Kekeringan, warga Pambotanjara ambil air di rawa
Selasa, 11 September 2012 - 14:13 WIB
Kekeringan, warga Pambotanjara ambil air di rawa
A
A
A
Sindonews.com - Akibat musim kemarau dan kekeringan yang terus mendera, warga desa Pambotanjara, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa menggunakan air dari rawa yang mulai kering untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga datang ke rawa yang dikenal dengan nama Danau Wairinding itu dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kuda tunggang. Selain datang mengambil air, warga juga datang membawa ternak mereka untuk minum dari air rawa yang tersisa. Walau air telah nampak keruh bercampur lumpur warga tetap mengambil air di tempat itu.
“Memang hitam ini air,tapi kalau didiamkan satu malam lumpurnya turun,airnya bisa kita pakai minum,” jelas Ndilu (12), salah seorng warga menjelaskan, Selasa (11/9/2012).
Air rawa yang telah bercampur lumpur dan mulai mengering ini, juga dimanfaatkan anak-anak dan pemuda setempat bermain dan mencari ikan dengan peralatan seadanya. Walau ikannya kecil-kecil, dimana yang paling besar hanya seukuran jempol orang dewasa, mereka tetap nampak sukacita.
Usai bermain dan mencari ikan, anak-anak juga membasuh tubuh mereka dengan air yang sama sebelum pulang ke rumah masing-masing. Meski masuk dalam wilayah kecamatan kota, Desa Pambotanjara sejak masa dahulu memang dikenal daerah yang minim air bersih. Bagi yang mampu bias membeli air dari mobil tangki seharga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per tangkinya.
Warga datang ke rawa yang dikenal dengan nama Danau Wairinding itu dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kuda tunggang. Selain datang mengambil air, warga juga datang membawa ternak mereka untuk minum dari air rawa yang tersisa. Walau air telah nampak keruh bercampur lumpur warga tetap mengambil air di tempat itu.
“Memang hitam ini air,tapi kalau didiamkan satu malam lumpurnya turun,airnya bisa kita pakai minum,” jelas Ndilu (12), salah seorng warga menjelaskan, Selasa (11/9/2012).
Air rawa yang telah bercampur lumpur dan mulai mengering ini, juga dimanfaatkan anak-anak dan pemuda setempat bermain dan mencari ikan dengan peralatan seadanya. Walau ikannya kecil-kecil, dimana yang paling besar hanya seukuran jempol orang dewasa, mereka tetap nampak sukacita.
Usai bermain dan mencari ikan, anak-anak juga membasuh tubuh mereka dengan air yang sama sebelum pulang ke rumah masing-masing. Meski masuk dalam wilayah kecamatan kota, Desa Pambotanjara sejak masa dahulu memang dikenal daerah yang minim air bersih. Bagi yang mampu bias membeli air dari mobil tangki seharga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per tangkinya.
(azh)