Penderita gizi buruk meninggal
Selasa, 04 September 2012 - 19:08 WIB
Penderita gizi buruk meninggal
A
A
A
Sindonews.com – Bayi penderita gizi buruk, Rezky yang masih berusia 11 bulan, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof Anwar Makkatutu Bantaeng. Rezky meniggal, setelah dirawat sekitar 17 jam di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD Bantaeng.
Menurut ibu Rezky, putri keduanya itu memang sebelumnya sempat dirawat di di RSUD pada hari kedua Lebaran, hanya saja pihaknya memilih keluar karena diagnosa terakhir putrinya sudah membaik. Ayah Rezky, Rasyid, mengatakan saat pertama masuk ke RSUD, pihak RSUD menyebutkan anaknya dalam kondisi yang baik setelah di rontgen.
Namun, beberapa pekan kemudian Rezky terlihat sakit lagi dan dilarikan ke RSUD, Senin 3 September 2012, dan diberikan bantuan oksigen. Rasyid mengatakan, dia terpaksa mengeluarkan anaknya karena masalah biaya kesehatan.
Menurutnya, saat masuk di rumah sakit, Agustus lalu dia terpaksa meminjam uang dari tetangganya sebesar Rp500 ribu. Uang itupun sudah habis untuk mengklaim obat dan kebutuhan lainnya.
Jenazah Rezky kemudian dipulangkan, dan dikuburkan tepat di belakang rumahnya di Desa Batu Karaeng, Kecamatan Pa’jukukang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantaeng, Takudaeng langsung menggelar jumpa pers sesaat setelah bayi penderita gizi buruk itu meninggal dunia. Menurutnya, sebelumnya Rezky mengalami radang paru-paru, kelainan system pencernaan bayi tersebut mengalami gizi buruk.
“Namun dia (Rezky) meninggal bukan karena gizi buruknya, melainkan penyakit radang baru-paru dan dehidrasi berat. Karena saat dibawa ke RSUD memang sudah kritis,” ujar Takudaeng.
Pihaknya juga menilai, orangtua bayi yang tidak merawat dengan baik, sehingga kondisi anak terus menurun. Padahal, Dinkes sendiri telah memberikan bantuan, serta upaya perbaikan gizi.
Takudaeng membantah jika pihaknya dinilai gagal menanggulangi gizi buruk di Bantaeng. Menurutnya, target pemerintah pusat penderita gizi buruk hanya 14 persen dari jumlah bayi di Bantaeng. Kasus gizi buruk di Kabupaten Bantaeng juga mengalami tren yang menurun setiap tahunnya.
Pada 2010 lalu, sebanyak 12 kasus gizi buruk ditemukan. Jumlah ini menurun pada 2011 menjadi nol kasus. Sementara untuk 2012, kasus gizi buruk hanya satu kasus. Dia menambahkan, Dinkes juga menyiapkan anggaran senilai Rp200 juta untuk penanganan gizi ibu hamil dan bayi.
Ketua Komisi I Anas Hasan menilai, kejadian tersebuta dalah tamparan keras kepada pemerintah. Dia menilai Pemkab Bantaeng gagal menyejahterakan masyarakatnya.
“Saya sudah mengatakan berkali-kali ke eksekutif mengenai data kantung kemiskinan di Bantaeng. Tetapi mereka selalu membantah. Sekarang ini adalah buktinya,” jelas Anas.
Dalam waktu dekat ini, Komisi I DPRD Bantaeng akan memanggil sejumlah instansi yang terkait dengan penanganan kasus gizi buruk ini.
Menurut ibu Rezky, putri keduanya itu memang sebelumnya sempat dirawat di di RSUD pada hari kedua Lebaran, hanya saja pihaknya memilih keluar karena diagnosa terakhir putrinya sudah membaik. Ayah Rezky, Rasyid, mengatakan saat pertama masuk ke RSUD, pihak RSUD menyebutkan anaknya dalam kondisi yang baik setelah di rontgen.
Namun, beberapa pekan kemudian Rezky terlihat sakit lagi dan dilarikan ke RSUD, Senin 3 September 2012, dan diberikan bantuan oksigen. Rasyid mengatakan, dia terpaksa mengeluarkan anaknya karena masalah biaya kesehatan.
Menurutnya, saat masuk di rumah sakit, Agustus lalu dia terpaksa meminjam uang dari tetangganya sebesar Rp500 ribu. Uang itupun sudah habis untuk mengklaim obat dan kebutuhan lainnya.
Jenazah Rezky kemudian dipulangkan, dan dikuburkan tepat di belakang rumahnya di Desa Batu Karaeng, Kecamatan Pa’jukukang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantaeng, Takudaeng langsung menggelar jumpa pers sesaat setelah bayi penderita gizi buruk itu meninggal dunia. Menurutnya, sebelumnya Rezky mengalami radang paru-paru, kelainan system pencernaan bayi tersebut mengalami gizi buruk.
“Namun dia (Rezky) meninggal bukan karena gizi buruknya, melainkan penyakit radang baru-paru dan dehidrasi berat. Karena saat dibawa ke RSUD memang sudah kritis,” ujar Takudaeng.
Pihaknya juga menilai, orangtua bayi yang tidak merawat dengan baik, sehingga kondisi anak terus menurun. Padahal, Dinkes sendiri telah memberikan bantuan, serta upaya perbaikan gizi.
Takudaeng membantah jika pihaknya dinilai gagal menanggulangi gizi buruk di Bantaeng. Menurutnya, target pemerintah pusat penderita gizi buruk hanya 14 persen dari jumlah bayi di Bantaeng. Kasus gizi buruk di Kabupaten Bantaeng juga mengalami tren yang menurun setiap tahunnya.
Pada 2010 lalu, sebanyak 12 kasus gizi buruk ditemukan. Jumlah ini menurun pada 2011 menjadi nol kasus. Sementara untuk 2012, kasus gizi buruk hanya satu kasus. Dia menambahkan, Dinkes juga menyiapkan anggaran senilai Rp200 juta untuk penanganan gizi ibu hamil dan bayi.
Ketua Komisi I Anas Hasan menilai, kejadian tersebuta dalah tamparan keras kepada pemerintah. Dia menilai Pemkab Bantaeng gagal menyejahterakan masyarakatnya.
“Saya sudah mengatakan berkali-kali ke eksekutif mengenai data kantung kemiskinan di Bantaeng. Tetapi mereka selalu membantah. Sekarang ini adalah buktinya,” jelas Anas.
Dalam waktu dekat ini, Komisi I DPRD Bantaeng akan memanggil sejumlah instansi yang terkait dengan penanganan kasus gizi buruk ini.
(hyk)