Din: Suryadharma Ali ketinggalan zaman
Rabu, 29 Agustus 2012 - 03:42 WIB
Din: Suryadharma Ali ketinggalan zaman
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengaku sangat menyesalkan kekerasan yang menimpa Muslim Syiah di Sampang, Madura. Din menilai, konflik Sunni-Syiah bermuatan agama bukan konflik sosial, keluarga, atau tindak kriminal biasa.
Ironisnya kekerasan itu terjadi setelah Idul Fitri disaat umat Muslim saling memaafkan. Di tingkat global, sedang terjadi proses dialog antara Sunni-Syiah. Din sendiri mengikuti proses dialog ini dengan para ulama dan tokoh Sunni-Syiah di antaranya para Syeh dari Universitas Al Azhar.
"Di Indonesia seyogyanya seperti itu (dialog) terhadap saudara yang Syiah. Supaya tidaklah menjadi korban kekerasan yang kita lakukan," ujar Din, usai silaturahmi Idul Fitri di Unisba, Bandung, Selasa (28/8/2012).
Din juga mengkritik Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali yang baru menyarankan dialog Sunni-Syiah baru-baru ini, setelah kekerasan terhadap warga Syiah Sampang berulangkali meletus. Menag dinilainya ketinggalan zaman.
"Menag minta kembangkan dialog baru sekarang, itu ketinggalan zaman. Sementara beliau pernah nyatakan Syiah itu sesat," katanya.
Menurutnya, setiap perbedaan pendapat maupun keyakinan Sunni-Syiah sebaiknya diselesaikan dengan dialog, tanpa dengan kekerasan. Din menyarankan, semua pihak harus mengedepankan sikap toleransi.
"Kita harus tolerir sambil mengembangkan dialog, tapi bagian pelanggaran HAM-nya, atau pelanggaran hukum, itu tugas negara," katanya.
Lanjut Din, negara jangan takut dan jangan berpihak kepada salah satu pihak. Jika negara berpihak malah akan mendorong masyarakat untuk lebih beringas lagi. Din berharap, kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tidak terulang kembali.
Ironisnya kekerasan itu terjadi setelah Idul Fitri disaat umat Muslim saling memaafkan. Di tingkat global, sedang terjadi proses dialog antara Sunni-Syiah. Din sendiri mengikuti proses dialog ini dengan para ulama dan tokoh Sunni-Syiah di antaranya para Syeh dari Universitas Al Azhar.
"Di Indonesia seyogyanya seperti itu (dialog) terhadap saudara yang Syiah. Supaya tidaklah menjadi korban kekerasan yang kita lakukan," ujar Din, usai silaturahmi Idul Fitri di Unisba, Bandung, Selasa (28/8/2012).
Din juga mengkritik Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali yang baru menyarankan dialog Sunni-Syiah baru-baru ini, setelah kekerasan terhadap warga Syiah Sampang berulangkali meletus. Menag dinilainya ketinggalan zaman.
"Menag minta kembangkan dialog baru sekarang, itu ketinggalan zaman. Sementara beliau pernah nyatakan Syiah itu sesat," katanya.
Menurutnya, setiap perbedaan pendapat maupun keyakinan Sunni-Syiah sebaiknya diselesaikan dengan dialog, tanpa dengan kekerasan. Din menyarankan, semua pihak harus mengedepankan sikap toleransi.
"Kita harus tolerir sambil mengembangkan dialog, tapi bagian pelanggaran HAM-nya, atau pelanggaran hukum, itu tugas negara," katanya.
Lanjut Din, negara jangan takut dan jangan berpihak kepada salah satu pihak. Jika negara berpihak malah akan mendorong masyarakat untuk lebih beringas lagi. Din berharap, kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang tidak terulang kembali.
(san)