Pesawat ditemukan hancur di bukit
Senin, 27 Agustus 2012 - 08:04 WIB
Pesawat ditemukan hancur di bukit
A
A
A
Sindonews.com - Pesawat PA 31-350 Navajo Chieftain registrasi PK-IWH akhirnya ditemukan tim SAR kemarin sekitar pukul 17.25 Wita, di areal konsesi pertambangan Indominco, Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim).
Pesawat diperkirakan menabrak bukit, karena ditemukan di ketinggian 1.300 kaki dengan kemiringan 70–80 derajat di Bukit Mayang, Kutai Timur. Kondisi pesawat hancur dan terbakar, sementara seluruh penumpang tewas. Tadi malam, tim SAR dibantu tim DVI dari mabes Polri masih melakukan evakuasi.
"Ditemukan sekira pukul 17.25 Wita oleh tiga anggota Brimob, dan satu anggota tim SAR. Tapi saat itu belum bisa dikonfirmasi. Setelah disusul Kapolres, Dandim, dan Wakil Bupati Kutai Timur, pukul 20.45 Wita, kita pastikan pesawat dan korban dalam keadaan hangus terbakar,” jelas Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Rusli Nasution dalam keterangan resmi di Samarinda, Minggu 26 Agustus 2012 malam.
Seluruh jenazah sudah dimasukkan ke kantong mayat, dan dibawa ke bagian bawah bukit. "Untuk cari potongan lain, kita coba telusuri sampai bawah. Kondisi korban hangus. Pesawat diduga menabrak bukit,” ujarnya.
Jenazah korban akan langsung dibawa ke RS Wahab Syahrani, Samarinda, melalui jalur darat. Sebelum pesawat ditemukan, pencarian difokuskan di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) dan sekitarnya. Pencarian mengalami kesulitan, karena luasnya wilayah dan belum tersisir semua.
"TNK yang masuk dalam kawasan Kutai Timur ini memiliki luas hampir 200.000 ha," kata CEO PT Intan Angkasa Carl Albillot.
Menurut Carl, sebelum hilang, pesawat dalam kondisi baik dan sempat dua kali digunakan pada Kamis 23 Agustus 2012 lalu. Saat itu kondisi pesawat juga baik.
Pesawat itu dibeli sekitar 10 tahun silam. Bahkan pada 2006, PT Intan Angkasa melakukan pergantian mesin baru yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat. "Pesawat dalam kondisi bagus, sudah beroperasi selama 8.000 jam. Kemungkinan dugaan kami karena faktor cuaca,” tuturnya.
Diketahui, pesawat dengan empat penumpang hilang kontak tak lama setelah take off dari Bandara Temindung, Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat 24 Agustus 2012 lalu, sekira pukul 07.51 Wita. Empat penumpang pesawat tersebut adalah pilot Captain Marshal Basir, GM Elliott Geophysics International (EGI) Peter John Elliott (berkebangsaan Australia), Officer Manager EGI Jandri Hendrizal, dan security officer dari Kementerian Pertahanan Kapten Suyoto.
Pesawat milik maskapai penerbangan PT Intan Angkasa ini disewa EGI untuk survei pemetaan di wilayah areal pertambangan PT Tambang Damai Bontang, Kota Bontang selama empat jam. Chief pilot PT Intan Perkasa Widi menjelaskan, emergency locator transmitter (ELT) di badan pesawat dalam kondisi bagus.
Menurutnya, ELT tidak menyala karena dua kemungkinan. "Tidak menyala kalau mendarat mulus atau emergency dengan kondisi pesawat hancur. Kemungkinan rusak karena hancur itu bisa juga terjadi,” jelasnya.
Pesawat diperkirakan menabrak bukit, karena ditemukan di ketinggian 1.300 kaki dengan kemiringan 70–80 derajat di Bukit Mayang, Kutai Timur. Kondisi pesawat hancur dan terbakar, sementara seluruh penumpang tewas. Tadi malam, tim SAR dibantu tim DVI dari mabes Polri masih melakukan evakuasi.
"Ditemukan sekira pukul 17.25 Wita oleh tiga anggota Brimob, dan satu anggota tim SAR. Tapi saat itu belum bisa dikonfirmasi. Setelah disusul Kapolres, Dandim, dan Wakil Bupati Kutai Timur, pukul 20.45 Wita, kita pastikan pesawat dan korban dalam keadaan hangus terbakar,” jelas Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Rusli Nasution dalam keterangan resmi di Samarinda, Minggu 26 Agustus 2012 malam.
Seluruh jenazah sudah dimasukkan ke kantong mayat, dan dibawa ke bagian bawah bukit. "Untuk cari potongan lain, kita coba telusuri sampai bawah. Kondisi korban hangus. Pesawat diduga menabrak bukit,” ujarnya.
Jenazah korban akan langsung dibawa ke RS Wahab Syahrani, Samarinda, melalui jalur darat. Sebelum pesawat ditemukan, pencarian difokuskan di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) dan sekitarnya. Pencarian mengalami kesulitan, karena luasnya wilayah dan belum tersisir semua.
"TNK yang masuk dalam kawasan Kutai Timur ini memiliki luas hampir 200.000 ha," kata CEO PT Intan Angkasa Carl Albillot.
Menurut Carl, sebelum hilang, pesawat dalam kondisi baik dan sempat dua kali digunakan pada Kamis 23 Agustus 2012 lalu. Saat itu kondisi pesawat juga baik.
Pesawat itu dibeli sekitar 10 tahun silam. Bahkan pada 2006, PT Intan Angkasa melakukan pergantian mesin baru yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat. "Pesawat dalam kondisi bagus, sudah beroperasi selama 8.000 jam. Kemungkinan dugaan kami karena faktor cuaca,” tuturnya.
Diketahui, pesawat dengan empat penumpang hilang kontak tak lama setelah take off dari Bandara Temindung, Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat 24 Agustus 2012 lalu, sekira pukul 07.51 Wita. Empat penumpang pesawat tersebut adalah pilot Captain Marshal Basir, GM Elliott Geophysics International (EGI) Peter John Elliott (berkebangsaan Australia), Officer Manager EGI Jandri Hendrizal, dan security officer dari Kementerian Pertahanan Kapten Suyoto.
Pesawat milik maskapai penerbangan PT Intan Angkasa ini disewa EGI untuk survei pemetaan di wilayah areal pertambangan PT Tambang Damai Bontang, Kota Bontang selama empat jam. Chief pilot PT Intan Perkasa Widi menjelaskan, emergency locator transmitter (ELT) di badan pesawat dalam kondisi bagus.
Menurutnya, ELT tidak menyala karena dua kemungkinan. "Tidak menyala kalau mendarat mulus atau emergency dengan kondisi pesawat hancur. Kemungkinan rusak karena hancur itu bisa juga terjadi,” jelasnya.
(lil)