Prijanto diciptakan jadi destroyer untuk Foke
Selasa, 04 September 2012 - 20:34 WIB
Prijanto diciptakan jadi destroyer untuk Foke
A
A
A
Sindonews.com – Mundurnya Prijanto sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta merupakan langkah strategis dalam Pilgub DI Jakarta. Bahkan disinyalir, mundurnya Prijanto diciptakan sebagai destroyer bagi Foke.
Pengamat Politik dari Sekolah Tinggi Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (Stekpi) Agung Nur Farah mengatakan, memang bisa ditarik benang merah antara mundurnya Prijanto dengan pemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI.
Karena itu, terangnya, tudingan-tudingan dan alasan Prijanto mundur pun bisa menjadi pengukur tentang keterkaitan tersebut.
“Pernyataan bahwa Prijanto tidak bisa kerjasama dengan Foke di akhir-akhir masa jabatannya adalah langkah politik untuk membusukan Foke," katanya. Disini, Prijanto menumpahkan seluruh kesalahan pada Foke.
"Saya melihat ada keterkaitan antara mundurnya Prijanto, tuduhan-tuduhan Prijanto terhadap Foke dan pencitraan terhadap Jokowi yang terjadi bersamaan,” ungkapnya.
Selain itu, Prijanto dan Jokowi yang diusung PDIP pun bukan satu kebetulan, sehingga tuduhan yang disampaikan Prijanto tentang Foke benar-benar membuat posisi incumbent runyam.
Bahkan Prijanto seolah diciptakan untuk menjadi destroyer bagi Foke dan pasangannya. Tadinya mungkin Prijanto berambisi untuk menjadi gubenur, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi karena bisa jadi ada tuduhan-tuduhan langkah politis mengenai kemunduran dirinya.
Prijanto menjadi tidak nyaman kalau dia yang maju dan akhirnya dia bersedia dijadikan martir oleh PDIP. "Ini politik, sehingga pasti langkah apapun ada hitung-hitungannya. Tidak mungkin terjadi begitu saja,” tandasnya.
Pengamat Politik dari Sekolah Tinggi Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (Stekpi) Agung Nur Farah mengatakan, memang bisa ditarik benang merah antara mundurnya Prijanto dengan pemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI.
Karena itu, terangnya, tudingan-tudingan dan alasan Prijanto mundur pun bisa menjadi pengukur tentang keterkaitan tersebut.
“Pernyataan bahwa Prijanto tidak bisa kerjasama dengan Foke di akhir-akhir masa jabatannya adalah langkah politik untuk membusukan Foke," katanya. Disini, Prijanto menumpahkan seluruh kesalahan pada Foke.
"Saya melihat ada keterkaitan antara mundurnya Prijanto, tuduhan-tuduhan Prijanto terhadap Foke dan pencitraan terhadap Jokowi yang terjadi bersamaan,” ungkapnya.
Selain itu, Prijanto dan Jokowi yang diusung PDIP pun bukan satu kebetulan, sehingga tuduhan yang disampaikan Prijanto tentang Foke benar-benar membuat posisi incumbent runyam.
Bahkan Prijanto seolah diciptakan untuk menjadi destroyer bagi Foke dan pasangannya. Tadinya mungkin Prijanto berambisi untuk menjadi gubenur, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi karena bisa jadi ada tuduhan-tuduhan langkah politis mengenai kemunduran dirinya.
Prijanto menjadi tidak nyaman kalau dia yang maju dan akhirnya dia bersedia dijadikan martir oleh PDIP. "Ini politik, sehingga pasti langkah apapun ada hitung-hitungannya. Tidak mungkin terjadi begitu saja,” tandasnya.
(ysw)