Pelajar berpocong kecam tawuran
Kamis, 27 September 2012 - 11:25 WIB
Pelajar berpocong kecam tawuran
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan Siswa SMA Takmiriyah, Bandung, mengecam tawuran pelajar yang belakangan marak dan menimbulkan korban jiwa. Dalam aksinya, mereka menggelar aksi teatrikal dengan berpakaian pocong.
Aksi puluhan pelajar ini digelar di depan sekolah yang berada di Jalan Indrapura Surabaya. Selain membentangkan sejumlah poster berisikan penolakan atas tragedi tawuran.
Dalam teatrikalnya, para siswa ini didramakan terlibat tawuran hingga menyebabkan dua orang tewas. Dua siswa berdandan ala pocong, untuk menyimbolkan korban jiwa dalam tawuran tersebut.
"Kami menolak tawuran dan narkoba yang menyebabkan mati muda. Lebih baik kita melakukan kegiatan yang positif seperti ekstra kurikuler dan lain-lain," kata M Nuromadhoni, pelajar kelas XI IPA 1, Kamis (27/9/2012).
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan Sucipto menambahkan, ekstrakurikuler ini dijadikan sebagai sarana untuk menjalin komunikasi dengan sekolah lain. Tak hanya itu sejumlah instansi juga dilibatkan untuk mencegah terjadinya tawuran antar pelajar dan Narkoba.
Ia mengatakan, ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh Polrestabes Surabaya, Pemkot, dan BNN memberikan sarasehan kepada pelajar. "Setiap satu bulan sekali kami ada sarasehan dengan intansi-instansi pemerintah itu," ujarnya.
Ia juga menilai, terjadinya tawuran antar pelajar di ibu kota lebih pada proses lingkungan. Artinya, tingkat persaingan di kawasan tersebut sangat tinggi begitu juga dengan tekanan-tekanan yang ada.
Jika mereka yang berpikir positif, tentunya menyikapi persaingan itu sebagai bentuk hal yang positif. Namun bagi mereka yang berpikiran negatif tentunya akan mengambil jalan pintas.
Di sekolah Takmiriyah ini, lanjutnya, ada penanaman pendidikan agama kepada siswa dengan porsi enam jam per minggu. Dengan begitu dapat menekan angka tawuran antar pelajar.
"Kami mengecam tawuran antar pelajar. Dan Alhamdulillah, sekolah Takmiriyah tidak pernah terlibat tawuran," tukasnya.
Aksi puluhan pelajar ini digelar di depan sekolah yang berada di Jalan Indrapura Surabaya. Selain membentangkan sejumlah poster berisikan penolakan atas tragedi tawuran.
Dalam teatrikalnya, para siswa ini didramakan terlibat tawuran hingga menyebabkan dua orang tewas. Dua siswa berdandan ala pocong, untuk menyimbolkan korban jiwa dalam tawuran tersebut.
"Kami menolak tawuran dan narkoba yang menyebabkan mati muda. Lebih baik kita melakukan kegiatan yang positif seperti ekstra kurikuler dan lain-lain," kata M Nuromadhoni, pelajar kelas XI IPA 1, Kamis (27/9/2012).
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan Sucipto menambahkan, ekstrakurikuler ini dijadikan sebagai sarana untuk menjalin komunikasi dengan sekolah lain. Tak hanya itu sejumlah instansi juga dilibatkan untuk mencegah terjadinya tawuran antar pelajar dan Narkoba.
Ia mengatakan, ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh Polrestabes Surabaya, Pemkot, dan BNN memberikan sarasehan kepada pelajar. "Setiap satu bulan sekali kami ada sarasehan dengan intansi-instansi pemerintah itu," ujarnya.
Ia juga menilai, terjadinya tawuran antar pelajar di ibu kota lebih pada proses lingkungan. Artinya, tingkat persaingan di kawasan tersebut sangat tinggi begitu juga dengan tekanan-tekanan yang ada.
Jika mereka yang berpikir positif, tentunya menyikapi persaingan itu sebagai bentuk hal yang positif. Namun bagi mereka yang berpikiran negatif tentunya akan mengambil jalan pintas.
Di sekolah Takmiriyah ini, lanjutnya, ada penanaman pendidikan agama kepada siswa dengan porsi enam jam per minggu. Dengan begitu dapat menekan angka tawuran antar pelajar.
"Kami mengecam tawuran antar pelajar. Dan Alhamdulillah, sekolah Takmiriyah tidak pernah terlibat tawuran," tukasnya.
(ysw)