Warga Jombang makan nasi aking
Minggu, 09 September 2012 - 11:09 WIB
Warga Jombang makan nasi aking
A
A
A
Sindonews.com - Kekeringan akibat kemarau berkepanjangan membuat sejumlah warga di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terpaksa bertahan hidup dengan mengkonsumsi nasi aking dan nasi jagung. Sebab sejak kemarau melanda, sejumlah warga yang biasanya mengandalkan penghasilan dari buruh tani kini nyaris tak bisa bekerja lagi.
Salah seorang warga Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Kota Jombang, Jawa Timur, Sunarti (53) mengatakan, sejak tiga bulan terakhir setiap pagi hari buruh tani ini menjemur nasi bekas atau nasi basi pemberian dari para tetangganya.
Setelah kering, nasi sisa tersebut akan dimasak lagi oleh sunarti dan dicampur dengan nasi jagung untuk dimakan bersama joko (59), yang sudah beberapa tahun ini terbaring sakit.
"ya, sejak kemarau melanda, memang praktis tak pernah mendapat order kerja disawah lagi. Karena, sudah tidak ada pilihan lain," katanya, di Jombang, Minggu (9/9/2012).
Dia menambhakan, jika untuk memberi beras yang harganya cukup mahal, lebih baik makan nasi aking. Pasalnya, dirinya tidak memiliki penghasilan tetap. "Sebab untuk beli beras seharga Rp6.000 atau Rp7.500 perkilogram, itu sangat mahal," terangnya.
Dia mengaku, jika hal itu dilakukan hanya untuk bertahan hidup. "Terpaksa bekerja serabutan, baik menjadi tukang cuci atau bersih-bersih rumah tetangganya," ujarnya.
Sunarti megakui, setiap bulan dirinya memang mendapat bantuan berupa beras miskin (Raskin) dari pemerintah, namun karena tak punya uang untuk membeli lauk atau untuk keperluan lainnya, maka dijual kembali.
"Sering menjual lagi beras tersebut untuk dibelikan nasi jagung yang harganya jauh lebih murah," katanya.
Sunarti berharap pemerintah mau membantu warga miskin seperti seperti dirinya.
Salah seorang warga Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Kota Jombang, Jawa Timur, Sunarti (53) mengatakan, sejak tiga bulan terakhir setiap pagi hari buruh tani ini menjemur nasi bekas atau nasi basi pemberian dari para tetangganya.
Setelah kering, nasi sisa tersebut akan dimasak lagi oleh sunarti dan dicampur dengan nasi jagung untuk dimakan bersama joko (59), yang sudah beberapa tahun ini terbaring sakit.
"ya, sejak kemarau melanda, memang praktis tak pernah mendapat order kerja disawah lagi. Karena, sudah tidak ada pilihan lain," katanya, di Jombang, Minggu (9/9/2012).
Dia menambhakan, jika untuk memberi beras yang harganya cukup mahal, lebih baik makan nasi aking. Pasalnya, dirinya tidak memiliki penghasilan tetap. "Sebab untuk beli beras seharga Rp6.000 atau Rp7.500 perkilogram, itu sangat mahal," terangnya.
Dia mengaku, jika hal itu dilakukan hanya untuk bertahan hidup. "Terpaksa bekerja serabutan, baik menjadi tukang cuci atau bersih-bersih rumah tetangganya," ujarnya.
Sunarti megakui, setiap bulan dirinya memang mendapat bantuan berupa beras miskin (Raskin) dari pemerintah, namun karena tak punya uang untuk membeli lauk atau untuk keperluan lainnya, maka dijual kembali.
"Sering menjual lagi beras tersebut untuk dibelikan nasi jagung yang harganya jauh lebih murah," katanya.
Sunarti berharap pemerintah mau membantu warga miskin seperti seperti dirinya.
(mhd)