Buruh pencari kapuk tercebur ke limbah aspal
Senin, 24 September 2012 - 22:59 WIB
Buruh pencari kapuk tercebur ke limbah aspal
A
A
A
Sindonews.com - Nahas dialami Usmar (32) warga Desa Karanglo Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Buruh pencari kapuk randu ini celaka dalam kubangan limbah panas milik sebuah perusahaan pengolahan aspal di Desa Jeladri Kecamatan Winongan.
Akibat tercebur limbah panas ini, kedua kaki korban mengalami luka bakar hingga bagian betis. Untuk memulihkan kesehatannya, korban harus menjalani rawat inap di RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan.
Peristiwa ini terjadi ketika korban yang menjadi buruh angkut kapuk randu bermaksud mencari air bersih dikawasan rawan kekeringan tersebut. Mengetahui ada tandon air didalam perusahaan aspal, korban masuk melintasi jalan setapak yang tidak berpagar.
Namun ia tidak menyadari jalan yang dilalui tersebut ternyata adalah kubangan tempat penampungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Saat melintas, kedua kakinya langsung amblas dilimbah panas tersebut.
"Limbah panas itu tidak bedanya dengan tumpukan tanah. Saat berjalan, kedua kaki saya langsung amblas hingga dibagian betis," ujar Usmar, Senin (24/9/2012).
Karni, kerabat korban menyayangkan pihak perusahaan yang tidak memasang rambu atau tanda peringatan bahaya disekitar kubangan limbah berbahaya tersebut. Karena lokasi pembuangan limbah tersebut berada disekitar jalan setapak yang sering dilalui masyarakat setempat.
"Pagar pembatas pabrik yang terbuat dari seng sudah tidak tertata dengan baik. Apalagi pagar itu tingginya hanya 50 cm. Sehingga masyarakat kerap melintasinya. Tapi dilokasi itu tidak ada tanda peringatan bahaya," kata Karni.
Camat Winongan Agus Pudjianto menyatakan bahwa pihaknya mengakui ada perusahaan pengoalahan aspal dikawasan tersebut. Namun ia tidak mengetahui jika tempat pembuangan limbahnya berada diareal terbuka yang kerap dilalui masyarakat.
Akibat tercebur limbah panas ini, kedua kaki korban mengalami luka bakar hingga bagian betis. Untuk memulihkan kesehatannya, korban harus menjalani rawat inap di RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan.
Peristiwa ini terjadi ketika korban yang menjadi buruh angkut kapuk randu bermaksud mencari air bersih dikawasan rawan kekeringan tersebut. Mengetahui ada tandon air didalam perusahaan aspal, korban masuk melintasi jalan setapak yang tidak berpagar.
Namun ia tidak menyadari jalan yang dilalui tersebut ternyata adalah kubangan tempat penampungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Saat melintas, kedua kakinya langsung amblas dilimbah panas tersebut.
"Limbah panas itu tidak bedanya dengan tumpukan tanah. Saat berjalan, kedua kaki saya langsung amblas hingga dibagian betis," ujar Usmar, Senin (24/9/2012).
Karni, kerabat korban menyayangkan pihak perusahaan yang tidak memasang rambu atau tanda peringatan bahaya disekitar kubangan limbah berbahaya tersebut. Karena lokasi pembuangan limbah tersebut berada disekitar jalan setapak yang sering dilalui masyarakat setempat.
"Pagar pembatas pabrik yang terbuat dari seng sudah tidak tertata dengan baik. Apalagi pagar itu tingginya hanya 50 cm. Sehingga masyarakat kerap melintasinya. Tapi dilokasi itu tidak ada tanda peringatan bahaya," kata Karni.
Camat Winongan Agus Pudjianto menyatakan bahwa pihaknya mengakui ada perusahaan pengoalahan aspal dikawasan tersebut. Namun ia tidak mengetahui jika tempat pembuangan limbahnya berada diareal terbuka yang kerap dilalui masyarakat.
(ysw)