MRT, solusi kemacetan Jakarta
Senin, 03 September 2012 - 08:37 WIB
MRT, solusi kemacetan Jakarta
A
A
A
Sindonews.com - Kehadiran mass rapid transit (MRT) diyakini sebagai salah satu solusi utama mengurai kemacetan di Ibu Kota. Moda transportasi massal yang akan beroperasi pada 2016 itu bakal mampu menyedot pengguna kendaraan pribadi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah membuat konsep pola transportasi makro (PTM) untuk mengatasi kemacetan. Dalam PTM tersebut akan dilakukan perluasan jaringan jalan, pengembangan transportasi massal, dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.
Polda Metro Jaya mencatat jumlah kendaraan bermotor yang beredar di Ibu Kota setiap hari sebanyak 13.346.802 unit. Jumlah tersebut terdiri atas sepeda motor sebanyak 9.861.451 unit, mobil 2.541.351 unit, mobil barang 581,290 unit, dan bus sebanyak 363.7120 unit.
Sementara setiap hari pertambahan sepeda motor sebanyak 890 unit dan mobil sebanyak 240 unit. Dalam setahun pertumbuhan kendaraan bermotor di Ibu Kota sebanyak 11 persen, sementara pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen. Panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI. Kondisi ini tentu saja sangat tidak imbang dan selalu memicu kemacetan lalu lintas.
Setidaknya kemacetan terjadi di 747 lokasi setiap hari. Tak berlebihan jika pada 2014 Ibu Kota diprediksi macet total. Kekhawatiran tersebut mulai terlihat ketika pada jam sibuk. Kehadiran MRT tahap I (Lebak Bulus-Bundaran HI) menjadi salah satu solusi mengurai kemacetan, khususnya di jalur-jalur yang dilewati.
Peneliti Institut Studi Transportasi (Instran) Izzul Waro berpendapat, kemacetan tersebut harus segera dicarikan solusinya. Menurut dia, yang paling memungkinkan adalah pengembangan transportasi massal sehingga penggunaan kendaraan pribadi bisa ditekan.
Kondisi moda transportasi yang aman, nyaman, dan murah akan membuat masyarakat terangsang meninggalkan kendaraan pribadi. Hal itu terbukti di beberapa kota maju yang sudah mengembangkan transportasi massal. “Selama ini belum ada transportasi yang nyaman, aman, dan murah. Maka itu, kehadiran MRT bisa menjawab tantangan tersebut,” kata Izzul Waro di Jakarta, Minggu 2 September 2012.
Pihaknya berharap, sebelum MRT beroperasi jaringan feeder (kendaraan pengumpan) sudah disiapkan sehingga nanti kehadiran MRT benar-benar menjadi jawaban atas keruwetan lalu lintas selama ini. Izzul menyarankan, sarana transportasi reguler lainnya bisa diintegrasikan dengan MRT.
“MRT ini dapat mengakut penumpang dengan jumlah ratusan ribu orang. Jumlah ini sangat banyak,” ungkapnya.
Untuk mencapai target penumpang sebanyak itu, akses penumpang dengan angkutan lain harus lebih mudah. Dia mencontohkan untuk ke arah Lebak Bulus, harus terintegrasi dengan angkutan yang menuju Ciputat dan Pamulang (Tangerang Selatan), Cinere (Depok), maupun Pondok Labu (Jakarta Selatan). “ Dengan akses yang mudah, penumpang dari kawasan itu akan tersedot ke MRT,” ujarnya.
Di Lebak Bulus setidaknya disediakan park and ride yang mampu menampung 500 unit mobil dan 1.000 sepeda motor. Para pemilik kendaraan pribadi tersebut dapat dengan tenang meninggalkan kendaraannya dan melanjutkan perjalanan menggunakan MRT.
Angkutan umum reguler sebagai feeder MRT harus disertai sistem ticketing secara terintegrasi. Pengguna feeder cukup membeli tiket satu kali saja.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta S Andhyka mengungkapkan, keberadaan MRT akan menambah nilai-nilai bisnis di Jakarta, terutama jalur yang dilintasi. Di setiap stasiun terutama di stasiun bawah tanah (subway) akan terdapat toko dan gedung sebagai sarana bisnis.
“Akan terbangun sarana bisnis pendukung di setiap stasiun,” kata politikus Partai Gerindra ini.
Pihaknya sangat mendukung keberadaan MRT karena memiliki kapasitas angkut yang besar dibanding moda lainnya seperti bus maupun monorel. Andhyka membayangkan infrastruktur monorel yang terbengkalai sekarang ini bisa dikembangkan menjadi rute feeder MRT.
Pihaknya kembali menegaskan jika monorel tidak sama dengan MRT. Monorel hanya satu jalur, sementara MRT memiliki jalur ganda yang bisa bolak-balik. "Kapasitas angkut monorel tidak sebanyak MRT. Sementara MRT ini kapasitas penumpangnya sulit disaingi oleh moda lain,” ungkapnya.
Secara terpisah, Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo mengungkapkan, saat ini proses pembangunan MRT tengah memasuki tahap evaluasi lelang pekerjaan sipil. Setelah lelang sipil ini pemenangnya dapat melakukan groundbreaking yang diperkirakan pada awal 2013.
Dia menyebutkan, proses pelaksanaan pembangunan MRT ini juga mendapatkan apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY bahkan meminta pelaksanaan pembangunan MRT dapat dikerjakan sesuai target.
“Tanpa dukungan banyak pihak, pembangunan ini sulit berjalan dengan baik,” ujar Tribudi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah membuat konsep pola transportasi makro (PTM) untuk mengatasi kemacetan. Dalam PTM tersebut akan dilakukan perluasan jaringan jalan, pengembangan transportasi massal, dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.
Polda Metro Jaya mencatat jumlah kendaraan bermotor yang beredar di Ibu Kota setiap hari sebanyak 13.346.802 unit. Jumlah tersebut terdiri atas sepeda motor sebanyak 9.861.451 unit, mobil 2.541.351 unit, mobil barang 581,290 unit, dan bus sebanyak 363.7120 unit.
Sementara setiap hari pertambahan sepeda motor sebanyak 890 unit dan mobil sebanyak 240 unit. Dalam setahun pertumbuhan kendaraan bermotor di Ibu Kota sebanyak 11 persen, sementara pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen. Panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI. Kondisi ini tentu saja sangat tidak imbang dan selalu memicu kemacetan lalu lintas.
Setidaknya kemacetan terjadi di 747 lokasi setiap hari. Tak berlebihan jika pada 2014 Ibu Kota diprediksi macet total. Kekhawatiran tersebut mulai terlihat ketika pada jam sibuk. Kehadiran MRT tahap I (Lebak Bulus-Bundaran HI) menjadi salah satu solusi mengurai kemacetan, khususnya di jalur-jalur yang dilewati.
Peneliti Institut Studi Transportasi (Instran) Izzul Waro berpendapat, kemacetan tersebut harus segera dicarikan solusinya. Menurut dia, yang paling memungkinkan adalah pengembangan transportasi massal sehingga penggunaan kendaraan pribadi bisa ditekan.
Kondisi moda transportasi yang aman, nyaman, dan murah akan membuat masyarakat terangsang meninggalkan kendaraan pribadi. Hal itu terbukti di beberapa kota maju yang sudah mengembangkan transportasi massal. “Selama ini belum ada transportasi yang nyaman, aman, dan murah. Maka itu, kehadiran MRT bisa menjawab tantangan tersebut,” kata Izzul Waro di Jakarta, Minggu 2 September 2012.
Pihaknya berharap, sebelum MRT beroperasi jaringan feeder (kendaraan pengumpan) sudah disiapkan sehingga nanti kehadiran MRT benar-benar menjadi jawaban atas keruwetan lalu lintas selama ini. Izzul menyarankan, sarana transportasi reguler lainnya bisa diintegrasikan dengan MRT.
“MRT ini dapat mengakut penumpang dengan jumlah ratusan ribu orang. Jumlah ini sangat banyak,” ungkapnya.
Untuk mencapai target penumpang sebanyak itu, akses penumpang dengan angkutan lain harus lebih mudah. Dia mencontohkan untuk ke arah Lebak Bulus, harus terintegrasi dengan angkutan yang menuju Ciputat dan Pamulang (Tangerang Selatan), Cinere (Depok), maupun Pondok Labu (Jakarta Selatan). “ Dengan akses yang mudah, penumpang dari kawasan itu akan tersedot ke MRT,” ujarnya.
Di Lebak Bulus setidaknya disediakan park and ride yang mampu menampung 500 unit mobil dan 1.000 sepeda motor. Para pemilik kendaraan pribadi tersebut dapat dengan tenang meninggalkan kendaraannya dan melanjutkan perjalanan menggunakan MRT.
Angkutan umum reguler sebagai feeder MRT harus disertai sistem ticketing secara terintegrasi. Pengguna feeder cukup membeli tiket satu kali saja.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta S Andhyka mengungkapkan, keberadaan MRT akan menambah nilai-nilai bisnis di Jakarta, terutama jalur yang dilintasi. Di setiap stasiun terutama di stasiun bawah tanah (subway) akan terdapat toko dan gedung sebagai sarana bisnis.
“Akan terbangun sarana bisnis pendukung di setiap stasiun,” kata politikus Partai Gerindra ini.
Pihaknya sangat mendukung keberadaan MRT karena memiliki kapasitas angkut yang besar dibanding moda lainnya seperti bus maupun monorel. Andhyka membayangkan infrastruktur monorel yang terbengkalai sekarang ini bisa dikembangkan menjadi rute feeder MRT.
Pihaknya kembali menegaskan jika monorel tidak sama dengan MRT. Monorel hanya satu jalur, sementara MRT memiliki jalur ganda yang bisa bolak-balik. "Kapasitas angkut monorel tidak sebanyak MRT. Sementara MRT ini kapasitas penumpangnya sulit disaingi oleh moda lain,” ungkapnya.
Secara terpisah, Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo mengungkapkan, saat ini proses pembangunan MRT tengah memasuki tahap evaluasi lelang pekerjaan sipil. Setelah lelang sipil ini pemenangnya dapat melakukan groundbreaking yang diperkirakan pada awal 2013.
Dia menyebutkan, proses pelaksanaan pembangunan MRT ini juga mendapatkan apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY bahkan meminta pelaksanaan pembangunan MRT dapat dikerjakan sesuai target.
“Tanpa dukungan banyak pihak, pembangunan ini sulit berjalan dengan baik,” ujar Tribudi.
(lil)