Kebakaran di Jakarta naik
Selasa, 28 Agustus 2012 - 08:19 WIB
Kebakaran di Jakarta naik
A
A
A
Sindonews.com - Polda Metro Jaya mencatat peristiwa kebakaran di DKI Jakarta selama Operasi Ketupat Jaya 2012 yang dimulai 11–26 Agustus, sebanyak 58 kasus kebakaran. Jumlah ini meningkat 61 persen dibandingkan satu bulan sebelum Operasi Ketupat Jaya dilaksanakan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menerangkan, berdasarkan data yang dihimpun Polda Metro Jaya, sebulan sebelum pelaksanaan Operasi Ketupat Jaya, peristiwa kebakaran di DKI Jakarta tercatat 33 kasus kebakaran. Namun dalam 16 hari pelaksanaan operasi tersebut, jumlah kebakaran di DKI Jakarta tercatat sebanyak 58 kasus.
Penyebab kebakaran yang terjadi Jakarta didominasi oleh korsleting listrik sebanyak 37 kasus, gas meledak 3 kasus, dan penyebab lainnya 18 kasus. “Semua penyebab kebakaran masih terbilang rasional dan alamiah. Sejauh ini kasus kebakaran tidak terkait pilkada,” tegasnya di Jakarta, Senin, 27 Agustus 2012.
Untuk diketahui, intensitas peristiwa kebakaran di sejumlah wilayah DKI Jakarta meningkat dalam kurun waktu sebulan terakhir. Kasus terbaru, kebakaran terjadi di Jalan Kartini IV, Sawah Besar, Jakarta Pusat, kemarin siang. Dalam kebakaran ini, delapan rumah warga di RT 14/6 hangus diamuk si jago merah.
Kasi Operasional Sudin Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Pusat Ahmad Lamping mengatakan, api berhasil dipadamkan setelah hampir satu jam berkobar. Untuk memadamkan api, sekitar 21 mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi kejadian.
Menurut Ahmad, tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini. Adapun penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik di salah satu rumah warga. Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta Paimin Napitupulu mengungkapkan, selama periode Januari–Agustus angka kebakaran di DKI Jakarta 662 kasus.
Dari jumlah kasus tersebut, wilayah Jakarta Timur menjadi penyumbang terbesar dengan peristiwa kebakaran mencapai 174 kasus. Di urutan kedua Jakarta Barat 143 kasus, Jakarta Utara 127 kasus, Jakarta Selatan 126 kasus, dan Jakarta Pusat 89 kasus. Akibat kebakaran ini, 31 warga meninggal dunia dan 70 warga lainnya mengalami luka-luka, sementara 12 petugas pemadam mengalami luka-luka.
“Kerugian materi akibat kebakaran di DKI Jakarta diperkirakan mencapai Rp204,169 miliar,” ungkap Paimin.
Khusus untuk periode Ramadan hingga Idul Fitri, Dinas Damkar dan PB mencatat terjadi 31 kasus kebakaran. Kasus kebakaran banyak terjadi saat penghuni rumah sedang tidak di tempat atau sedang mudik untuk menghabiskan waktu liburan Lebaran. Paimin menyebutkan, korsleting listrik menjadi penyebab tertinggi kasus kebakaran sebanyak 443 kasus, diikuti kompor meledak 66 kasus, rokok 27 kasus, dan lain-lain 126 kasus.
Menurut Paimin, tingginya penyebab kebakaran akibat arus pendek listrik ini lantaran di lokasi kebakaran tersebut banyak warga menggunakan alat listrik tidak standar, sehingga beban arus listrik menimbulkan korsleting dan membakar rumah warga.
Amukan si jago merah pun sangat mudah menjalar karena kebakaran kerap terjadi di kawasan permukiman padat. Banyak kasus kebakaran di DKI Jakarta ini membuat Paimin mengimbau kepada warga lebih waspada dan melakukan pencegahan sejak dini.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menerangkan, berdasarkan data yang dihimpun Polda Metro Jaya, sebulan sebelum pelaksanaan Operasi Ketupat Jaya, peristiwa kebakaran di DKI Jakarta tercatat 33 kasus kebakaran. Namun dalam 16 hari pelaksanaan operasi tersebut, jumlah kebakaran di DKI Jakarta tercatat sebanyak 58 kasus.
Penyebab kebakaran yang terjadi Jakarta didominasi oleh korsleting listrik sebanyak 37 kasus, gas meledak 3 kasus, dan penyebab lainnya 18 kasus. “Semua penyebab kebakaran masih terbilang rasional dan alamiah. Sejauh ini kasus kebakaran tidak terkait pilkada,” tegasnya di Jakarta, Senin, 27 Agustus 2012.
Untuk diketahui, intensitas peristiwa kebakaran di sejumlah wilayah DKI Jakarta meningkat dalam kurun waktu sebulan terakhir. Kasus terbaru, kebakaran terjadi di Jalan Kartini IV, Sawah Besar, Jakarta Pusat, kemarin siang. Dalam kebakaran ini, delapan rumah warga di RT 14/6 hangus diamuk si jago merah.
Kasi Operasional Sudin Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Pusat Ahmad Lamping mengatakan, api berhasil dipadamkan setelah hampir satu jam berkobar. Untuk memadamkan api, sekitar 21 mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi kejadian.
Menurut Ahmad, tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini. Adapun penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik di salah satu rumah warga. Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta Paimin Napitupulu mengungkapkan, selama periode Januari–Agustus angka kebakaran di DKI Jakarta 662 kasus.
Dari jumlah kasus tersebut, wilayah Jakarta Timur menjadi penyumbang terbesar dengan peristiwa kebakaran mencapai 174 kasus. Di urutan kedua Jakarta Barat 143 kasus, Jakarta Utara 127 kasus, Jakarta Selatan 126 kasus, dan Jakarta Pusat 89 kasus. Akibat kebakaran ini, 31 warga meninggal dunia dan 70 warga lainnya mengalami luka-luka, sementara 12 petugas pemadam mengalami luka-luka.
“Kerugian materi akibat kebakaran di DKI Jakarta diperkirakan mencapai Rp204,169 miliar,” ungkap Paimin.
Khusus untuk periode Ramadan hingga Idul Fitri, Dinas Damkar dan PB mencatat terjadi 31 kasus kebakaran. Kasus kebakaran banyak terjadi saat penghuni rumah sedang tidak di tempat atau sedang mudik untuk menghabiskan waktu liburan Lebaran. Paimin menyebutkan, korsleting listrik menjadi penyebab tertinggi kasus kebakaran sebanyak 443 kasus, diikuti kompor meledak 66 kasus, rokok 27 kasus, dan lain-lain 126 kasus.
Menurut Paimin, tingginya penyebab kebakaran akibat arus pendek listrik ini lantaran di lokasi kebakaran tersebut banyak warga menggunakan alat listrik tidak standar, sehingga beban arus listrik menimbulkan korsleting dan membakar rumah warga.
Amukan si jago merah pun sangat mudah menjalar karena kebakaran kerap terjadi di kawasan permukiman padat. Banyak kasus kebakaran di DKI Jakarta ini membuat Paimin mengimbau kepada warga lebih waspada dan melakukan pencegahan sejak dini.
(lil)