Pasien Leptospirosis meningkat
Rabu, 05 September 2012 - 08:27 WIB
Pasien Leptospirosis meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah pasien leptospirosis di Kota Semarang terus meningkat dalam tiga tahun belakangan. Angka tersebut beriringan pula dengan pertambahan jumlah pasien tidak tertolong.
Hingga Agustus tercatat ada 65 pasien, empat di antaranya meninggal. “Jumlah pasien meninggal sampai dengan pertengahan tahun mencapai 22 persen,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Widoyono Selasa 4 September 2012.
Kematian pasien leptospirosis dipicu beberapa faktor seperti keparahan tingkat penyakit, keterlambatan rujukan, serta ketahanan tubuh seseorang berbeda. Data 2009–2011 menunjukkan pertambahan persentase. Pada 2009 tercatat jumlah kasus mencapai 55 pasien dengan angka kematian sebesar 5 persen.
Jumlahnya semakin meningkat pada 2010 dengan 71 kasus dan 8 persen angka kematian. Di tahun berikutnya dibukukan 79 kasus leptospirosis dengan 36 persen pasien. Penyakit leptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang ditularkan melalui binatang. Penyakit ini kerap muncul di musim penghujan saat terjadi banjir. Tikus akan berkeliaran di sekitar manusia, termasuk kotoran dan air kencing bercampur dengan air banjir.
“Seseorang yang mengalami luka dan terendam air banjir yang sudah tercampur akan berpotensi terinfeksi leptospirosis,” katanya.
Untuk menghindari penyakit leptospirosis, masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diminta menggunakan sepatu bila terpaksa ke daerah banjir karena leptospirosis juga disebabkan oleh banjir.
“Justru wilayah permukiman dengan kepadatan penduduk tinggi memiliki kasus terbanyak (leptospirosis). Hal tersebut disebabkan adanya tikus rumah,” kata Widoyono.
Sosialisasi ke masyarakat untuk mengenali faktor risiko penularan leptospirosis harus digencarkan. Masyarakat diminta mewaspadai gejala penyerta seperti badan lemah, demam, nyeri betis, tidak nafsu makan, dan nyeri otot.
“Jangan sampai pasien terlambat dibawa ke rumah sakit,” tandasnya .
Kepala Humas RSUP dr Kariadi Semarang Darwito menambahkan, tingkat keparahan menjadi pemicu pasien tidak tertolong.
“Kenali gejala untuk membawa pasien segera ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan tepat,” ujarnya.
Hingga Agustus tercatat ada 65 pasien, empat di antaranya meninggal. “Jumlah pasien meninggal sampai dengan pertengahan tahun mencapai 22 persen,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Widoyono Selasa 4 September 2012.
Kematian pasien leptospirosis dipicu beberapa faktor seperti keparahan tingkat penyakit, keterlambatan rujukan, serta ketahanan tubuh seseorang berbeda. Data 2009–2011 menunjukkan pertambahan persentase. Pada 2009 tercatat jumlah kasus mencapai 55 pasien dengan angka kematian sebesar 5 persen.
Jumlahnya semakin meningkat pada 2010 dengan 71 kasus dan 8 persen angka kematian. Di tahun berikutnya dibukukan 79 kasus leptospirosis dengan 36 persen pasien. Penyakit leptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang ditularkan melalui binatang. Penyakit ini kerap muncul di musim penghujan saat terjadi banjir. Tikus akan berkeliaran di sekitar manusia, termasuk kotoran dan air kencing bercampur dengan air banjir.
“Seseorang yang mengalami luka dan terendam air banjir yang sudah tercampur akan berpotensi terinfeksi leptospirosis,” katanya.
Untuk menghindari penyakit leptospirosis, masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat diminta menggunakan sepatu bila terpaksa ke daerah banjir karena leptospirosis juga disebabkan oleh banjir.
“Justru wilayah permukiman dengan kepadatan penduduk tinggi memiliki kasus terbanyak (leptospirosis). Hal tersebut disebabkan adanya tikus rumah,” kata Widoyono.
Sosialisasi ke masyarakat untuk mengenali faktor risiko penularan leptospirosis harus digencarkan. Masyarakat diminta mewaspadai gejala penyerta seperti badan lemah, demam, nyeri betis, tidak nafsu makan, dan nyeri otot.
“Jangan sampai pasien terlambat dibawa ke rumah sakit,” tandasnya .
Kepala Humas RSUP dr Kariadi Semarang Darwito menambahkan, tingkat keparahan menjadi pemicu pasien tidak tertolong.
“Kenali gejala untuk membawa pasien segera ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan tepat,” ujarnya.
(azh)