Setahun dibangun, sekolah nyaris roboh
Kamis, 13 September 2012 - 09:26 WIB
Setahun dibangun, sekolah nyaris roboh
A
A
A
Sindonews.com - Belum setahun dipakai, dinding tembok gedung ruang kelas SMP Negeri 1 Haharu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), retak-retak. Hingga kini, para murid dan guru di sekolah itu diliputi kekuatiran dan ketakutan sewaktu–waktu tembok bisa saja roboh.
Sedikitnya dua ruang kelas dari empat ruang kelas baru yang dikerjakan oleh Kontraktor CV. Loko Kere Star tembok dan lantainya retak padahal baru beberapa bulan dikerjakakan. Proyek yang didanai APBD Sumba Timur senilai ratusan juta rupiah itu, nampak dikerjakan asal jadi oleh kontraktor hingga menepikan kualitas demi mengejar keuntungan semata.
Selain dinding tembok retak dan pecah–pecah, tiang beton penyanggah gedung juga telah pecah dan bengkok. Kondisi ini kian menambah keprihatinan murid dan para guru sekolah ini yang sejatinya sangat membutuhkan keberadaan ruang kelas.
"Sejak awal kami masuk di ruang kelas ini, kami sudah takut. Dindingnya retak, lantainya juga tidak rata dan pecah–pecah. Ruang yang satu malah tidak dipakai sama sekali, karena terlalu banyak retakan dan pecah–pecah pada lantai dan dindingnya," lirih Rosalia, bersama sejumlah rekan siswa lainnya, kepada wartawan, Kamis (13/9/2012).
Ice Boymau, Wakil Kepala SMPN 1 Haharu membenarkan kecemasan para murid dan guru–gurunya tersebut. "Pak, kami terlalu butuh ini ruangan kelas, jadi walaupun cemas dan takut kami tetap pakai ini ruangan sambil wanti-wanti murid agar cepat selamatkan diri jika ada angin kencang dan gempa," terangnya.
Ditambahkan dia, tidak perlu gempa besar, dua tiga kali gempa ringan saja, tembok sekolah itu bisa roboh. Pihak pemerintah dari instansi Pekerjaan Umum (PU) juga baru sekali melakukan survei. Tidak adanya ketegasan dan langkah penanganan terkait persoalan ini oleh pemerintah setempat, sangat disayangkan oleh sejumlah kalangan.
Lebih jauh, dia berharap, Dinas PU dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olaharaga, tidak diam. "Untung saja kami dapat informasi dari masyarakat, saat kami uji petik, jadi persoalan ini mencuat, kalau tidak apa jadinya," tambahnya.
Sedikitnya dua ruang kelas dari empat ruang kelas baru yang dikerjakan oleh Kontraktor CV. Loko Kere Star tembok dan lantainya retak padahal baru beberapa bulan dikerjakakan. Proyek yang didanai APBD Sumba Timur senilai ratusan juta rupiah itu, nampak dikerjakan asal jadi oleh kontraktor hingga menepikan kualitas demi mengejar keuntungan semata.
Selain dinding tembok retak dan pecah–pecah, tiang beton penyanggah gedung juga telah pecah dan bengkok. Kondisi ini kian menambah keprihatinan murid dan para guru sekolah ini yang sejatinya sangat membutuhkan keberadaan ruang kelas.
"Sejak awal kami masuk di ruang kelas ini, kami sudah takut. Dindingnya retak, lantainya juga tidak rata dan pecah–pecah. Ruang yang satu malah tidak dipakai sama sekali, karena terlalu banyak retakan dan pecah–pecah pada lantai dan dindingnya," lirih Rosalia, bersama sejumlah rekan siswa lainnya, kepada wartawan, Kamis (13/9/2012).
Ice Boymau, Wakil Kepala SMPN 1 Haharu membenarkan kecemasan para murid dan guru–gurunya tersebut. "Pak, kami terlalu butuh ini ruangan kelas, jadi walaupun cemas dan takut kami tetap pakai ini ruangan sambil wanti-wanti murid agar cepat selamatkan diri jika ada angin kencang dan gempa," terangnya.
Ditambahkan dia, tidak perlu gempa besar, dua tiga kali gempa ringan saja, tembok sekolah itu bisa roboh. Pihak pemerintah dari instansi Pekerjaan Umum (PU) juga baru sekali melakukan survei. Tidak adanya ketegasan dan langkah penanganan terkait persoalan ini oleh pemerintah setempat, sangat disayangkan oleh sejumlah kalangan.
Lebih jauh, dia berharap, Dinas PU dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olaharaga, tidak diam. "Untung saja kami dapat informasi dari masyarakat, saat kami uji petik, jadi persoalan ini mencuat, kalau tidak apa jadinya," tambahnya.
(san)