Warga Jakarta Timur diminta hemat air
Kamis, 06 September 2012 - 14:58 WIB
Warga Jakarta Timur diminta hemat air
A
A
A
Sindonews.com - Ancaman kekeringan di musim kemarau mulai melanda kawasan Ibu Kota. Walikota Jakarta Timur Murdhani meminta warganya untuk lebih bijak dalam penggunaan air bersih, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, meskipun di Jaktim saat ini belum ditemukan adanya peristiwa kekeringan, namun pihaknya berharap agar pola hidup hemat air dapat menjadi kebiasaan warga. "Alhamdulillah air baku dari Kalimalang masih lancar. Sampai saat ini tidak ada juga yang kurang minum," ujar Murdhani ditemui di Jakarta, Kamis (6/9/2012).
Terkait antisipasi dampak kemarau, Murdhani menyebutkan, jauh hari sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah memprogramkan sumur resapan. Program tersebut diyakininya mampu mengatasi ancaman krisis air akibat musim kemarau.
"Jauh sebelumnya kita ada program sumur resapan. Salah satu contoh, orang yang bekas wudhu di masjid, musala, kan airnya belum terkontaminasi sama deterjen, itu supaya dimasukkan lagi ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah. Setidaknya ini dapat meminimalisir dampak kekeringan karena kemarau," tandasnya.
Lebih lanjut orang nomor satu di lingkungan Pemkot Jaktim itu meminta warga mewaspadai dampak lain dari kemarau. Menurutnya, kemarau berkepanjangan dapat juga menjadi perangsang mudahnya terjadi kebakaran di pemukiman penduduk di sejumlah kota di Jakarta termasuk Jaktim. "Saya minta lebih waspada saja, karena kan situasinya kering jadi mudah terbakar," imbuhnya.
Menurutnya, meskipun di Jaktim saat ini belum ditemukan adanya peristiwa kekeringan, namun pihaknya berharap agar pola hidup hemat air dapat menjadi kebiasaan warga. "Alhamdulillah air baku dari Kalimalang masih lancar. Sampai saat ini tidak ada juga yang kurang minum," ujar Murdhani ditemui di Jakarta, Kamis (6/9/2012).
Terkait antisipasi dampak kemarau, Murdhani menyebutkan, jauh hari sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah memprogramkan sumur resapan. Program tersebut diyakininya mampu mengatasi ancaman krisis air akibat musim kemarau.
"Jauh sebelumnya kita ada program sumur resapan. Salah satu contoh, orang yang bekas wudhu di masjid, musala, kan airnya belum terkontaminasi sama deterjen, itu supaya dimasukkan lagi ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah. Setidaknya ini dapat meminimalisir dampak kekeringan karena kemarau," tandasnya.
Lebih lanjut orang nomor satu di lingkungan Pemkot Jaktim itu meminta warga mewaspadai dampak lain dari kemarau. Menurutnya, kemarau berkepanjangan dapat juga menjadi perangsang mudahnya terjadi kebakaran di pemukiman penduduk di sejumlah kota di Jakarta termasuk Jaktim. "Saya minta lebih waspada saja, karena kan situasinya kering jadi mudah terbakar," imbuhnya.
(san)