pun sebaiknya paling tidak galangan kapal yang menangani kapal-kapal militer termasuk KRI perlu mengadopsi aturan-aturan baku pembangunan atau pengujian kapal seperti standar Biro Klasifikasi Indonesia atau standar klasifikasi asing lainnya.
"Berkenaan dengan kejadian kebakaran ini, ITS siap membantu Kementerian Pertahanan RI atau TNI-AL untuk melakukan proses assessment (penilaian) atau penyiapan sistem dan prosedur baku guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang. Demikian juga pihak ITS siap membantu proses investigasi kebakaran bersama TNI-AL dan atau Kementerian Pertahanan," tandasnya.
(azh)