Penurunan kuantitas RTS disoal
Minggu, 02 September 2012 - 21:58 WIB
Penurunan kuantitas RTS disoal
A
A
A
Sindonews.com - Penurunan kuantitas Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebagai penerima beras miskin (raskin) di Bumi Caram Seguguk disoal. Sejumlah warga yang biasanya mendapatkan jatah 15 kilogram setiap bulannya kini harus rela gigit jari lantaran tidak termasuk sebagai penerima raskin tahun ini.
"Awal Januari hingga Mei lalu kami masih menerima raskin 15kg setiap bulannya. Tapi sejak Juni hingga September ini kami sudah tidak menerima raskin. Bukan hanya saya, sebagian warga lainnya pun yang juga menerima raskin tidak mendapatkannya," kata Udin, warga Kecamatan Tanjung Batu menjelaskan. Minggu (2/9/2012).
Dia mengaku tidak mengetahui persis kenapa nama sebagian warga yang dahulunya terdaftar sebagai penerima raskin kini tidak lagi mendapatkan hak atas 15 kilogram setiap bulannya.
Akibatnya, sebagian warga yang tidak lagi menerima raskin ini menjadi kebingunggan dan hanya berharapkan bantuan dan uluran tangan dari warga sekitar.
“Untuk setiap kepala keluarga atau KK, mendapat jatah 15 Kg/bulan dengan harga Rp1.600/Kg. Tapi kini kami tidak mendapatkannya. Bayangkan bagaimana nasib bagi warga yang sama sekali tidak ada penghasilan," tuturnya.
Dia mengaku sudah mengadukan perihal ini ke wakil rakyat pada saat reses beberapa waktu lalu. Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk kembali mendapatkan raskin.
Sementara, Ketua II DPRD OI Arhandi Thabroni mengatakan penurunan jumlah penerima RTS di Kabupaten OI ini bukan saja terjadi di satu kecamatan saja, melainkan terjadi diseluruh kecamatan dalam Kabupaten OI.
"Sebenarnya masalah ini terungkap ketika anggota dewan melakukan reses ke dapil masing-masing. Hasilnya sama, mayoritas warga disetiap kecamatan mempertanyakan turunnya RTS penerima raskin di Bumi Caram Seguguk," kata politisi PAN OI ini.
Arhandi mengaku sudah lama menyampaikan masalah ini ke pihak eksekutif, namun hingga saat ini belum ada tanggapan berarti.
Dia hanya berharap pihak eksekutif dapat langsung menindaklanjuti masalah ini secepatnya sehingga apa yang diharapkan warga terwujud sesuai apa yang diinginkan.
Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Setda OI, Helmi, MS membenarkan terjadinya penurunan penerima raskin di OI ini sesuai dengan SK Gubernur Sumsel No 359/KPTS/IV/2012 tentang penetapan pagu alokasi bantuan beras se-Sumsel di Kabupaten Ogan Ilir.
“Ya, memang berkurang, data ini mengacu hasil survei yang telah diverifikasi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K),” ujarnya
Dia menincikan, jumlah penerima raskin untuk saat ini dari bulan Juni-Desember 2012 sekitar 31.008 RTS-PPLS dengan jumlah 465.120 kilogram. Dibandingkan dengan sebelumnya yakni 44.670 RTS dengan jumlah 671.250 kilogram untuk bulan Januari-Mei.
"Berarti ada penurunan penerima raskin sekitar 30 persen. Ya, kami (kabupaten) hanya mengusulkan data lengkap ke pihak panitia penyelenggara. Jadi, kalau beras sudah ada, maka kecamatan yang berperan membagikan sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan,” terangnya.
Terkait turunnya jumlah penerima raskin,kata dia, pihaknya akan melakukan perbaikan mengenai data RTS di seluruh desa atau kelurahan di OI dan berharap masyarakat OI dapat bersabar sembari menunggu keakurasian data yang dikumpulkan,” jelasnya.
"Awal Januari hingga Mei lalu kami masih menerima raskin 15kg setiap bulannya. Tapi sejak Juni hingga September ini kami sudah tidak menerima raskin. Bukan hanya saya, sebagian warga lainnya pun yang juga menerima raskin tidak mendapatkannya," kata Udin, warga Kecamatan Tanjung Batu menjelaskan. Minggu (2/9/2012).
Dia mengaku tidak mengetahui persis kenapa nama sebagian warga yang dahulunya terdaftar sebagai penerima raskin kini tidak lagi mendapatkan hak atas 15 kilogram setiap bulannya.
Akibatnya, sebagian warga yang tidak lagi menerima raskin ini menjadi kebingunggan dan hanya berharapkan bantuan dan uluran tangan dari warga sekitar.
“Untuk setiap kepala keluarga atau KK, mendapat jatah 15 Kg/bulan dengan harga Rp1.600/Kg. Tapi kini kami tidak mendapatkannya. Bayangkan bagaimana nasib bagi warga yang sama sekali tidak ada penghasilan," tuturnya.
Dia mengaku sudah mengadukan perihal ini ke wakil rakyat pada saat reses beberapa waktu lalu. Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk kembali mendapatkan raskin.
Sementara, Ketua II DPRD OI Arhandi Thabroni mengatakan penurunan jumlah penerima RTS di Kabupaten OI ini bukan saja terjadi di satu kecamatan saja, melainkan terjadi diseluruh kecamatan dalam Kabupaten OI.
"Sebenarnya masalah ini terungkap ketika anggota dewan melakukan reses ke dapil masing-masing. Hasilnya sama, mayoritas warga disetiap kecamatan mempertanyakan turunnya RTS penerima raskin di Bumi Caram Seguguk," kata politisi PAN OI ini.
Arhandi mengaku sudah lama menyampaikan masalah ini ke pihak eksekutif, namun hingga saat ini belum ada tanggapan berarti.
Dia hanya berharap pihak eksekutif dapat langsung menindaklanjuti masalah ini secepatnya sehingga apa yang diharapkan warga terwujud sesuai apa yang diinginkan.
Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Setda OI, Helmi, MS membenarkan terjadinya penurunan penerima raskin di OI ini sesuai dengan SK Gubernur Sumsel No 359/KPTS/IV/2012 tentang penetapan pagu alokasi bantuan beras se-Sumsel di Kabupaten Ogan Ilir.
“Ya, memang berkurang, data ini mengacu hasil survei yang telah diverifikasi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K),” ujarnya
Dia menincikan, jumlah penerima raskin untuk saat ini dari bulan Juni-Desember 2012 sekitar 31.008 RTS-PPLS dengan jumlah 465.120 kilogram. Dibandingkan dengan sebelumnya yakni 44.670 RTS dengan jumlah 671.250 kilogram untuk bulan Januari-Mei.
"Berarti ada penurunan penerima raskin sekitar 30 persen. Ya, kami (kabupaten) hanya mengusulkan data lengkap ke pihak panitia penyelenggara. Jadi, kalau beras sudah ada, maka kecamatan yang berperan membagikan sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan,” terangnya.
Terkait turunnya jumlah penerima raskin,kata dia, pihaknya akan melakukan perbaikan mengenai data RTS di seluruh desa atau kelurahan di OI dan berharap masyarakat OI dapat bersabar sembari menunggu keakurasian data yang dikumpulkan,” jelasnya.
(azh)