2 teroris Solo jebolan Ponpes Ngruki
Senin, 03 September 2012 - 11:55 WIB
2 teroris Solo jebolan Ponpes Ngruki
A
A
A
Sindonews.com - Pondok Pesantren Al-mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, mengakui terduga teroris yang ditembak mati Densus 88 di Solo, Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani, pernah menjadi santri di pesantren tersebut.
Keduanya remaja ini dinilai bermasalah, sehingga ijazah mereka hingga saat ini masih ditahan, karena belum melunasi biaya pendidikan.
"Farhan adalah remaja kelahiran 14 Nopember 1993, anak dari seorang lelaki bernama Muh Aris. Ketika masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Ngruki tahun 2005, Farhan menggunakan ijazah Sekolah Dasar (SD) swasta di Pulau Sebatik, Kalimantan," ujar Direktur Ponpes Al-mukmin Ngruki Ustaz Wahyuddin dalam keterangan persnya, Senin (3/9/2012) pagi.
Ditambakan Wahyudin, semenjak lulus MTs tahun 2008 hingga saat ini, ijazahnya masih ditahan pesantren, karena dia belum membayar administrasi pendidikan. Kondisi serupa juga dialami oleh Muchsin Tsani. Muchsin tercatat sebagai anak seorang bernama Muslimin di Jalan Batu Ampar, Keramat Jati, Jakarta Timur.
"Dia lulusan SMPN 126 Jakarta, lalu masuk Kuliyyatul Mualimin Al-islamiyyah (sekolah khusus agama setingkat SLTA) Ngruki, karena dia berasal dari sekolah umum, maka dia harus terlebih dulu mengikuti pendidikan takhassus (persiapan) selama setahun," terangnya.
Senada dengan Farhan, ijazah Muchsin juga masih ditahan, karena belum melunasi biaya administrasi sekolah yang totalnya hampir Rp12 juta. Kendati begitu, Wahyudin mengaku tidak tahu-menahu soal perkembangan kedua mantan santrinya tersebut.
"Kami tidak tahu-menahu dan tidak lagi bertanggungjawab dengan kegiatan keduanya setelah keluar dari pesantren. Kami sangat menyanyangkan langkah Densus 88 Mabes Polri yang menembak mati keduanya, meskipun keduanya dianggap salah," ungkapnya.
Sedangkan mengenai Bayu Setiono yang ditangkap di Karanganyar, Jawa Tengah, Wahyuddin memastikan bahwa orang tersebut bukan alumnus ataupun pernah belajar di Ponpes Al-mukmin Ngruki.
Keduanya remaja ini dinilai bermasalah, sehingga ijazah mereka hingga saat ini masih ditahan, karena belum melunasi biaya pendidikan.
"Farhan adalah remaja kelahiran 14 Nopember 1993, anak dari seorang lelaki bernama Muh Aris. Ketika masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Ngruki tahun 2005, Farhan menggunakan ijazah Sekolah Dasar (SD) swasta di Pulau Sebatik, Kalimantan," ujar Direktur Ponpes Al-mukmin Ngruki Ustaz Wahyuddin dalam keterangan persnya, Senin (3/9/2012) pagi.
Ditambakan Wahyudin, semenjak lulus MTs tahun 2008 hingga saat ini, ijazahnya masih ditahan pesantren, karena dia belum membayar administrasi pendidikan. Kondisi serupa juga dialami oleh Muchsin Tsani. Muchsin tercatat sebagai anak seorang bernama Muslimin di Jalan Batu Ampar, Keramat Jati, Jakarta Timur.
"Dia lulusan SMPN 126 Jakarta, lalu masuk Kuliyyatul Mualimin Al-islamiyyah (sekolah khusus agama setingkat SLTA) Ngruki, karena dia berasal dari sekolah umum, maka dia harus terlebih dulu mengikuti pendidikan takhassus (persiapan) selama setahun," terangnya.
Senada dengan Farhan, ijazah Muchsin juga masih ditahan, karena belum melunasi biaya administrasi sekolah yang totalnya hampir Rp12 juta. Kendati begitu, Wahyudin mengaku tidak tahu-menahu soal perkembangan kedua mantan santrinya tersebut.
"Kami tidak tahu-menahu dan tidak lagi bertanggungjawab dengan kegiatan keduanya setelah keluar dari pesantren. Kami sangat menyanyangkan langkah Densus 88 Mabes Polri yang menembak mati keduanya, meskipun keduanya dianggap salah," ungkapnya.
Sedangkan mengenai Bayu Setiono yang ditangkap di Karanganyar, Jawa Tengah, Wahyuddin memastikan bahwa orang tersebut bukan alumnus ataupun pernah belajar di Ponpes Al-mukmin Ngruki.
(san)