Terminal bus Blandongan mangkrak
Minggu, 23 September 2012 - 18:28 WIB
Terminal bus Blandongan mangkrak
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi Teminal Blandongan Kota Pasuruan cukup memprihatinkan. Terminal yang dibangun dengan anggaran Rp10 miliar, hingga kini tidak menunjukkan gelagat yang menggembirakan.
Bahkan pendapatan terminal tersebut hanya Rp15 juta pertahun. Dewan mengusulkan agar terminal itu dialih fungsikan menjadi area penjualan mobil bekas.
Terminal yang berdiri diatas lahan seluas dua hektar tersebut, tak ubahnya seperti terminal angkutan pedesaan di kecamatan. Bukan saja sepi dari armada maupun penumpangnya, puluhan kios yang disediakan juga tidak difungsikan.
Sekretaris Fraksi Keadilan Hati Nurani (FKHN) DPRD Kota Pasuruan, Luckhman Hakiem Bachmid mengungkapkan, keberadaan terminal Blandongan sejak didirikan hingga saat ini kondisinya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pendapatan terminal yang menjadi transit bus antar kota ini hanya berkisar Rp15 juta pertahun.
Minimnya pendapatan ini juga disokong ketidaktegasan aparat dalam menegakkan aturan. Selain dibiarkan tidak melintas didalam terminal, pada malam hari bus justru dibiarkan melaju melalui jalur tengah kota.
"Ada indikasi ketidakmauan para pengemudi bis masuk dalam terminal karena ketidaktegasan aparat terkait dalam penegakan pelanggaran hukum. Padahal diperempatan terminal telah berdiri pos-pos polisi dan petugas Dinas Perhubungan," kata Luchkman Hakiem, Minggu (23/9/2012).
Untuk mengoptimalkan keberadaan terminal baru, pihaknya mendesak kepada Pemkot Pasuruan untuk melakukan terobosan. Sehingga dana miliaran yang telah dikeluarkan tidak terbuang percuma. Pihaknya juga mengusulkan diareal tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ajang jual beli mobkas.
"Kami mengusulkan agar ada areal di terminal Blandongan yang bisa digunakan sebagai area jual beli mobkas," tegas Lukim, panggilan akrabnya.
Bahkan pendapatan terminal tersebut hanya Rp15 juta pertahun. Dewan mengusulkan agar terminal itu dialih fungsikan menjadi area penjualan mobil bekas.
Terminal yang berdiri diatas lahan seluas dua hektar tersebut, tak ubahnya seperti terminal angkutan pedesaan di kecamatan. Bukan saja sepi dari armada maupun penumpangnya, puluhan kios yang disediakan juga tidak difungsikan.
Sekretaris Fraksi Keadilan Hati Nurani (FKHN) DPRD Kota Pasuruan, Luckhman Hakiem Bachmid mengungkapkan, keberadaan terminal Blandongan sejak didirikan hingga saat ini kondisinya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pendapatan terminal yang menjadi transit bus antar kota ini hanya berkisar Rp15 juta pertahun.
Minimnya pendapatan ini juga disokong ketidaktegasan aparat dalam menegakkan aturan. Selain dibiarkan tidak melintas didalam terminal, pada malam hari bus justru dibiarkan melaju melalui jalur tengah kota.
"Ada indikasi ketidakmauan para pengemudi bis masuk dalam terminal karena ketidaktegasan aparat terkait dalam penegakan pelanggaran hukum. Padahal diperempatan terminal telah berdiri pos-pos polisi dan petugas Dinas Perhubungan," kata Luchkman Hakiem, Minggu (23/9/2012).
Untuk mengoptimalkan keberadaan terminal baru, pihaknya mendesak kepada Pemkot Pasuruan untuk melakukan terobosan. Sehingga dana miliaran yang telah dikeluarkan tidak terbuang percuma. Pihaknya juga mengusulkan diareal tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ajang jual beli mobkas.
"Kami mengusulkan agar ada areal di terminal Blandongan yang bisa digunakan sebagai area jual beli mobkas," tegas Lukim, panggilan akrabnya.
(ysw)