Putra petani yang tak kenal menyerah
Minggu, 02 September 2012 - 07:16 WIB
Putra petani yang tak kenal menyerah
A
A
A
Sindonews.com - Suasana duka, masih menyelimuti kediaman almarhum Briptu Suherman (24) anggota Densus 88 Antiteror Polri, yang gugur dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara.
Akbar Arsad dan Tahiran, kedua orang tua Suherman, hanya bisa pasrah dengan meninggalnya anak pertamanya itu dalam melakukan penyergapan terhadap terduga teroris di Solo, Jum’at malam.
Briptu Suherman yang lahir pada 9 Oktober 1988, di Desa Padalloang Kecamatan Atampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), merupakan anak pertama dari pasangan Akbar Arsad (44) dan Tahira (41). Dia memiliki seorang adik perempuan yang kini tinggal bersama orang tuanya.
Dalam keluarganya, meski tidak bersama kedua orang tuanya, sebagai anak pertama yang juga dianggap sudah mapan, Suherman merupakan tulang punggung dalam keluarganya. Orangtuanya hanya seorang petani di Desa tempat ia tinggal saat ini.
Bagaimana dengan perilaku keseharian almarhum Briptu Suherman di mata keluarga dan rekan-rekan? Ternyata Suherman memang dikenal sosok yang sangat baik dan ramah. Ia juga adalah sosok yang penyayang. Tak hanya pada keluarganya, kepada teman-temannya pun ia anggap sebagai saudaranya.
Selain itu, sebelum ia menjadi anggota Polri, Almarhum Briptu Suherman juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah menyerah dalam menjalankan sesuatu yang ia kerjakan. Termasuk ketika ia baru saja ingin mewujudkan cita-citanya menjadi polisi.
Dalam perjalanannya, Suherman terus berusaha mengikuti seluruh seleksi hingga tiga kali kandas ditengah jalan. Namun, dengan prinsipnya yang tak mau menyerah, ia terus berusaha hingga keempat kalinya mendaftar, akhirnya ia pun diterima.
Apa mau dikata, selama tiga tahun mengembang tugas sebagai abdi Negara, Suherman akhirnya wafat dalam tugas saat melakukan penangkapan terhadap terduga teroris di Solo, Jawa Tengah (Jateng), pada Jum’at 31 Agustus 2012 malam.
Akbar Arsad dan Tahiran, kedua orang tua Suherman, hanya bisa pasrah dengan meninggalnya anak pertamanya itu dalam melakukan penyergapan terhadap terduga teroris di Solo, Jum’at malam.
Briptu Suherman yang lahir pada 9 Oktober 1988, di Desa Padalloang Kecamatan Atampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), merupakan anak pertama dari pasangan Akbar Arsad (44) dan Tahira (41). Dia memiliki seorang adik perempuan yang kini tinggal bersama orang tuanya.
Dalam keluarganya, meski tidak bersama kedua orang tuanya, sebagai anak pertama yang juga dianggap sudah mapan, Suherman merupakan tulang punggung dalam keluarganya. Orangtuanya hanya seorang petani di Desa tempat ia tinggal saat ini.
Bagaimana dengan perilaku keseharian almarhum Briptu Suherman di mata keluarga dan rekan-rekan? Ternyata Suherman memang dikenal sosok yang sangat baik dan ramah. Ia juga adalah sosok yang penyayang. Tak hanya pada keluarganya, kepada teman-temannya pun ia anggap sebagai saudaranya.
Selain itu, sebelum ia menjadi anggota Polri, Almarhum Briptu Suherman juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah menyerah dalam menjalankan sesuatu yang ia kerjakan. Termasuk ketika ia baru saja ingin mewujudkan cita-citanya menjadi polisi.
Dalam perjalanannya, Suherman terus berusaha mengikuti seluruh seleksi hingga tiga kali kandas ditengah jalan. Namun, dengan prinsipnya yang tak mau menyerah, ia terus berusaha hingga keempat kalinya mendaftar, akhirnya ia pun diterima.
Apa mau dikata, selama tiga tahun mengembang tugas sebagai abdi Negara, Suherman akhirnya wafat dalam tugas saat melakukan penangkapan terhadap terduga teroris di Solo, Jawa Tengah (Jateng), pada Jum’at 31 Agustus 2012 malam.
(ysw)