Dihalangi polisi, demo Hari Tani ricuh
Senin, 24 September 2012 - 15:44 WIB
Dihalangi polisi, demo Hari Tani ricuh
A
A
A
Sindonews.com - Ratusan buruh tani Bulukumba yang bergabung dalam organisasi aliansi gerekan reforma agrari (Agra) menggelar unjukrasa memperingati Hari Tani Nasional 52 di depan kantor Bupati Bulukumba.
Namun, unjukrasa ini berakhir ricuh ketika polisi menghalangi warga saat hendak memasuki kantor bupati bertemu Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan. Bahkan, Wakapolres kompol Yayat Ruhiyat turun mengamankan pengunjukrasa pun nyaris bentrok.
Beruntung, kejadian tersebut tidak berlangsung lama setelah warga dan polisi sepakat membiarkan pengunjukrasa memasuki area kantor bupati dengan tertib. Pengunjukrasa menyampaikan orasi politiknya di depan pintu masuk kantor bupati.
Koordinator lapangan Arsyad mengungkapkan kehadiran buruh tani di kantor ini hanya untuk melakukan dialog dengan bupati mengenai perkembangan rencana pengukuran Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Lonsum yang disepakati sebelumnya. Hanya saja, niat ini dihalangi pihak polisi sehingga warga marah.
“Kami hanya ingin bertemu dengan bapak bupati mempertanyakan sejauh mana proses rencana pengukuran HGU Lonsum. Sebab, jangan sampai ini dibiarkan tanpa ada proses yang jelas. Sedang ada masalah di sana karena tanah warga dirampas Lonsum,” ungkap Ruslan menjelaskan kepada wartawan, Senin (24/9/2012).
Dia menambahkan, kehadiran buruh tani hanya mau memperjelas sikap pemerintah terhadap persoalan yang ada PT Lonsum khususnya HGU. Menurut dia, masyarakat sudah bosan dijanji pihak Pemkab segera menyelesaikan HGU, namun hingga sekarang belum ada titik terang.
Bahkan, Arsyad menegaskan, pihaknya bersama demonstran akan tetap bertahan di Kantor Bupati Bulukumba sampai bisa bertemu dengan bupati. Mereka ingin menyampaikan langsung sejauh mana pemkab menyikapi yang disuarakan warga selama ini.
“Kami tidak akan pulang sebelum dipertemukan bupati. Saya mau berdialog langsung dengan dia,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Sub Bagian Pemberitaan dan Peliputan Humas Pemkab Bulukumba Asrul Sani mengemukakan, bupati tidak bisa menemui para pengunjukrasa karena sedang menerima tamu dari komunitas hutan kayu asal Jakarta. “Bupati lagi audience dengan komunitas kayu itu,” tutur Asrul.
Dijelaskan, pertemuan bersama komunitas kayu ini untuk membahas mengenai potensi dan peluang investasi di daerah ini. Sehingga tidak mungkin akan menemui para demonstran tersebut. “Mereka akan melakukan kerjsama untuk menerbitkan buku mengenai potensi di Bulukumba,” katanya.
Asrul berharap sebaiknya warga bersabar karena proses rencana pengukuran HGU PT Lonsum sedang dalam tahap pembahasan. Bahkan, lanjutnya, bupati akan melakukan pertemuan dengan pihak Lonsum untuk membahas persoalan ini.
“Semua sudah diproses. Hanya saja, hasilnya tidak semuda membalik telapak tangan karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui,” tandasnya.
Namun, unjukrasa ini berakhir ricuh ketika polisi menghalangi warga saat hendak memasuki kantor bupati bertemu Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan. Bahkan, Wakapolres kompol Yayat Ruhiyat turun mengamankan pengunjukrasa pun nyaris bentrok.
Beruntung, kejadian tersebut tidak berlangsung lama setelah warga dan polisi sepakat membiarkan pengunjukrasa memasuki area kantor bupati dengan tertib. Pengunjukrasa menyampaikan orasi politiknya di depan pintu masuk kantor bupati.
Koordinator lapangan Arsyad mengungkapkan kehadiran buruh tani di kantor ini hanya untuk melakukan dialog dengan bupati mengenai perkembangan rencana pengukuran Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Lonsum yang disepakati sebelumnya. Hanya saja, niat ini dihalangi pihak polisi sehingga warga marah.
“Kami hanya ingin bertemu dengan bapak bupati mempertanyakan sejauh mana proses rencana pengukuran HGU Lonsum. Sebab, jangan sampai ini dibiarkan tanpa ada proses yang jelas. Sedang ada masalah di sana karena tanah warga dirampas Lonsum,” ungkap Ruslan menjelaskan kepada wartawan, Senin (24/9/2012).
Dia menambahkan, kehadiran buruh tani hanya mau memperjelas sikap pemerintah terhadap persoalan yang ada PT Lonsum khususnya HGU. Menurut dia, masyarakat sudah bosan dijanji pihak Pemkab segera menyelesaikan HGU, namun hingga sekarang belum ada titik terang.
Bahkan, Arsyad menegaskan, pihaknya bersama demonstran akan tetap bertahan di Kantor Bupati Bulukumba sampai bisa bertemu dengan bupati. Mereka ingin menyampaikan langsung sejauh mana pemkab menyikapi yang disuarakan warga selama ini.
“Kami tidak akan pulang sebelum dipertemukan bupati. Saya mau berdialog langsung dengan dia,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Sub Bagian Pemberitaan dan Peliputan Humas Pemkab Bulukumba Asrul Sani mengemukakan, bupati tidak bisa menemui para pengunjukrasa karena sedang menerima tamu dari komunitas hutan kayu asal Jakarta. “Bupati lagi audience dengan komunitas kayu itu,” tutur Asrul.
Dijelaskan, pertemuan bersama komunitas kayu ini untuk membahas mengenai potensi dan peluang investasi di daerah ini. Sehingga tidak mungkin akan menemui para demonstran tersebut. “Mereka akan melakukan kerjsama untuk menerbitkan buku mengenai potensi di Bulukumba,” katanya.
Asrul berharap sebaiknya warga bersabar karena proses rencana pengukuran HGU PT Lonsum sedang dalam tahap pembahasan. Bahkan, lanjutnya, bupati akan melakukan pertemuan dengan pihak Lonsum untuk membahas persoalan ini.
“Semua sudah diproses. Hanya saja, hasilnya tidak semuda membalik telapak tangan karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui,” tandasnya.
(azh)