Kemarau, warga mandi 'bongen' di Sungai Musi
Minggu, 26 Agustus 2012 - 18:37 WIB
Kemarau, warga mandi 'bongen' di Sungai Musi
A
A
A
MUSIM kemarau yang berkepanjangan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dimanfaatkan warga yang umumnya tinggal di sekitar aliran Sungai Musi untuk melakukan tradisi tahunan yaitu mandi bongen.
Bagi sebagian warga Muba, bongen merupakan hamparan pasir sungai yang tampak dipermukaan karena air sungai surut akibat musim kemarau. Dan warga menyebutkan pasir pantai karena tidak jauh berbeda dengan pantai yang ada di laut.
Debit air sungai musi sejak beberapa bulan terakhir sudah berkurang sehingga dasar permukaan pinggir sungai sudah terlihat. Kondisi ini digunakan warga untuk berekreasi atau sekedar nongkrong di pinggir sungai. Ada yang mandi dan ada juga digunakan untuk tempat olahraga seperti lapangan bola dan voli.
"Kalau musim kemarau yang datang setahun sekali, tradisi ini sering kami lakukan. itu tergantung ada hujan atau tidak. Kalau tidak hujan, pasirnya terlihat dan sering dijadikan lapangan bola kaki dan voli," ujar Imah warga Sekayu menjelaskan kepada wartawan, Minggu (26/8/2012).
Menurutnya, bongen yang luas berada di belakang Rumah Dinas Wakil Bupati Muba, yang tak jauh dari Pasar Perjuangan. Ia menuturkan, pada saat bongen luas, siapapun bisa menyeberang Sungai Musi dengan berjalan kaki, dikarenakan aliran sungai yang surut. Kalaupun ada menurutnya, tidak terlalu dalam air sungainya.
Selain itu, pada saat bongen luas, banyak masyarakat yang mandi di atas pasir karena airnya terasa lebih segar. Bahkan, bongen ini akan dipenuhi masyarakat berbagai usia dari pagi hingga sore hari.
"Pasir sungai yang surut tampak luas seperti lapangan bola," tambah Rosimah.
Namun jelasnya harus hati-hati jangan terjebak mandi ke tempat air yang dalam. Karena pernah ada anak-anak tenggelam karena kurang hati-hati mandi bongen.
Sedangkan warga lain, Yusuf (18) menuturkan, pada saat bongen, ia selalu bermain sepakbola bersama temannya di atas pasir. Ia menuturkan, suasana alamnya seperti berada di pantai.
"Enaknya mandi karena airnya jernih lain dari biasanya. Apalagi mandinya saat musim kemarau ini," jelasnya.
Hendra menuturkan, pada saat bongen luas, ia terkadang menemukan perahu yang karam berikut jangkarnya. Selain itu, banyak juga batu kerikil di dasar sungai. Namun, satu hal yang paling membuatnya senang yakni menguburkan diri di dalam pasir Sungai Musi.
Menyikapi tradisi warga itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Musi Banyuasin, Sunaryo, menuturkan, tradisi mandi bongen ini kejadian alam tahunan tersebut. Menurutnya, Mandi Bongen akan menjadi agenda untuk dipromosikan menjadi objek wisata.
"Mandi bongen ini menjadi tradisi di Sekayu dan sekitarnya. Jadi kita bisa manfaatkan untuk mempromosikan kegiatan wisata ," jelas Sunaryo.
Bagi sebagian warga Muba, bongen merupakan hamparan pasir sungai yang tampak dipermukaan karena air sungai surut akibat musim kemarau. Dan warga menyebutkan pasir pantai karena tidak jauh berbeda dengan pantai yang ada di laut.
Debit air sungai musi sejak beberapa bulan terakhir sudah berkurang sehingga dasar permukaan pinggir sungai sudah terlihat. Kondisi ini digunakan warga untuk berekreasi atau sekedar nongkrong di pinggir sungai. Ada yang mandi dan ada juga digunakan untuk tempat olahraga seperti lapangan bola dan voli.
"Kalau musim kemarau yang datang setahun sekali, tradisi ini sering kami lakukan. itu tergantung ada hujan atau tidak. Kalau tidak hujan, pasirnya terlihat dan sering dijadikan lapangan bola kaki dan voli," ujar Imah warga Sekayu menjelaskan kepada wartawan, Minggu (26/8/2012).
Menurutnya, bongen yang luas berada di belakang Rumah Dinas Wakil Bupati Muba, yang tak jauh dari Pasar Perjuangan. Ia menuturkan, pada saat bongen luas, siapapun bisa menyeberang Sungai Musi dengan berjalan kaki, dikarenakan aliran sungai yang surut. Kalaupun ada menurutnya, tidak terlalu dalam air sungainya.
Selain itu, pada saat bongen luas, banyak masyarakat yang mandi di atas pasir karena airnya terasa lebih segar. Bahkan, bongen ini akan dipenuhi masyarakat berbagai usia dari pagi hingga sore hari.
"Pasir sungai yang surut tampak luas seperti lapangan bola," tambah Rosimah.
Namun jelasnya harus hati-hati jangan terjebak mandi ke tempat air yang dalam. Karena pernah ada anak-anak tenggelam karena kurang hati-hati mandi bongen.
Sedangkan warga lain, Yusuf (18) menuturkan, pada saat bongen, ia selalu bermain sepakbola bersama temannya di atas pasir. Ia menuturkan, suasana alamnya seperti berada di pantai.
"Enaknya mandi karena airnya jernih lain dari biasanya. Apalagi mandinya saat musim kemarau ini," jelasnya.
Hendra menuturkan, pada saat bongen luas, ia terkadang menemukan perahu yang karam berikut jangkarnya. Selain itu, banyak juga batu kerikil di dasar sungai. Namun, satu hal yang paling membuatnya senang yakni menguburkan diri di dalam pasir Sungai Musi.
Menyikapi tradisi warga itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Musi Banyuasin, Sunaryo, menuturkan, tradisi mandi bongen ini kejadian alam tahunan tersebut. Menurutnya, Mandi Bongen akan menjadi agenda untuk dipromosikan menjadi objek wisata.
"Mandi bongen ini menjadi tradisi di Sekayu dan sekitarnya. Jadi kita bisa manfaatkan untuk mempromosikan kegiatan wisata ," jelas Sunaryo.
(azh)