Konservasi Penyu Abadi lepas ratusan tukik
Sabtu, 01 September 2012 - 06:00 WIB
Konservasi Penyu Abadi lepas ratusan tukik
A
A
A
Sindonews.com - Kelompok konservasi penyu 'Penyu Abadi' Desa Banaran Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, berhasil menetaskan 330 ekor tukik atau anak penyu. Secara bertahap anak penyu ini, dilepaskan kehabitat alaminya di Patai Trisik, Kulonprogo.
Ketua Konservasi Penyu Abadi Joko Samudro mengatakan, hampir setiap tahu Pantai Trisik, selalu menjadi lokasi bagi penyu untuk bertelur. Sayangnya jumlah penyu yang bersarang ini setiap tahun terus menurun. Jika pada 2004 silam, lebih dari 100 penyu, pada 2010 tinggal 17 ekor yang bertelur. Sedangkan 2012 ini, turun dan hanya sekitar 4 ekor penyu.
"Setiap tahun pantai ini menjadi lokasi bersarang penyu untuk bertelur," jelas Joko, di Yogyakarta, Jumat 31 Agutus 2012.
Dari empat sarang yang ditemukan terdapat 350 telur. Setelah ditetaskan secara alami, hanya menetas 330 ekor. Dari jumlah ini banyak yang terserang jamur dan sudah 60 ekor dilepaskan dua hari sebelumnya.
Sebelumnya ada, 170 ekor tukik yang dilepasliarkan bersama dengan anak-anak SD dan TK. Sisanya ada yang mati dan yang masih dikarantina.
Pelepasan tersebut, merupakan pelepasan ketujuh kali. Hampir setiap tahun secara rutin, warga sekitar melepas tukik yang ditetaskan. Ini menjadi salah satu upaya menjaga lestarinya habitat tukik di Kulonprogo.
Apalagi kini hanya tinggal jenis penyu hijau saja yang ditemui. Padahal dulunya, berbagai jenis penyu juga bersarang di sini.
"Kita ingin mempertahankan kawasan Trisik sebagai kawasan habitat penyu. Makanya setiap ada telur penyu yang ditemukan kita tetaskan," tutur pria yang menjabat kepala dukuh Trisik ini.
Untuk melestarikan penyu tersebut, konservasi Penyu Abadi ini melakukan secara mandiri. Mereka tidak mendapatkan alokasi dana dari pihak manapun. Termasuk dari Dinas Kebudayaan pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudparpora).
Padahal dengan aktivitas yang dilakukan menjadi bagian untuk mengembangkan pariwisata. "Untuk membasmi jamur,kita kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan UGM," jelasnya.
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulonprogo Endang Purwaningrum mengatakan, penyu merupakan salah satu satwa langka sesuai dengan UU No 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam sistem dan hayati.
Untuk itulah langkah yang dilakukan kelompok Penyu Abadi harus dicontoh dan didukung. "Ini bagian dari upaya pelestarian satwa langka yang harus didukung," ujar Endang.
Kepala Resort Polisi Hutan Kulonprogo Gunadi menambahkan, kawasan yang diminati penyu ini berada di sekitar muara Sungai Progo yang membentang dari Pantai Trisik dan dengan Pantai Bugel. Selain penyu hijau, masih ada penyu belimbing yang kerap mendarat. Namun belakangan habitat satwa ini terus menyusut, dan tinggal penyu hijau saja.
Diakuinya, untuk melestarikan penyu seperti ini sangatlah sulit. Penyu yang bisa ditetaskan belum tentu bisa bertahan hidup di laut. Sebab banyak predator yang akan memangsanya. Sedangkan jika dilepaskan dalam usia sudah akan sulit karena serangan jamur.
"Ada satu yang hidup, itu sudah bagus. Karena predatornya sangat banyak," katanya.
Ketua Konservasi Penyu Abadi Joko Samudro mengatakan, hampir setiap tahu Pantai Trisik, selalu menjadi lokasi bagi penyu untuk bertelur. Sayangnya jumlah penyu yang bersarang ini setiap tahun terus menurun. Jika pada 2004 silam, lebih dari 100 penyu, pada 2010 tinggal 17 ekor yang bertelur. Sedangkan 2012 ini, turun dan hanya sekitar 4 ekor penyu.
"Setiap tahun pantai ini menjadi lokasi bersarang penyu untuk bertelur," jelas Joko, di Yogyakarta, Jumat 31 Agutus 2012.
Dari empat sarang yang ditemukan terdapat 350 telur. Setelah ditetaskan secara alami, hanya menetas 330 ekor. Dari jumlah ini banyak yang terserang jamur dan sudah 60 ekor dilepaskan dua hari sebelumnya.
Sebelumnya ada, 170 ekor tukik yang dilepasliarkan bersama dengan anak-anak SD dan TK. Sisanya ada yang mati dan yang masih dikarantina.
Pelepasan tersebut, merupakan pelepasan ketujuh kali. Hampir setiap tahun secara rutin, warga sekitar melepas tukik yang ditetaskan. Ini menjadi salah satu upaya menjaga lestarinya habitat tukik di Kulonprogo.
Apalagi kini hanya tinggal jenis penyu hijau saja yang ditemui. Padahal dulunya, berbagai jenis penyu juga bersarang di sini.
"Kita ingin mempertahankan kawasan Trisik sebagai kawasan habitat penyu. Makanya setiap ada telur penyu yang ditemukan kita tetaskan," tutur pria yang menjabat kepala dukuh Trisik ini.
Untuk melestarikan penyu tersebut, konservasi Penyu Abadi ini melakukan secara mandiri. Mereka tidak mendapatkan alokasi dana dari pihak manapun. Termasuk dari Dinas Kebudayaan pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudparpora).
Padahal dengan aktivitas yang dilakukan menjadi bagian untuk mengembangkan pariwisata. "Untuk membasmi jamur,kita kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan UGM," jelasnya.
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulonprogo Endang Purwaningrum mengatakan, penyu merupakan salah satu satwa langka sesuai dengan UU No 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam sistem dan hayati.
Untuk itulah langkah yang dilakukan kelompok Penyu Abadi harus dicontoh dan didukung. "Ini bagian dari upaya pelestarian satwa langka yang harus didukung," ujar Endang.
Kepala Resort Polisi Hutan Kulonprogo Gunadi menambahkan, kawasan yang diminati penyu ini berada di sekitar muara Sungai Progo yang membentang dari Pantai Trisik dan dengan Pantai Bugel. Selain penyu hijau, masih ada penyu belimbing yang kerap mendarat. Namun belakangan habitat satwa ini terus menyusut, dan tinggal penyu hijau saja.
Diakuinya, untuk melestarikan penyu seperti ini sangatlah sulit. Penyu yang bisa ditetaskan belum tentu bisa bertahan hidup di laut. Sebab banyak predator yang akan memangsanya. Sedangkan jika dilepaskan dalam usia sudah akan sulit karena serangan jamur.
"Ada satu yang hidup, itu sudah bagus. Karena predatornya sangat banyak," katanya.
(mhd)