Ribuan hektar sawah di Banten kekeringan
Rabu, 05 September 2012 - 04:24 WIB
Ribuan hektar sawah di Banten kekeringan
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 36.405 hektar sawah dari 196.000 luas areal persawahan di Provinsi Banten mengalami kekeringan akibat kemarau panjang yang terjadi 2012 ini. Hal itu menyebabkan sebanyak 6.833 hektar tanaman padi milik warga Banten mengalami puso atau gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, kondisi kekeringan di Banten masih tergolong normal. Bahkan Provinsi Banten masih bisa meminimalisir kekeringan dan menyelamatkan areal tanaman padi yang terancam puso dengan melakukan pompanisasi.
"Dari upaya yang kami lakukan dengan memberikan bantuan pompa nisasi sebanyak 1.237 hektar terselamatkan," terang Agus, Selasa (4/9/2012).
Dalam mengatasi kekeriangan yang terjadi saat ini di Provinsi Banten, kata Agus, perlu ada kerjasama antara dinas terkait, seperti Distanak dan Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman (DSDAP). DSDAP yang saat ini memiliki tugas untuk memberikan solusi agar kebutuhan air untuk pertanian bisa terpenuhi.
"Tapi yang lebih terpenting adalah terkait penanganan lahan untuk daerah resapan air, sehingga pada musim kemarau, kondisi kekeringan di Provinsi Banten tidak terlalu parah," terang dia.
Kekeringan yang terjadi saat ini, kata Agus, akan mempengaruhi pada nilai jual petani yang akan mahal dan pada akhirnya harga beras akan naik akibat minimnya stok. "Saat ini aspek produksi belum mengancam terhadap kebutuhan pangan di Provinsi Banten," kata dia.
Upaya lain yang akan dilakukan oleh Pemprov Banten yaitu mengajukan kebutuhan bantuan benih kepada Pemerintah Pusat. Sebab areal tanaman padi yang terkena puso di Bantan sangan luas yaitu 6.833 hektar.
"Saat ini baru Kabupaten Tangerang yang mengajikan usulan permohonan benih untuk padi yang puso, untuk daerah lain belum dilakukan," ujar Agus Tauchid.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman (SDAP) Provinsi Banten, Iing Suwargi mengatakan, terus berupaya untuk memberikan bantuan pompanisasi kepada para petani dan warga yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan air untuk kebutuhan areal persawahan.
"Pada APBD perubahan 2012 ini kami akan membuatan kajian untuk membuat sumur, didekat arela pesawahan tadah hujan," terangnya.
Untuk solusi jangka panjang, kekeringan di Banten akan bisa diatasi dengan adanya Waduk Karian dan Waduk Sindangheula. "Kami juga akan membuat tandon dan embung untuk menampung air, agar masyarakat di Banten tidak merasakn kekurangan air," tuturnya.
Tidak hanya itu, Pemprov Banten juga akan kembali memanfaatkan situ-situ yang ada di Banten. Bahkan khusu Situ Cipondoh, pemindahan kepemilikan dari Jawa Barat ke Banten dalam peroses.
"Kami juga akan melakukan pengembangan daerah irigasi baru dan akan memindahkan penanganan dari Kabupaten ke Provinsi Banten, salah satunya Bendung Cihara, Desa Cikate, Cigembong, Kabupaten Lebak," tutur dia.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, kondisi kekeringan di Banten masih tergolong normal. Bahkan Provinsi Banten masih bisa meminimalisir kekeringan dan menyelamatkan areal tanaman padi yang terancam puso dengan melakukan pompanisasi.
"Dari upaya yang kami lakukan dengan memberikan bantuan pompa nisasi sebanyak 1.237 hektar terselamatkan," terang Agus, Selasa (4/9/2012).
Dalam mengatasi kekeriangan yang terjadi saat ini di Provinsi Banten, kata Agus, perlu ada kerjasama antara dinas terkait, seperti Distanak dan Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman (DSDAP). DSDAP yang saat ini memiliki tugas untuk memberikan solusi agar kebutuhan air untuk pertanian bisa terpenuhi.
"Tapi yang lebih terpenting adalah terkait penanganan lahan untuk daerah resapan air, sehingga pada musim kemarau, kondisi kekeringan di Provinsi Banten tidak terlalu parah," terang dia.
Kekeringan yang terjadi saat ini, kata Agus, akan mempengaruhi pada nilai jual petani yang akan mahal dan pada akhirnya harga beras akan naik akibat minimnya stok. "Saat ini aspek produksi belum mengancam terhadap kebutuhan pangan di Provinsi Banten," kata dia.
Upaya lain yang akan dilakukan oleh Pemprov Banten yaitu mengajukan kebutuhan bantuan benih kepada Pemerintah Pusat. Sebab areal tanaman padi yang terkena puso di Bantan sangan luas yaitu 6.833 hektar.
"Saat ini baru Kabupaten Tangerang yang mengajikan usulan permohonan benih untuk padi yang puso, untuk daerah lain belum dilakukan," ujar Agus Tauchid.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman (SDAP) Provinsi Banten, Iing Suwargi mengatakan, terus berupaya untuk memberikan bantuan pompanisasi kepada para petani dan warga yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan air untuk kebutuhan areal persawahan.
"Pada APBD perubahan 2012 ini kami akan membuatan kajian untuk membuat sumur, didekat arela pesawahan tadah hujan," terangnya.
Untuk solusi jangka panjang, kekeringan di Banten akan bisa diatasi dengan adanya Waduk Karian dan Waduk Sindangheula. "Kami juga akan membuat tandon dan embung untuk menampung air, agar masyarakat di Banten tidak merasakn kekurangan air," tuturnya.
Tidak hanya itu, Pemprov Banten juga akan kembali memanfaatkan situ-situ yang ada di Banten. Bahkan khusu Situ Cipondoh, pemindahan kepemilikan dari Jawa Barat ke Banten dalam peroses.
"Kami juga akan melakukan pengembangan daerah irigasi baru dan akan memindahkan penanganan dari Kabupaten ke Provinsi Banten, salah satunya Bendung Cihara, Desa Cikate, Cigembong, Kabupaten Lebak," tutur dia.
(san)