Faktor 'figur' berpengaruh dalam Pilgub DKI Jakarta
Jum'at, 21 September 2012 - 07:52 WIB
Faktor 'figur' berpengaruh dalam Pilgub DKI Jakarta
A
A
A
Sindonews.com - 'Kemenangan' pasangan Joko Widodo-Basuki T Purnama (Jokowi-Ahok) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang tergambar dalam hasil quick count beberapa lembaga survei, menunjukkan sosok figur merupakan faktor penting dalam pencalonan kepala daerah.
"Figur kandidat merupakan faktor penting dalam pencalonan Kepala Daerah," kata Pengamat politik Ray Rangkuti saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Kamis (20/9/2012).
Lebih lanjut, Ray mengungkapkan mobilisasi yang dilakukan Parpol terhadap pemilih akan kalah dengan sendirinya oleh figur tadi. Karena masyarakat akan lebih melihat figur yang bersih dibandingkan Parpol.
"Kemampuannya (Parpol) untuk memobilisasi pemilih kalah dibandingkan dengan figur yang ada. Figur bersih, dan memiliki sejarah panjang yang pengabdian kepada masyarakat menjadi ukuran," jelas Ray.
Sedangkan di sisi lain, turunnya kepopuleran Parpol di mata masyarakat sudah terlihat dalam putaran pertama. Putaran kedua ini makin memperkuat hal tersebut.
Berdasarkan data Lembaga Survei Indonesia (LSI), tingkat partisipasi pemilih dalam Pilgub DKI Jakarta putaran kedua yang sekitar 67,35 persen, pasangan Jokowi-Ahok unggul di lima wilayah sebaran suara per wilayah.
Di Jakarta Barat dari 88 TPS yang disurvei, perolehan suara Foke-Nara 46,04 persen, Jokowi-Ahok 53,96 persen, dengan partisipasi 71,08 persen.
Jakarta Pusat dari 45 TPS, Foke-Nara meraih 48,23 persen suara, dan Jokowi 51,77 persen, dengan tingkat partisipasi 65,69 persen.
Jakarta Selatan dari 86 TPS, Foke-Nara meraih 46,77 persen, Jokowi meraih 53,23 persen, dengan tingkat partisipasi 64,3 persen.
Jakarta Timur dari 111 TPS, Foke-Nara meraih 46,72 persen suara, dan Jokowi-Ahok meraih 53,28 persen, dengan tingkat partisipasi 65,11 persen.
Terakhir, Jakarta Utara dari 70 TPS, Foke-Nara meraih 43,36 persen suara, Jokowi-Ahok 56,64 persen, dengan tingkat partisipasi 63,63 persen.
"Figur kandidat merupakan faktor penting dalam pencalonan Kepala Daerah," kata Pengamat politik Ray Rangkuti saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Kamis (20/9/2012).
Lebih lanjut, Ray mengungkapkan mobilisasi yang dilakukan Parpol terhadap pemilih akan kalah dengan sendirinya oleh figur tadi. Karena masyarakat akan lebih melihat figur yang bersih dibandingkan Parpol.
"Kemampuannya (Parpol) untuk memobilisasi pemilih kalah dibandingkan dengan figur yang ada. Figur bersih, dan memiliki sejarah panjang yang pengabdian kepada masyarakat menjadi ukuran," jelas Ray.
Sedangkan di sisi lain, turunnya kepopuleran Parpol di mata masyarakat sudah terlihat dalam putaran pertama. Putaran kedua ini makin memperkuat hal tersebut.
Berdasarkan data Lembaga Survei Indonesia (LSI), tingkat partisipasi pemilih dalam Pilgub DKI Jakarta putaran kedua yang sekitar 67,35 persen, pasangan Jokowi-Ahok unggul di lima wilayah sebaran suara per wilayah.
Di Jakarta Barat dari 88 TPS yang disurvei, perolehan suara Foke-Nara 46,04 persen, Jokowi-Ahok 53,96 persen, dengan partisipasi 71,08 persen.
Jakarta Pusat dari 45 TPS, Foke-Nara meraih 48,23 persen suara, dan Jokowi 51,77 persen, dengan tingkat partisipasi 65,69 persen.
Jakarta Selatan dari 86 TPS, Foke-Nara meraih 46,77 persen, Jokowi meraih 53,23 persen, dengan tingkat partisipasi 64,3 persen.
Jakarta Timur dari 111 TPS, Foke-Nara meraih 46,72 persen suara, dan Jokowi-Ahok meraih 53,28 persen, dengan tingkat partisipasi 65,11 persen.
Terakhir, Jakarta Utara dari 70 TPS, Foke-Nara meraih 43,36 persen suara, Jokowi-Ahok 56,64 persen, dengan tingkat partisipasi 63,63 persen.
(azh)